وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Rabu, 22 Juni 2016

LDII Sidoarjo Santuni Anak Yatim Sekitar Ponpes Sruni

PEDULI: Dewan Penasihat LDII Sidoarjo saat memberikan santunan dan bingkisan kepada anak yatim di Aula Ponpes Al Barokah, Sruni.


ldii-sidoarjo.org | Minggu, (19/6) Sore itu, Aula Ponpes Al Barokah Sruni dipenuhi sejumlah anak yatim yang telah rutin mendapat santunan tiap bulannya. Namun, pada kesempatan di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Dewan Penasihat LDII Sidoarjo mengajaknya buka puasa bersama.

Peserta yang berusia balita hingga 15 tahun mengikuti kuis yang diadakan panitia. Dipandu oleh Bella dan Vivi, puluhan hadiah pun terbagi. Tidak lain karena peserta telah benar menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya. 

Dengan berbekal dua lembar kertas berwarna hijau dan merah, peserta yang menjawab benar dituntun maju untuk menghibur temannya. Tidak heran bila wajah polos anak-anak senyum ceria karena ulah temannya. 

Turut hadir, KH. Abdurrahman Shaleh Asaat, Dewan Penasihat LDII Kabupaten Sidoarjo, H. Willy, M.Makhin, S.Pd, serta H. Budi Kriswanto, B.Eng selaku pembina generasi penerus, dan sejumlah pengurus Pondok Pesantren Al Barokah Sruni.

M. Makhin menjelaskan, santunan diberikan secara rutin setiap bulan. Karena saat ini bulan Ramadan, maka dari jajaran dewan penasihat turut mengajak buka bersama. “Acara seperti ini kami adakan setiap bulan. Akan tetapi, karena ini juga bertepatan dengan puasa, maka kami ajak pula untuk buka bersama.”


Menurutnya, acara ini sebagai media untuk menjembatani donatur (aghniya’) dengan anak yatim. “Harapan kami ke depan agar lebih banyak lagi donaturnya yang mau menyalurkan hartanya. Sehingga nominal yang kami salurkan pun bisa menjadi lebih banyak jumlahnya,” jelas Makhin.

Selain itu dia juga berharap, agar anak yatim bisa merasa bahagia seperti orang yang lainnya. Melalui forum seperti ini ia harap dapat mempertahankan semangat dalam beribadah dan dalam hal mencari ilmu. Supaya bisa sejahtera hidupnya di masa yang akan datang.

“Yang kami undang anak yatim di sekitar Ponpes Sruni. Yang hadir ada 37 anak. Tahun kemarin 35. Ada juga yang baru beberapa waktu lalu orang tuanya meninggal, kami undang juga anaknya di sini,” ungkap Makhin.

Budi Kriswanto selaku pembina generasi penerus mengungkapkan, ingin lebih dekat dengan anak-anak yatim yang ada di sekitar Ponpes Sruni. “Kita ingin lebih dekat dengan para peserta,jelasnya.

Sejumlah anak yatim sedang mengikuti game berhadiah.
Berbeda dari acara yang dihelat tahun lalu, pada saat ini tidak menghadirkan badut penghibur. “Setelah kami evaluasi, tahun lalu ada beberapa anak yang ketakutan dengan badut. Maka pada acara tahun ini kami sepakati tidak menghadirkan badut. Kalau acara ini tadi evaluasinya dengan hasil yang baik, maka insya Allah akan kami teruskan konsep yang seperti ini untuk tahun depan,” ungkap Budi.
 
Tidak hanya datang sendirian, peserta didampingi oleh salah satu orang tua yang masih ada, guru pendamping, dan Dewan Penasihat tingkat PAC. Lia (21) sebagai guru pendamping sangat bersyukur jika diadakan acara seperti ini. “Alhamdulillah di sini diadakan acara seperti ini, murid saya yang sebagian merupakan anak yatim pun tetap dianggap. Mereka insya Allah akan lebih senang, walaupun mungkin lebaran tidak bersama orang tuanya,” ungkapnya yang juga merupakan guru pendamping di PAC Karangbong.

Seorang peserta yang masih duduk di bangku TK mengakui baru saja ayahnya meninggal. “Ayah barusan meninggal. Jadi lebaran ini tidak ada ayah di rumah. Enak an pas ada ayah. Nadin kangen bisa sama ayah lagi,” ungkap Nadin, peserta yang masih berumur tujuh tahun asal Wage, Sidoarjo.

Salimah (28), ibu dari Nadin membenarkan jika suaminya telah meninggal dua tahun lalu. “Suami saya telah meninggal dua tahun lalu. Lebaran nanti ya saya harus mengurus anak sendirian. Alhamdulillah dengan diadakannya acara yang seperti ini, anak saya bisa menjadi lebih senang. Santunan yang diberikan juga sangat membantu, tutupnya sembari mengingat masa lalu. (N/F: Wawan)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

LDII Sidoarjo Santuni Anak Yatim Sekitar Ponpes Sruni

PEDULI: Dewan Penasihat LDII Sidoarjo saat memberikan santunan dan bingkisan kepada anak yatim di Aula Ponpes Al Barokah, Sruni.


ldii-sidoarjo.org | Minggu, (19/6) Sore itu, Aula Ponpes Al Barokah Sruni dipenuhi sejumlah anak yatim yang telah rutin mendapat santunan tiap bulannya. Namun, pada kesempatan di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Dewan Penasihat LDII Sidoarjo mengajaknya buka puasa bersama.

Peserta yang berusia balita hingga 15 tahun mengikuti kuis yang diadakan panitia. Dipandu oleh Bella dan Vivi, puluhan hadiah pun terbagi. Tidak lain karena peserta telah benar menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya. 

Dengan berbekal dua lembar kertas berwarna hijau dan merah, peserta yang menjawab benar dituntun maju untuk menghibur temannya. Tidak heran bila wajah polos anak-anak senyum ceria karena ulah temannya. 

Turut hadir, KH. Abdurrahman Shaleh Asaat, Dewan Penasihat LDII Kabupaten Sidoarjo, H. Willy, M.Makhin, S.Pd, serta H. Budi Kriswanto, B.Eng selaku pembina generasi penerus, dan sejumlah pengurus Pondok Pesantren Al Barokah Sruni.

M. Makhin menjelaskan, santunan diberikan secara rutin setiap bulan. Karena saat ini bulan Ramadan, maka dari jajaran dewan penasihat turut mengajak buka bersama. “Acara seperti ini kami adakan setiap bulan. Akan tetapi, karena ini juga bertepatan dengan puasa, maka kami ajak pula untuk buka bersama.”


Menurutnya, acara ini sebagai media untuk menjembatani donatur (aghniya’) dengan anak yatim. “Harapan kami ke depan agar lebih banyak lagi donaturnya yang mau menyalurkan hartanya. Sehingga nominal yang kami salurkan pun bisa menjadi lebih banyak jumlahnya,” jelas Makhin.

Selain itu dia juga berharap, agar anak yatim bisa merasa bahagia seperti orang yang lainnya. Melalui forum seperti ini ia harap dapat mempertahankan semangat dalam beribadah dan dalam hal mencari ilmu. Supaya bisa sejahtera hidupnya di masa yang akan datang.

“Yang kami undang anak yatim di sekitar Ponpes Sruni. Yang hadir ada 37 anak. Tahun kemarin 35. Ada juga yang baru beberapa waktu lalu orang tuanya meninggal, kami undang juga anaknya di sini,” ungkap Makhin.

Budi Kriswanto selaku pembina generasi penerus mengungkapkan, ingin lebih dekat dengan anak-anak yatim yang ada di sekitar Ponpes Sruni. “Kita ingin lebih dekat dengan para peserta,jelasnya.

Sejumlah anak yatim sedang mengikuti game berhadiah.
Berbeda dari acara yang dihelat tahun lalu, pada saat ini tidak menghadirkan badut penghibur. “Setelah kami evaluasi, tahun lalu ada beberapa anak yang ketakutan dengan badut. Maka pada acara tahun ini kami sepakati tidak menghadirkan badut. Kalau acara ini tadi evaluasinya dengan hasil yang baik, maka insya Allah akan kami teruskan konsep yang seperti ini untuk tahun depan,” ungkap Budi.
 
Tidak hanya datang sendirian, peserta didampingi oleh salah satu orang tua yang masih ada, guru pendamping, dan Dewan Penasihat tingkat PAC. Lia (21) sebagai guru pendamping sangat bersyukur jika diadakan acara seperti ini. “Alhamdulillah di sini diadakan acara seperti ini, murid saya yang sebagian merupakan anak yatim pun tetap dianggap. Mereka insya Allah akan lebih senang, walaupun mungkin lebaran tidak bersama orang tuanya,” ungkapnya yang juga merupakan guru pendamping di PAC Karangbong.

Seorang peserta yang masih duduk di bangku TK mengakui baru saja ayahnya meninggal. “Ayah barusan meninggal. Jadi lebaran ini tidak ada ayah di rumah. Enak an pas ada ayah. Nadin kangen bisa sama ayah lagi,” ungkap Nadin, peserta yang masih berumur tujuh tahun asal Wage, Sidoarjo.

Salimah (28), ibu dari Nadin membenarkan jika suaminya telah meninggal dua tahun lalu. “Suami saya telah meninggal dua tahun lalu. Lebaran nanti ya saya harus mengurus anak sendirian. Alhamdulillah dengan diadakannya acara yang seperti ini, anak saya bisa menjadi lebih senang. Santunan yang diberikan juga sangat membantu, tutupnya sembari mengingat masa lalu. (N/F: Wawan)