وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Selasa, 01 Desember 2015

Ulama LDII Pelajari Ilmu Bahasa Arab

LDIISidoarjo.org - Setiap muslim mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu. Baik ilmu keduniaan maupun ilmu agama. Dalam Islam kita mengenal istilah ulama, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu dan kefahaman agama yang tinggi. Selanjutnya agar tak menimbulkan pengertian ganda tentang sebuah ilmu, ulama pun memerlukan kemampuan menyampaikan ilmunya dengan baik, jelas, dan lugas.
Banyak cara yang bisa dilakukan  termasuk melalui pembelajaran bahasa Arab. Seperti yang dilakukan para ulama di salah satu masjid binaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) PC Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (27/11).
Sekitar 65 orang ulama mengikuti pembelajaran bahasa Arab yang diajarkan oleh Syekh Kholil, salah satu ulama besar LDII. Materi pembelajaran juga meliputi nahwu shorof.
Saat menyampaikan materi nahwu shorof, Syekh Kholil mengawali dengan memperkenalkan kalimat fiil (kata kerja), dan kalimat isim (kata benda). Pengucapan huruf sesuai makhroj juga menjadi salah satu ajaran. Kemudian Syekh Kholil memberi contoh satu per satu.
“Dengan ilmu nahwu shorof ini akan mempermudah dalam mengartikan Al-Qur’an dan Al-Hadits,” tutur Syekh Kholil yang kala itu mengenakan peci putih.
Lebih lanjut Syekh Kholil menjelaskan, bahwa bahasa Arab sangat kompleks, beda huruf akan berbeda makna. Jumlah huruf atau pengaruh harokat dalam bahasa Arab akan menimbulkan makna berbeda pula.
Karena itu ilmu Nahwu Shorof sangat penting agar ilmu yang disampaikan sesuai dengan pengertian dan maksudnya. Hal ini amat membantu sistem pengajaran di pengajian LDII, dimana sistem pembelajaran kepada santri dilakukan dengan mengartikan tiap kata dari bahasa Arab dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Tujuannya agar santri bisa memahami maksut dari sebuah ayat. (Ita/Riris)

1 komentar :

Rohdi Agam mengatakan...

بَارَكَ اللهُ لَكُمْ يَاإِخْوَان

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Ulama LDII Pelajari Ilmu Bahasa Arab

LDIISidoarjo.org - Setiap muslim mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu. Baik ilmu keduniaan maupun ilmu agama. Dalam Islam kita mengenal istilah ulama, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu dan kefahaman agama yang tinggi. Selanjutnya agar tak menimbulkan pengertian ganda tentang sebuah ilmu, ulama pun memerlukan kemampuan menyampaikan ilmunya dengan baik, jelas, dan lugas.
Banyak cara yang bisa dilakukan  termasuk melalui pembelajaran bahasa Arab. Seperti yang dilakukan para ulama di salah satu masjid binaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) PC Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (27/11).
Sekitar 65 orang ulama mengikuti pembelajaran bahasa Arab yang diajarkan oleh Syekh Kholil, salah satu ulama besar LDII. Materi pembelajaran juga meliputi nahwu shorof.
Saat menyampaikan materi nahwu shorof, Syekh Kholil mengawali dengan memperkenalkan kalimat fiil (kata kerja), dan kalimat isim (kata benda). Pengucapan huruf sesuai makhroj juga menjadi salah satu ajaran. Kemudian Syekh Kholil memberi contoh satu per satu.
“Dengan ilmu nahwu shorof ini akan mempermudah dalam mengartikan Al-Qur’an dan Al-Hadits,” tutur Syekh Kholil yang kala itu mengenakan peci putih.
Lebih lanjut Syekh Kholil menjelaskan, bahwa bahasa Arab sangat kompleks, beda huruf akan berbeda makna. Jumlah huruf atau pengaruh harokat dalam bahasa Arab akan menimbulkan makna berbeda pula.
Karena itu ilmu Nahwu Shorof sangat penting agar ilmu yang disampaikan sesuai dengan pengertian dan maksudnya. Hal ini amat membantu sistem pengajaran di pengajian LDII, dimana sistem pembelajaran kepada santri dilakukan dengan mengartikan tiap kata dari bahasa Arab dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Tujuannya agar santri bisa memahami maksut dari sebuah ayat. (Ita/Riris)