وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Senin, 11 November 2013

Larangan Mencela, Memerangi dan Mengkafirkan Seorang Muslim


Ditulis oleh Ustadz H Abu B Rieswanda (Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Sidoarjo).

Di antara ciri-ciri orang munafik adalah mengaku beriman, padahal tidak. Gemar berdusta. Mereka memusuhi ummat Islam dengan keji. Baik dengan lisan mereka, mau pun dengan tangannya. Tak jarang membunuh sesama Muslim. Allah dan RasulNya melarang kita Su'u zhon/buruk sangka, menghina Muslim, mengkafirkan Muslim, membunuh Muslim




Larangan Mencela dan Memerangi Orang Islam

 Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang muslim adalah suatu kefasikan, sedang memeranginya adalah suatu kekufuran.”
[Diriwayatkan Bukhari dan Muslim]

Termasuk kita dilarang mencela orang yang sudah meninggal

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
Artinya: Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal. Karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa (hasil) yang mereka lakukan (HR. al-Bukhari)
Minggu, 10 November 2013

Hidup Pahlawanku..... Hidup Indonesiaku.....

Hari Pahlawan Nasional di peringati pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlawan yaitu karena pada tanggal 10 bulan November terjadi sebuah pertempuran antara para pahlawan Indonesia melawan para penjajah. Pertempuran terbesar yang mengakibatkan banyaknya korban dari kedua belah pihak. Maka oleh sebab itu tanggal 10 november adalah tanggal yang sangat bersejarah dan sangat pantas untuk kita peringati sebagai hari pahlawan Nasional dan kita selaku para cucu-cucunya berkewajiban untuk menjadikan sejarah yang telah di torehkan oleh para pahlawan Indonesia agar tetap hidup. - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuf
Hari Pahlawan Nasional di peringati pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlawan yaitu karena pada tanggal 10 bulan November terjadi sebuah pertempuran antara para pahlawan Indonesia melawan para penjajah. Pertempuran terbesar yang mengakibatkan banyaknya korban dari kedua belah pihak. Maka oleh sebab itu tanggal 10 november adalah tanggal yang sangat bersejarah dan sangat pantas untuk kita peringati sebagai hari pahlawan Nasional dan kita selaku para cucu-cucunya berkewajiban untuk menjadikan sejarah yang telah di torehkan oleh para pahlawan Indonesia agar tetap hidup. - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuf
i pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlaw - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuf
Hari Pahlawan Nasional di peringati pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlawan yaitu karena pada tanggal 10 bulan November terjadi sebuah pertempuran antara para pahlawan Indonesia melawan para penjajah. Pertempuran terbesar yang mengakibatkan banyaknya korban dari kedua belah pihak. Maka oleh sebab itu tanggal 10 november adalah tanggal yang sangat bersejarah dan sangat pantas untuk kita peringati sebagai hari pahlawan Nasional dan kita selaku para cucu-cucunya berkewajiban untuk menjadikan sejarah yang telah di torehkan oleh para pahlawan Indonesia agar tetap hidup. - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuPara pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan bangsa, negara, aqidah dan memperjuangkan agama Alloh di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak akidah, umat Islam bangkit melawan. Karena bagi kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah.Menjelang tahun 1950-an, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Sebagaimana diusulkan Sumarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ikut ambil bagian dalam peperangan sengit itu.
 
Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November. Hari dimana terjadi pertempuran hebat antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.

Menjelang tahun 1950-an, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Sebagaimana diusulkan Sumarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ikut ambil bagian dalam peperangan sengit itu.

Mau dengerin pidato BUNG TOMO ???

Klik DISINI......


Jihad (Perang) Paling Utama dan Tertinggi
Para ulama telah sepakat bahwa, jihad termasuk amalan yang paling utama berdasarkan hadits-hadits shahih. Di antaranya adalah : Ada seorang lelaki bertanya, “Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-nya”, Ia bertanya, “Kemudian apa ? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, Ia bertanya lagi, Kemudian apa ? Beliau menjawab, “haji mabrur”(H.R Bukhori Muslim).
  • Jihad yang paling utama adalah jihad membela agama Allah . Sabda Rasulullah pernah ditanya, “Jihad apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Seseorang yang berperang hingga kuda kendaraannya mati dan ia sendiri gugur bersimbah darah” (H.R Bukhori)
  • Jihad yang paling utama adalah menyempaikan kebenaran kepada pemimpin yang dzalim. Sabda Rasulullah saw : “Jihad yang paling utama adalah kalimat yang benar di hadapan penguasa yang culas” (H.R Ahmad)
  • Jihad yang paling utama adalah haji mabrur. Rasulullah saw bersabda : “tetapi jihad yang paling utama adalah haji mabrur” (H.R Bukhori)
  • Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu. Sabda Rasulullah saw : “jihad yang paling utama adalah jihad melawan nafsu dan hawanya” (H.R Abu Nu’aim)

Hal-hal yang diperlukan dalam berjihad melawan hawa nafsu, yaitu:
  • Memiliki azam atau niat yang kuat
  • Senantiasa bertafakkur, dan mampu mengintrospeksi diri
  • Agar tidak ridha manakala binatang lebih mulia dari dirinya
  • Mengetahui dampak buruk dari mengikuti hawa nafsu
  • Selalu menimbang-nimbang antara keselamatan agama dan kenikmatan sesaat
  • Kesadaran tentang tabiat nafsu adalah merusak
  • Kesadaran bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu tidak layak menjadi pemimpin yang ditaati
  • Kesadaran bahwa pangkal dari kejahatan adalah mengikuti hawa nafsu
  • Menyadari bahwa hawa nafsu merupakan dinding yang mengelilingi neraka
  • Menyadari bahwa 7 orang yang mendapat naungan Allah adalah orang-orang yang mempu melawan hawa nafsunya

Oleh: Segenap Dewan Pengurus DPD LDII Kabupaten Sidoarjo
Merdekaaa..........!!!!!
Sabtu, 09 November 2013

Berpuasa 'Asyura Yuk....

Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah yang mulia ini.


Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, Nabi Musa ‘alaihissalam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda,
فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ
“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.
Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.

Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Tatkala Nabi Shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. [HR Al Bukhari]
Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. [HR Al Bukhari No 1897]

Kefadlolan puasa ‘Asyura

Di masa hidupnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya. Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ
“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Kapan Puasa ‘Asyura

 Rasullah Shallallahu’alaihi wasallam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ
“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”
Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

“Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”
(HR.Ahmad )

Puasa hari 'Asyura (hari kesepuluh Muharram) termasuk hari istimewa dalam bulan ini. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat bersemangat berpuasa padanya dan memerintahkan para sahabatnya untuk ikut berpuasa. Walaupun secara umum memperbanyak puasa pada bulan Muharram adalah sangat dianjurkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadlan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu." (HR. Muslim, no. 1982)


Kontributor:
H. M. Fauzan, Sekretaris DPD LDII Kab. Sidoarjo.









Kamis, 07 November 2013

Tips Menjaga Haji Mabrur

Sangat bersyukur dan berbahagialah umat Islam yang telah melaksanakan ibadah haji. Perjalanan haji saat ini menjadi kesempatan yang sangat sulit dan langka. Apabila dulu seorang jamaah cukup mempunyai biaya bisa langsung berangkat ke tanah suci namun saat ini sekalipun biaya telah mencukupi seorang Muslim harus menunggu belasan tahun untuk bisa mendapat giliran berangkat memenuhi panggilan Allah.

Sesuai Sabda Nabi s.a.w. yang tertulis dalam Hadist Shohih Bukhari No. 1521 & 1773 Kitabul Haji dan Hadist Sunan Termidhi No. 810 Abwabul Haji seorang haji mabrur akan dihapus dosanya sebagaimana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya dan haji mabrur merupakan tiket jaminan untuk masuk surga.

1521 – حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ أَبُو الحَكَمِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
… Aba Hurairoh meriwayatkan: Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa haji karena Allah maka tidak jima’ dan tidak fasiq (melanggar larangan agama) ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 1521 Kitabul Haji]

1773 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَيٍّ، مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»
… sesungguhnya Rasulalloh s.a.w. bersabda: “Umrah hinggga umrah berikutnya menjadi pelebur dosa diantara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga.”
Hadist Shohih Bukhari No. 1773 Kitabul Haji
Rabu, 06 November 2013

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH (MUHARAM)

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya (HR.Tirmidzi)

Setiap memasuki tahun baru Islam 1 Muharam, sebagian besar umat islam khususnya di Indonesia merayakannya dengan berbagai bentuk kegiatan. Ada yang melakukan qiyamullail, pengajian bersama, berdzikir, dan lain sebagainya. Banyaknya ragam aktivitas ini, tentunya mengusik pikiran kita, apa sih sebenarnya makna dari  tahun baru Islam ini? Apa esensi dari hijrah nabi dari Mekah dan Medinah yang menjadi titik tolak perhitungan kalender Islam ini?
Berdasarkan rangkaian sejarah yang menyertai peristiwa hijrah ini serta nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran dan hadits, proses hijrah yang sesungguhnya adalah Proses perubahan ke arah yang lebih baik. Apapun acara yang kita lakukan, yang penting esensinya menuju ke arah yang lebih baik. Momentum hijrah haruslah menjadi titik tolak menuju kehidupan yang lebih baik,  baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun bernegara.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa memaknai Hijrah sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya? Ada beberapa kiat yang perlu kita lakukan yaitu sebagai berikut:

1. Bersunguh-sungguh berhijrah secara spiritual atau karakter
Nabi bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh SWT”.  Objek larangan dalam hadits ini menggunakan kata MA. Dalam bahasa arab kata MA merujuk pada sesuatu yang bersifat menyeluruh. Maknanya bisa larangan ekonomi yang berbasis riba, seni yang merusak moral, pendidikan yang sekuler, dan lain sebagainya. Secara lebih jauh, larangan di sini bermakna haram, makruh ataupun subhat. Jadi dalam kerangka Hijrah, seyogyanya kita melakukan perubahan hidup (shifting) dengan cara meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

2. Berhijrah secara Fisik
Hijrah ini berkaitan dengan amal secara berjamaah, mengingat manusia sangat tergantung pada lingkungannya. Hijrah dilakukan agar mendapatkan lingkungan yang lebih baik dalam menjalankan dakwah. Nabi melakukan hijrah dari Mekah dan Medinah agar memperolah lingkungan dakwah yang lebih kondusif .
Saat kita berdakwah di suatu tempat dan tidak menemukan perubahan berarti bahkan nyawa atau aqidah kita terancam, maka kita diharuskan mencari lahan baru dengan melakukan hijrah ke tempat lain. karena dalam realitasnya,  tidak semua bumi itu subur, ada juga yang tandus. Mekkah saja perlu 13 tahun untuk dapat menerima Islam secara menyeluruh.

3. Memakmurkan Mesjid
Yang pertama kali dibangun oleh Nabi saw saat beliau hijrah dari Mekah ke Medinah ialah mesjid. Hal ini mencerminkan bahwa solidaritas umat Islam hendaklah dimulai dari mesjid. Ukuran baik suatu perumahan, pesantren, organisasi, maupun institusi terletak bagaimana ia memakmurkan mesjidnya.
Nabi bersabda, “Apabila kamu membiasakan ke mesjid, saksikan iman orang itu benar”.  Berdasarkan sabda ini, salah satu indikasi benarnya iman seseorang ialah gemar memakmurkan mesjid. Tujuannya bisa untuk melaksanakan shalat berjamaah, pengajian, dzikir, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika seseorang tidak suka ke Mesjid, maka imannya patut dipertanyakan.

4. Menghimpun Potensi Umat Islam Menjadi Bersatu Padu
Secara jujur kita bisa mengatakan bahwa potensi umat islam saat ini masih berserakan. Berjalan sendiri-sendiri mengatasnamakan jemaah, partai, madhab, bahkan negara. Tidak sedikit sesama umat islam saling bermusuhan bahkan melakukan peperangan. Dengan momentum Hijrah, sudah seyogyanya umat Islam bersatu padu menjaga persatuan atas dasar keimanan yang sama dan musuh yang sama yaitu orang kafir.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.  Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. 8:73) 


Senin, 04 November 2013

Sosialisasi UU Ormas No. 17 Tahun 2013


Pada tanggal 30 Oktober 2013 kemarin Bupati bersama Bakesbangpol-linmas Sidoarjo telah mengadakan sosialisasi Undang-Undang Ke-Ormasan yang baru yaitu UU No. 17 Tahun 2013.

Dalam acara tersebut dihadiri hampir semua Ormas yang terdaftar resmi di Pemerintah Sidoarjo, termasuk di dalamnya LDII Sidoarjo ikut menyaksikan penjelasan sosialisasi undang-undang tersebut.


Undang-undang yang baru ini di dalamnya bersifat sangat strategis antara lain:
  1.  Pengaturan Ormas yang berbadan Hukum sesuai dengan UU Nomor 17 tahun 2013.
  2. Peran Ormas dalam menciptakan keamanan dalam Negeri.
  3. Pengaturan Ormas yang didirikan oleh WNA sesuai UU No. 17 tahun 2013.
  4. Penegakan hukum Ormas.
  5. Peran Ormas dari aspek Intelijen.
  6. Transparansi dan akuntabilitas keuangan Ormas.
  7. Tata cara penyelesaian sengketa Ormas dan pembubaran ormas melalui peradilan.

UU Nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas diterbitkan sebagai pengganti UU Nomor 8 tahun 1985 yang sudah tidak berlaku lagi. Pada UU Ormas yang baru ini terdapat paradigma baru, yang mana pemerintah menempatkan Organisasi-organisasi kemasyakatan sebagai mitra kerja yang diharapkan peranserta aktifnya  untuk dapat bersama-sama membangun negara dan bangsa menuju kepada kesejahteraan masyarakat.






Untuk download UU Nomor 17 tahun 2013 Klik disini


Larangan Mencela, Memerangi dan Mengkafirkan Seorang Muslim


Ditulis oleh Ustadz H Abu B Rieswanda (Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Sidoarjo).

Di antara ciri-ciri orang munafik adalah mengaku beriman, padahal tidak. Gemar berdusta. Mereka memusuhi ummat Islam dengan keji. Baik dengan lisan mereka, mau pun dengan tangannya. Tak jarang membunuh sesama Muslim. Allah dan RasulNya melarang kita Su'u zhon/buruk sangka, menghina Muslim, mengkafirkan Muslim, membunuh Muslim




Larangan Mencela dan Memerangi Orang Islam

 Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang muslim adalah suatu kefasikan, sedang memeranginya adalah suatu kekufuran.”
[Diriwayatkan Bukhari dan Muslim]

Termasuk kita dilarang mencela orang yang sudah meninggal

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
Artinya: Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal. Karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa (hasil) yang mereka lakukan (HR. al-Bukhari)

Hidup Pahlawanku..... Hidup Indonesiaku.....

Hari Pahlawan Nasional di peringati pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlawan yaitu karena pada tanggal 10 bulan November terjadi sebuah pertempuran antara para pahlawan Indonesia melawan para penjajah. Pertempuran terbesar yang mengakibatkan banyaknya korban dari kedua belah pihak. Maka oleh sebab itu tanggal 10 november adalah tanggal yang sangat bersejarah dan sangat pantas untuk kita peringati sebagai hari pahlawan Nasional dan kita selaku para cucu-cucunya berkewajiban untuk menjadikan sejarah yang telah di torehkan oleh para pahlawan Indonesia agar tetap hidup. - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuf
Hari Pahlawan Nasional di peringati pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlawan yaitu karena pada tanggal 10 bulan November terjadi sebuah pertempuran antara para pahlawan Indonesia melawan para penjajah. Pertempuran terbesar yang mengakibatkan banyaknya korban dari kedua belah pihak. Maka oleh sebab itu tanggal 10 november adalah tanggal yang sangat bersejarah dan sangat pantas untuk kita peringati sebagai hari pahlawan Nasional dan kita selaku para cucu-cucunya berkewajiban untuk menjadikan sejarah yang telah di torehkan oleh para pahlawan Indonesia agar tetap hidup. - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuf
i pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlaw - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuf
Hari Pahlawan Nasional di peringati pada tanggal 10 November alasan kenapa pada tanggal tersebut di peringati sebagai hari pahlawan yaitu karena pada tanggal 10 bulan November terjadi sebuah pertempuran antara para pahlawan Indonesia melawan para penjajah. Pertempuran terbesar yang mengakibatkan banyaknya korban dari kedua belah pihak. Maka oleh sebab itu tanggal 10 november adalah tanggal yang sangat bersejarah dan sangat pantas untuk kita peringati sebagai hari pahlawan Nasional dan kita selaku para cucu-cucunya berkewajiban untuk menjadikan sejarah yang telah di torehkan oleh para pahlawan Indonesia agar tetap hidup. - See more at: http://katamutiara.co/ucapan-selamat-hari-pahlawan-nasional.html#sthash.KmIqxEDD.dpuPara pejuang kemerdekaan berjuang atas motivasi mempertahankan bangsa, negara, aqidah dan memperjuangkan agama Alloh di bumi ini. Maka ketika adanya penjajahan yang otomatis akan merusak akidah, umat Islam bangkit melawan. Karena bagi kaum muslimin saat itu perjuangan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah.Menjelang tahun 1950-an, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Sebagaimana diusulkan Sumarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ikut ambil bagian dalam peperangan sengit itu.
 
Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November. Hari dimana terjadi pertempuran hebat antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.

Menjelang tahun 1950-an, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Sebagaimana diusulkan Sumarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ikut ambil bagian dalam peperangan sengit itu.

Mau dengerin pidato BUNG TOMO ???

Klik DISINI......


Jihad (Perang) Paling Utama dan Tertinggi
Para ulama telah sepakat bahwa, jihad termasuk amalan yang paling utama berdasarkan hadits-hadits shahih. Di antaranya adalah : Ada seorang lelaki bertanya, “Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-nya”, Ia bertanya, “Kemudian apa ? Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, Ia bertanya lagi, Kemudian apa ? Beliau menjawab, “haji mabrur”(H.R Bukhori Muslim).
  • Jihad yang paling utama adalah jihad membela agama Allah . Sabda Rasulullah pernah ditanya, “Jihad apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Seseorang yang berperang hingga kuda kendaraannya mati dan ia sendiri gugur bersimbah darah” (H.R Bukhori)
  • Jihad yang paling utama adalah menyempaikan kebenaran kepada pemimpin yang dzalim. Sabda Rasulullah saw : “Jihad yang paling utama adalah kalimat yang benar di hadapan penguasa yang culas” (H.R Ahmad)
  • Jihad yang paling utama adalah haji mabrur. Rasulullah saw bersabda : “tetapi jihad yang paling utama adalah haji mabrur” (H.R Bukhori)
  • Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu. Sabda Rasulullah saw : “jihad yang paling utama adalah jihad melawan nafsu dan hawanya” (H.R Abu Nu’aim)

Hal-hal yang diperlukan dalam berjihad melawan hawa nafsu, yaitu:
  • Memiliki azam atau niat yang kuat
  • Senantiasa bertafakkur, dan mampu mengintrospeksi diri
  • Agar tidak ridha manakala binatang lebih mulia dari dirinya
  • Mengetahui dampak buruk dari mengikuti hawa nafsu
  • Selalu menimbang-nimbang antara keselamatan agama dan kenikmatan sesaat
  • Kesadaran tentang tabiat nafsu adalah merusak
  • Kesadaran bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu tidak layak menjadi pemimpin yang ditaati
  • Kesadaran bahwa pangkal dari kejahatan adalah mengikuti hawa nafsu
  • Menyadari bahwa hawa nafsu merupakan dinding yang mengelilingi neraka
  • Menyadari bahwa 7 orang yang mendapat naungan Allah adalah orang-orang yang mempu melawan hawa nafsunya

Oleh: Segenap Dewan Pengurus DPD LDII Kabupaten Sidoarjo
Merdekaaa..........!!!!!

Berpuasa 'Asyura Yuk....

Puasa selain merupakan ibadah yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengandung sekian banyak manfaat yang lain. Dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan syahwat dan hawa nafsunya. Dan puasa juga menjadi perisai dari api neraka. Puasa juga dapat menghapus dosa-dosa dan memberi syafaat di hari kiamat. Dan puasa juga dapat membangkitkan rasa solidaritas kemanusiaan, serta manfaat lainnya yang sudah dimaklumi terkandung pada ibadah yang mulia ini.


Pada bulan Muharram ada satu hari yang dikenal dengan sebutan hari ‘Asyura. Orang-orang jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Hal tersebut karena pada hari ini Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bersyukur atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, Nabi Musa ‘alaihissalam akhirnya berpuasa pada hari ini. Tatkala sampai berita ini kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wassalam, melalui orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah beliau bersabda,
فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ
“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi)”.
Yang demikian karena pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sampai di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah berpuasa pada hari ini, maka beliau sampaikan sabdanya sebagaimana di atas. Semenjak itu beliau Shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan ummatnya untuk berpuasa, sehingga jadilah puasa ‘Asyura diantara ibadah yang disukai di dalam Islam. Dan ketika itu puasa Ramadhan belum diwajibkan.

Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisah ini kepada kita sebagaimana yang terdapat di dalam Shahih Bukhari No 1900,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Tatkala Nabi Shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. [HR Al Bukhari]
Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. [HR Al Bukhari No 1897]

Kefadlolan puasa ‘Asyura

Di masa hidupnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya. Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram. Dan Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ
“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Kapan Puasa ‘Asyura

 Rasullah Shallallahu’alaihi wasallam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ
“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”
Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

“Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”
(HR.Ahmad )

Puasa hari 'Asyura (hari kesepuluh Muharram) termasuk hari istimewa dalam bulan ini. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat bersemangat berpuasa padanya dan memerintahkan para sahabatnya untuk ikut berpuasa. Walaupun secara umum memperbanyak puasa pada bulan Muharram adalah sangat dianjurkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadlan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu." (HR. Muslim, no. 1982)


Kontributor:
H. M. Fauzan, Sekretaris DPD LDII Kab. Sidoarjo.









Tips Menjaga Haji Mabrur

Sangat bersyukur dan berbahagialah umat Islam yang telah melaksanakan ibadah haji. Perjalanan haji saat ini menjadi kesempatan yang sangat sulit dan langka. Apabila dulu seorang jamaah cukup mempunyai biaya bisa langsung berangkat ke tanah suci namun saat ini sekalipun biaya telah mencukupi seorang Muslim harus menunggu belasan tahun untuk bisa mendapat giliran berangkat memenuhi panggilan Allah.

Sesuai Sabda Nabi s.a.w. yang tertulis dalam Hadist Shohih Bukhari No. 1521 & 1773 Kitabul Haji dan Hadist Sunan Termidhi No. 810 Abwabul Haji seorang haji mabrur akan dihapus dosanya sebagaimana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya dan haji mabrur merupakan tiket jaminan untuk masuk surga.

1521 – حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ أَبُو الحَكَمِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
… Aba Hurairoh meriwayatkan: Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa haji karena Allah maka tidak jima’ dan tidak fasiq (melanggar larangan agama) ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya”.
[Hadist Shohih Bukhari No. 1521 Kitabul Haji]

1773 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَيٍّ، مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»
… sesungguhnya Rasulalloh s.a.w. bersabda: “Umrah hinggga umrah berikutnya menjadi pelebur dosa diantara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga.”
Hadist Shohih Bukhari No. 1773 Kitabul Haji

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH (MUHARAM)

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya (HR.Tirmidzi)

Setiap memasuki tahun baru Islam 1 Muharam, sebagian besar umat islam khususnya di Indonesia merayakannya dengan berbagai bentuk kegiatan. Ada yang melakukan qiyamullail, pengajian bersama, berdzikir, dan lain sebagainya. Banyaknya ragam aktivitas ini, tentunya mengusik pikiran kita, apa sih sebenarnya makna dari  tahun baru Islam ini? Apa esensi dari hijrah nabi dari Mekah dan Medinah yang menjadi titik tolak perhitungan kalender Islam ini?
Berdasarkan rangkaian sejarah yang menyertai peristiwa hijrah ini serta nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran dan hadits, proses hijrah yang sesungguhnya adalah Proses perubahan ke arah yang lebih baik. Apapun acara yang kita lakukan, yang penting esensinya menuju ke arah yang lebih baik. Momentum hijrah haruslah menjadi titik tolak menuju kehidupan yang lebih baik,  baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun bernegara.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa memaknai Hijrah sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya? Ada beberapa kiat yang perlu kita lakukan yaitu sebagai berikut:

1. Bersunguh-sungguh berhijrah secara spiritual atau karakter
Nabi bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh SWT”.  Objek larangan dalam hadits ini menggunakan kata MA. Dalam bahasa arab kata MA merujuk pada sesuatu yang bersifat menyeluruh. Maknanya bisa larangan ekonomi yang berbasis riba, seni yang merusak moral, pendidikan yang sekuler, dan lain sebagainya. Secara lebih jauh, larangan di sini bermakna haram, makruh ataupun subhat. Jadi dalam kerangka Hijrah, seyogyanya kita melakukan perubahan hidup (shifting) dengan cara meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

2. Berhijrah secara Fisik
Hijrah ini berkaitan dengan amal secara berjamaah, mengingat manusia sangat tergantung pada lingkungannya. Hijrah dilakukan agar mendapatkan lingkungan yang lebih baik dalam menjalankan dakwah. Nabi melakukan hijrah dari Mekah dan Medinah agar memperolah lingkungan dakwah yang lebih kondusif .
Saat kita berdakwah di suatu tempat dan tidak menemukan perubahan berarti bahkan nyawa atau aqidah kita terancam, maka kita diharuskan mencari lahan baru dengan melakukan hijrah ke tempat lain. karena dalam realitasnya,  tidak semua bumi itu subur, ada juga yang tandus. Mekkah saja perlu 13 tahun untuk dapat menerima Islam secara menyeluruh.

3. Memakmurkan Mesjid
Yang pertama kali dibangun oleh Nabi saw saat beliau hijrah dari Mekah ke Medinah ialah mesjid. Hal ini mencerminkan bahwa solidaritas umat Islam hendaklah dimulai dari mesjid. Ukuran baik suatu perumahan, pesantren, organisasi, maupun institusi terletak bagaimana ia memakmurkan mesjidnya.
Nabi bersabda, “Apabila kamu membiasakan ke mesjid, saksikan iman orang itu benar”.  Berdasarkan sabda ini, salah satu indikasi benarnya iman seseorang ialah gemar memakmurkan mesjid. Tujuannya bisa untuk melaksanakan shalat berjamaah, pengajian, dzikir, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika seseorang tidak suka ke Mesjid, maka imannya patut dipertanyakan.

4. Menghimpun Potensi Umat Islam Menjadi Bersatu Padu
Secara jujur kita bisa mengatakan bahwa potensi umat islam saat ini masih berserakan. Berjalan sendiri-sendiri mengatasnamakan jemaah, partai, madhab, bahkan negara. Tidak sedikit sesama umat islam saling bermusuhan bahkan melakukan peperangan. Dengan momentum Hijrah, sudah seyogyanya umat Islam bersatu padu menjaga persatuan atas dasar keimanan yang sama dan musuh yang sama yaitu orang kafir.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.  Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. 8:73) 


Sosialisasi UU Ormas No. 17 Tahun 2013


Pada tanggal 30 Oktober 2013 kemarin Bupati bersama Bakesbangpol-linmas Sidoarjo telah mengadakan sosialisasi Undang-Undang Ke-Ormasan yang baru yaitu UU No. 17 Tahun 2013.

Dalam acara tersebut dihadiri hampir semua Ormas yang terdaftar resmi di Pemerintah Sidoarjo, termasuk di dalamnya LDII Sidoarjo ikut menyaksikan penjelasan sosialisasi undang-undang tersebut.


Undang-undang yang baru ini di dalamnya bersifat sangat strategis antara lain:
  1.  Pengaturan Ormas yang berbadan Hukum sesuai dengan UU Nomor 17 tahun 2013.
  2. Peran Ormas dalam menciptakan keamanan dalam Negeri.
  3. Pengaturan Ormas yang didirikan oleh WNA sesuai UU No. 17 tahun 2013.
  4. Penegakan hukum Ormas.
  5. Peran Ormas dari aspek Intelijen.
  6. Transparansi dan akuntabilitas keuangan Ormas.
  7. Tata cara penyelesaian sengketa Ormas dan pembubaran ormas melalui peradilan.

UU Nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas diterbitkan sebagai pengganti UU Nomor 8 tahun 1985 yang sudah tidak berlaku lagi. Pada UU Ormas yang baru ini terdapat paradigma baru, yang mana pemerintah menempatkan Organisasi-organisasi kemasyakatan sebagai mitra kerja yang diharapkan peranserta aktifnya  untuk dapat bersama-sama membangun negara dan bangsa menuju kepada kesejahteraan masyarakat.






Untuk download UU Nomor 17 tahun 2013 Klik disini