وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Rabu, 06 November 2013

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH (MUHARAM)

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya (HR.Tirmidzi)

Setiap memasuki tahun baru Islam 1 Muharam, sebagian besar umat islam khususnya di Indonesia merayakannya dengan berbagai bentuk kegiatan. Ada yang melakukan qiyamullail, pengajian bersama, berdzikir, dan lain sebagainya. Banyaknya ragam aktivitas ini, tentunya mengusik pikiran kita, apa sih sebenarnya makna dari  tahun baru Islam ini? Apa esensi dari hijrah nabi dari Mekah dan Medinah yang menjadi titik tolak perhitungan kalender Islam ini?
Berdasarkan rangkaian sejarah yang menyertai peristiwa hijrah ini serta nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran dan hadits, proses hijrah yang sesungguhnya adalah Proses perubahan ke arah yang lebih baik. Apapun acara yang kita lakukan, yang penting esensinya menuju ke arah yang lebih baik. Momentum hijrah haruslah menjadi titik tolak menuju kehidupan yang lebih baik,  baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun bernegara.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa memaknai Hijrah sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya? Ada beberapa kiat yang perlu kita lakukan yaitu sebagai berikut:

1. Bersunguh-sungguh berhijrah secara spiritual atau karakter
Nabi bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh SWT”.  Objek larangan dalam hadits ini menggunakan kata MA. Dalam bahasa arab kata MA merujuk pada sesuatu yang bersifat menyeluruh. Maknanya bisa larangan ekonomi yang berbasis riba, seni yang merusak moral, pendidikan yang sekuler, dan lain sebagainya. Secara lebih jauh, larangan di sini bermakna haram, makruh ataupun subhat. Jadi dalam kerangka Hijrah, seyogyanya kita melakukan perubahan hidup (shifting) dengan cara meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

2. Berhijrah secara Fisik
Hijrah ini berkaitan dengan amal secara berjamaah, mengingat manusia sangat tergantung pada lingkungannya. Hijrah dilakukan agar mendapatkan lingkungan yang lebih baik dalam menjalankan dakwah. Nabi melakukan hijrah dari Mekah dan Medinah agar memperolah lingkungan dakwah yang lebih kondusif .
Saat kita berdakwah di suatu tempat dan tidak menemukan perubahan berarti bahkan nyawa atau aqidah kita terancam, maka kita diharuskan mencari lahan baru dengan melakukan hijrah ke tempat lain. karena dalam realitasnya,  tidak semua bumi itu subur, ada juga yang tandus. Mekkah saja perlu 13 tahun untuk dapat menerima Islam secara menyeluruh.

3. Memakmurkan Mesjid
Yang pertama kali dibangun oleh Nabi saw saat beliau hijrah dari Mekah ke Medinah ialah mesjid. Hal ini mencerminkan bahwa solidaritas umat Islam hendaklah dimulai dari mesjid. Ukuran baik suatu perumahan, pesantren, organisasi, maupun institusi terletak bagaimana ia memakmurkan mesjidnya.
Nabi bersabda, “Apabila kamu membiasakan ke mesjid, saksikan iman orang itu benar”.  Berdasarkan sabda ini, salah satu indikasi benarnya iman seseorang ialah gemar memakmurkan mesjid. Tujuannya bisa untuk melaksanakan shalat berjamaah, pengajian, dzikir, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika seseorang tidak suka ke Mesjid, maka imannya patut dipertanyakan.

4. Menghimpun Potensi Umat Islam Menjadi Bersatu Padu
Secara jujur kita bisa mengatakan bahwa potensi umat islam saat ini masih berserakan. Berjalan sendiri-sendiri mengatasnamakan jemaah, partai, madhab, bahkan negara. Tidak sedikit sesama umat islam saling bermusuhan bahkan melakukan peperangan. Dengan momentum Hijrah, sudah seyogyanya umat Islam bersatu padu menjaga persatuan atas dasar keimanan yang sama dan musuh yang sama yaitu orang kafir.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.  Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. 8:73) 


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH (MUHARAM)

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya (HR.Tirmidzi)

Setiap memasuki tahun baru Islam 1 Muharam, sebagian besar umat islam khususnya di Indonesia merayakannya dengan berbagai bentuk kegiatan. Ada yang melakukan qiyamullail, pengajian bersama, berdzikir, dan lain sebagainya. Banyaknya ragam aktivitas ini, tentunya mengusik pikiran kita, apa sih sebenarnya makna dari  tahun baru Islam ini? Apa esensi dari hijrah nabi dari Mekah dan Medinah yang menjadi titik tolak perhitungan kalender Islam ini?
Berdasarkan rangkaian sejarah yang menyertai peristiwa hijrah ini serta nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran dan hadits, proses hijrah yang sesungguhnya adalah Proses perubahan ke arah yang lebih baik. Apapun acara yang kita lakukan, yang penting esensinya menuju ke arah yang lebih baik. Momentum hijrah haruslah menjadi titik tolak menuju kehidupan yang lebih baik,  baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun bernegara.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa memaknai Hijrah sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya? Ada beberapa kiat yang perlu kita lakukan yaitu sebagai berikut:

1. Bersunguh-sungguh berhijrah secara spiritual atau karakter
Nabi bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh SWT”.  Objek larangan dalam hadits ini menggunakan kata MA. Dalam bahasa arab kata MA merujuk pada sesuatu yang bersifat menyeluruh. Maknanya bisa larangan ekonomi yang berbasis riba, seni yang merusak moral, pendidikan yang sekuler, dan lain sebagainya. Secara lebih jauh, larangan di sini bermakna haram, makruh ataupun subhat. Jadi dalam kerangka Hijrah, seyogyanya kita melakukan perubahan hidup (shifting) dengan cara meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

2. Berhijrah secara Fisik
Hijrah ini berkaitan dengan amal secara berjamaah, mengingat manusia sangat tergantung pada lingkungannya. Hijrah dilakukan agar mendapatkan lingkungan yang lebih baik dalam menjalankan dakwah. Nabi melakukan hijrah dari Mekah dan Medinah agar memperolah lingkungan dakwah yang lebih kondusif .
Saat kita berdakwah di suatu tempat dan tidak menemukan perubahan berarti bahkan nyawa atau aqidah kita terancam, maka kita diharuskan mencari lahan baru dengan melakukan hijrah ke tempat lain. karena dalam realitasnya,  tidak semua bumi itu subur, ada juga yang tandus. Mekkah saja perlu 13 tahun untuk dapat menerima Islam secara menyeluruh.

3. Memakmurkan Mesjid
Yang pertama kali dibangun oleh Nabi saw saat beliau hijrah dari Mekah ke Medinah ialah mesjid. Hal ini mencerminkan bahwa solidaritas umat Islam hendaklah dimulai dari mesjid. Ukuran baik suatu perumahan, pesantren, organisasi, maupun institusi terletak bagaimana ia memakmurkan mesjidnya.
Nabi bersabda, “Apabila kamu membiasakan ke mesjid, saksikan iman orang itu benar”.  Berdasarkan sabda ini, salah satu indikasi benarnya iman seseorang ialah gemar memakmurkan mesjid. Tujuannya bisa untuk melaksanakan shalat berjamaah, pengajian, dzikir, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika seseorang tidak suka ke Mesjid, maka imannya patut dipertanyakan.

4. Menghimpun Potensi Umat Islam Menjadi Bersatu Padu
Secara jujur kita bisa mengatakan bahwa potensi umat islam saat ini masih berserakan. Berjalan sendiri-sendiri mengatasnamakan jemaah, partai, madhab, bahkan negara. Tidak sedikit sesama umat islam saling bermusuhan bahkan melakukan peperangan. Dengan momentum Hijrah, sudah seyogyanya umat Islam bersatu padu menjaga persatuan atas dasar keimanan yang sama dan musuh yang sama yaitu orang kafir.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.  Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. 8:73)