وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Senin, 01 Oktober 2012

Di PBB, Dunia Islam Mempertanyakan Kebebasan Berbicara ala Barat

Oleh John Irish ditejemahkan oleh LDII Sidoarjo
UNITED NATIONS | Fri Sep 28, 2012 7:14 EDT
(Reuters) – Dalam Sidang Umum PBB pekan ini, para pemimpin Muslim serempak mengecam bahwa Barat sedang bersembunyi di balik kebebasan berbicara dan mengabaikan kepekaan budaya pasca pelecehan anti-Islam yang menimbulkan kekhawatiran semakin melebarnya pertentangan budaya Timur-Barat.

Sebuah video yang dibuat di California menggambarkan Nabi Muhammad sebagai orang bodoh telah memicu penyerangan kedutaan AS dan Barat lainnya di banyak Negara Islam dan serangan bom bunuh diri mematikan di Afghanistan bulan ini. Krisis ini diperparah ketika sebuah majalah Perancis menerbitkan karikatur Nabi.

Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan sudah waktunya mengakhiri Islamophobia yang berkedok kebebasan berbicara sebebas-bebasnya.

"Sayangnya, Islamophobia juga menjadi bentuk rasisme baru seperti anti-Semitisme. Ini tidak bisa lagi ditoleransi dengan kedok kebebasan berekspresi. Kebebasan tidak berarti anarki," katanya kepada 193 negara di Majelis Umum PBB pada hari Jumat (28/9/2012)

Presiden Islam Mesir yang baru terpilih, Mohamed Mursi, menyuarakan sentimen yang sama dalam pidatonya, Rabu.

"Mesir menghormati kebebasan berekspresi, kebebasan berekspresi yang tidak digunakan untuk menghasut kebencian terhadap siapa pun," katanya. "Kami mengharap orang lain, sebagaimana mereka mengharapkan dari kami, bahwa mereka menghormati budaya kami yang spesifik dan berbasis agama, dan tidak memaksakan konsep atau budaya yang tidak dapat kami diterima".

Mursi adalah salah satu pemimpin pertama yang dipilih secara demokratis setelah revolusi Arab Spring yang melahirkan pergantian pemerintah Tunisia , Mesir, Libya dan Yaman tahun lalu.

Negara-negara Barat yang mendukung pemberontakan telah mendesak negara-negara Arab itu untuk segera mendorong reformasi demokratis dan mematuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia dan kebebasan dasar.

Mereka takut versi Islam yang lebih keras yang bisa membangkitkan gerakan protes. Kebanyakan pembicara Barat di PBB membela kebebasan berbicara, namun menolak ajakan para pemimpin Muslim untuk larangan internasional terhadap penghujatan suatu kepercayaan.

Sambil mengulangi kecamannya terhadap video anti-Islam, Presiden AS Barack Obama kukuh membela kebebasan berbicara, mengecewakan beberapa orang pemimpin.

"Senjata terkuat melawan propaganda kebencian bukanlah represi, akan tetapi dengan menyuarakan lebih - suara toleransi yang melawan kefanatikan dan penghujatan," kata Obama dalam pidato 30 menit yang banyak membahas tema ini.

BENTURAN PERADABAN

Berbicara setelah Obama, Presiden Asif Ali Zardari dari Pakistan, di mana lebih dari selusin orang tewas dalam protes terhadap film anti-Islam, menuntut mwngkriminalkan penghinaan agama

"Masyarakat internasional tidak harus menjadi penonton diam dan harus menghukum tindakan seperti itu yang dapat menghancurkan perdamaian dunia dan membahayakan keamanan dunia dengan menyalahgunakan kebebasan berekspresi," katanya.

Menyoroti kemarahan dari beberapa, sekitar 150 pengunjuk rasa menuntut "keadilan" dan meneriakkan "tidak ada Tuhan selain Allah" di luar gedung PBB, Kamis. Satu plakat berbunyi: "menghujat Nabi kami adalah pelaku kejahatan di PBB".

Para menteri luar negeri dari 57-anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bertemu pada hari Jumat.Film penghujat nabi itu menjadi agenda puncak.

"Insiden ini menunjukkan konsekuensi serius menyalahgunakan prinsip kebebasan berekspresi di satu sisi dan kebebasan demonstrasi di sisi lain," kata Sekretaris Jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu kepada wartawan.

Human Rights First dan Muslim Public Affairs Council, dua kelompok advokasi yang berbasis di AS, memperingatkan risiko mengatur kebebasan tersebut.

"Insiden yang tak terhitung jumlahnya menunjukkan bahwa ketika pemerintah atau gerakan keagamaan berusaha untuk menghukum pelanggaran atas nama memerangi kefanatikan agama, dan kekerasan maka kemudian terjadi pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang sebenarnya terhadap individu yang ditargetkan," kata mereka dalam sebuah pernyataan bersama.

47 anggota Dewan HAM PBB, yang didominasi oleh negara-negara berkembang, telah mengeluarkan resolusi tidak mengikat terhadap penodaan agama selama lebih dari satu dekade. Resolusi serupa telah disahkan di Majelis Umum PBB.

Negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan beberapa negara Amerika Latin di dewan menentang resolusi itu, dengan alasan bahwa sementara orang individu memiliki hak asasi manusia, agama tidak, dan bahwa pakta PBB yang ada - jika diterapkan - sudah cukup untuk mengekang hasutan kebencian dan kekerasan.

Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle berusaha untuk meredam pembicaraan tentang benturan peradaban, Kamis.

"Beberapa diantara kita percaya bahwa pembakaran gedung kedutaan adalah bukti dari benturan peradaban itu," kata Westerwelle dalam pidato PBB-nya. "Kita tidak perlu tertipu oleh argumen seperti ini. Ini bukanlah benturan peradaban. Ini adalah satu benturan dalam peradaban. Ini juga merupakan perjuangan bagi semangat pergerakan untuk perubahan di dunia Arab."

(Editing by Mohammad Zargham)

Sumber: reuters.com

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Di PBB, Dunia Islam Mempertanyakan Kebebasan Berbicara ala Barat

Oleh John Irish ditejemahkan oleh LDII Sidoarjo
UNITED NATIONS | Fri Sep 28, 2012 7:14 EDT
(Reuters) – Dalam Sidang Umum PBB pekan ini, para pemimpin Muslim serempak mengecam bahwa Barat sedang bersembunyi di balik kebebasan berbicara dan mengabaikan kepekaan budaya pasca pelecehan anti-Islam yang menimbulkan kekhawatiran semakin melebarnya pertentangan budaya Timur-Barat.

Sebuah video yang dibuat di California menggambarkan Nabi Muhammad sebagai orang bodoh telah memicu penyerangan kedutaan AS dan Barat lainnya di banyak Negara Islam dan serangan bom bunuh diri mematikan di Afghanistan bulan ini. Krisis ini diperparah ketika sebuah majalah Perancis menerbitkan karikatur Nabi.

Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan sudah waktunya mengakhiri Islamophobia yang berkedok kebebasan berbicara sebebas-bebasnya.

"Sayangnya, Islamophobia juga menjadi bentuk rasisme baru seperti anti-Semitisme. Ini tidak bisa lagi ditoleransi dengan kedok kebebasan berekspresi. Kebebasan tidak berarti anarki," katanya kepada 193 negara di Majelis Umum PBB pada hari Jumat (28/9/2012)

Presiden Islam Mesir yang baru terpilih, Mohamed Mursi, menyuarakan sentimen yang sama dalam pidatonya, Rabu.

"Mesir menghormati kebebasan berekspresi, kebebasan berekspresi yang tidak digunakan untuk menghasut kebencian terhadap siapa pun," katanya. "Kami mengharap orang lain, sebagaimana mereka mengharapkan dari kami, bahwa mereka menghormati budaya kami yang spesifik dan berbasis agama, dan tidak memaksakan konsep atau budaya yang tidak dapat kami diterima".

Mursi adalah salah satu pemimpin pertama yang dipilih secara demokratis setelah revolusi Arab Spring yang melahirkan pergantian pemerintah Tunisia , Mesir, Libya dan Yaman tahun lalu.

Negara-negara Barat yang mendukung pemberontakan telah mendesak negara-negara Arab itu untuk segera mendorong reformasi demokratis dan mematuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia dan kebebasan dasar.

Mereka takut versi Islam yang lebih keras yang bisa membangkitkan gerakan protes. Kebanyakan pembicara Barat di PBB membela kebebasan berbicara, namun menolak ajakan para pemimpin Muslim untuk larangan internasional terhadap penghujatan suatu kepercayaan.

Sambil mengulangi kecamannya terhadap video anti-Islam, Presiden AS Barack Obama kukuh membela kebebasan berbicara, mengecewakan beberapa orang pemimpin.

"Senjata terkuat melawan propaganda kebencian bukanlah represi, akan tetapi dengan menyuarakan lebih - suara toleransi yang melawan kefanatikan dan penghujatan," kata Obama dalam pidato 30 menit yang banyak membahas tema ini.

BENTURAN PERADABAN

Berbicara setelah Obama, Presiden Asif Ali Zardari dari Pakistan, di mana lebih dari selusin orang tewas dalam protes terhadap film anti-Islam, menuntut mwngkriminalkan penghinaan agama

"Masyarakat internasional tidak harus menjadi penonton diam dan harus menghukum tindakan seperti itu yang dapat menghancurkan perdamaian dunia dan membahayakan keamanan dunia dengan menyalahgunakan kebebasan berekspresi," katanya.

Menyoroti kemarahan dari beberapa, sekitar 150 pengunjuk rasa menuntut "keadilan" dan meneriakkan "tidak ada Tuhan selain Allah" di luar gedung PBB, Kamis. Satu plakat berbunyi: "menghujat Nabi kami adalah pelaku kejahatan di PBB".

Para menteri luar negeri dari 57-anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bertemu pada hari Jumat.Film penghujat nabi itu menjadi agenda puncak.

"Insiden ini menunjukkan konsekuensi serius menyalahgunakan prinsip kebebasan berekspresi di satu sisi dan kebebasan demonstrasi di sisi lain," kata Sekretaris Jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu kepada wartawan.

Human Rights First dan Muslim Public Affairs Council, dua kelompok advokasi yang berbasis di AS, memperingatkan risiko mengatur kebebasan tersebut.

"Insiden yang tak terhitung jumlahnya menunjukkan bahwa ketika pemerintah atau gerakan keagamaan berusaha untuk menghukum pelanggaran atas nama memerangi kefanatikan agama, dan kekerasan maka kemudian terjadi pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang sebenarnya terhadap individu yang ditargetkan," kata mereka dalam sebuah pernyataan bersama.

47 anggota Dewan HAM PBB, yang didominasi oleh negara-negara berkembang, telah mengeluarkan resolusi tidak mengikat terhadap penodaan agama selama lebih dari satu dekade. Resolusi serupa telah disahkan di Majelis Umum PBB.

Negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan beberapa negara Amerika Latin di dewan menentang resolusi itu, dengan alasan bahwa sementara orang individu memiliki hak asasi manusia, agama tidak, dan bahwa pakta PBB yang ada - jika diterapkan - sudah cukup untuk mengekang hasutan kebencian dan kekerasan.

Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle berusaha untuk meredam pembicaraan tentang benturan peradaban, Kamis.

"Beberapa diantara kita percaya bahwa pembakaran gedung kedutaan adalah bukti dari benturan peradaban itu," kata Westerwelle dalam pidato PBB-nya. "Kita tidak perlu tertipu oleh argumen seperti ini. Ini bukanlah benturan peradaban. Ini adalah satu benturan dalam peradaban. Ini juga merupakan perjuangan bagi semangat pergerakan untuk perubahan di dunia Arab."

(Editing by Mohammad Zargham)

Sumber: reuters.com