وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Selasa, 17 Juli 2012

Mubaligh Plentis

ditulis oleh Budi Waluyo
Pendidikan adalah faktor utama dalam meningkatkan kualitas dan derajat manusia. Dalam bidang agama, peran lembaga pendidikan, seperti; pondok pesantren, madrasah, dan TPQ serta para ulama, dai, ustad dan mubaligh sangat vital. Inilah salah satu jawaban kenapa LDII tetap eksis dan terus berkembang sampai hari ini. LDII meletakkan pendidikan (mengaji Quran dan Assunah) sebagai program pertama dan paling utama. Setiap bulan LDII meluluskan tidak kurang dari 600 orang dai atau mubaligh dan menyebarkannya ke seluruh penjuru tanah air.

Selama ini kita mempersonafikasikan seorang ulama atau mubaligh atau dai sebagai sosok yang suci, tinggi ilmunya dan luas wawasannya. Seorang ulama atau dai biasanya berpenampilan rapi, bergaya intelek, merdu suaranya dan menawan gaya bicaranya. Ulama adalah sosok tokoh yang cerdas, dikagumi dan jadi idola masyarakat Islam.

Akan tetapi tidak demikian di LDII, para dai atau mubaligh yang baru lulus pondok itulah dikenal dengan sebutan populer "Mubaligh Plentis". Plentis adalah terminologi Jawa yang berarti, kecil, remeh atau tidak berarti. Profil mubalig LDII kebanyakan adalah anak desa yang tidak berpendidikan, dropout sekolah, SDTT (sekolah dasar tidak tamat).

Mubaligh plentis penampilannya juga “nggak mbejaji”, wajahnya kusam, pakaiannya lusuh, dan badannya lesu ogah-ogahan. Karena berasal dari kalangan bawah mubaligh plentis juga tidak pandai berkomunikasi, gaya bicaranya gugup tidak enak didengar. Tabiatnya terkadang juga tampak kampungan.

Mubaligh plentis LDII jauh dari gambaran seorang dai atau ulama yang ideal. Karena penampilan dan gaya bicaranya, mubaligh LDII sering diremehkan dan jadi bahan olok-olok. Namun siapa sangka bahwa mereka itulah sebenarnya tulang punggung dakwah yang dikembangkan oleh LDII selama ini.

Para mubaligh itulah ujung tombak penyebaran ilmu Quran dan Sunnah di daerah-daerah terpencil yang belum terjamah, oleh pemerintah sekalipun. Mereka rela bersepeda ontel puluhan kilometer untuk membagikan ilmunya yang tidak seberapa, tanpa pamrih apapun kecuali ridho Allah. Mubaligh plentis secara materi tidak memiliki apa-apa, karena itu mereka tidak pernah takut kehilangan apa-apa kecuali keimanannya.

Mubaligh adalah simbol perjuangan dakwah Islam, Quran dan Hadist. Mubalig plentis adalah para mujahid sejati. Dengan perantara para mubaligh plentis, jutaan umat menjadi melek agama. Dengan jasa para mubaligh plentis daerah-daerah terpencil yang gelap menjadi terang oleh cahaya Allah.

Diakui atau tidak, dalam sejarah demokrasi dan kebebasan beragama di Indonesia, di luar mainstream NU dan Muhammadiyah, belum pernah ada organisasi Islam yang mengemuka dan membesar kecuali hanya satu yaitu LDII - Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Berawal dari seorang ulama nyentrik di desa Bangi, LDII saat ini menjelma menjadi salah satu kekuatan sosial yang disegani. LDII sekarang memiliki Dewan Perwakilan Wilayah di 33 propinsi, dengan membawahi 507 DPD tingkat kabubaten/kota, 4500 DPC tingkat kecamatan dan ribuan masjid di desa-desa seluruh Indonesia. Tidak kurang dari 20 (dua puluh) juta orang telah bergabung mengaji Quran dan Hadist di LDII.

Besarnya LDII itu bukan karena fasilitas pemerintah, juga bukan karena sokongan dana yayasan internasional. LDII tidak dikembangkan oleh para intelek yang bekerja di ruang ber-AC dengan fasilitas yang lengkap dan nyaman. LDII juga tidak dibesarkan oleh orang-orang kaya bakhil yang senantiasa kuatir kekayaannya akan berkurang. Eksistensi LDII juga bukan karena pejabat yang selalu takut kehilangan jabatannya karena dicap fundamentalis. Akan tetapi, LDII dibangun dan dibesarkan di atas pondasi perjuangan, pengorbanan dan penderitaan orang-orang yang dalam dirinya hidup jiwa dan semangat mubaligh plentis.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Mubaligh Plentis

ditulis oleh Budi Waluyo
Pendidikan adalah faktor utama dalam meningkatkan kualitas dan derajat manusia. Dalam bidang agama, peran lembaga pendidikan, seperti; pondok pesantren, madrasah, dan TPQ serta para ulama, dai, ustad dan mubaligh sangat vital. Inilah salah satu jawaban kenapa LDII tetap eksis dan terus berkembang sampai hari ini. LDII meletakkan pendidikan (mengaji Quran dan Assunah) sebagai program pertama dan paling utama. Setiap bulan LDII meluluskan tidak kurang dari 600 orang dai atau mubaligh dan menyebarkannya ke seluruh penjuru tanah air.

Selama ini kita mempersonafikasikan seorang ulama atau mubaligh atau dai sebagai sosok yang suci, tinggi ilmunya dan luas wawasannya. Seorang ulama atau dai biasanya berpenampilan rapi, bergaya intelek, merdu suaranya dan menawan gaya bicaranya. Ulama adalah sosok tokoh yang cerdas, dikagumi dan jadi idola masyarakat Islam.

Akan tetapi tidak demikian di LDII, para dai atau mubaligh yang baru lulus pondok itulah dikenal dengan sebutan populer "Mubaligh Plentis". Plentis adalah terminologi Jawa yang berarti, kecil, remeh atau tidak berarti. Profil mubalig LDII kebanyakan adalah anak desa yang tidak berpendidikan, dropout sekolah, SDTT (sekolah dasar tidak tamat).

Mubaligh plentis penampilannya juga “nggak mbejaji”, wajahnya kusam, pakaiannya lusuh, dan badannya lesu ogah-ogahan. Karena berasal dari kalangan bawah mubaligh plentis juga tidak pandai berkomunikasi, gaya bicaranya gugup tidak enak didengar. Tabiatnya terkadang juga tampak kampungan.

Mubaligh plentis LDII jauh dari gambaran seorang dai atau ulama yang ideal. Karena penampilan dan gaya bicaranya, mubaligh LDII sering diremehkan dan jadi bahan olok-olok. Namun siapa sangka bahwa mereka itulah sebenarnya tulang punggung dakwah yang dikembangkan oleh LDII selama ini.

Para mubaligh itulah ujung tombak penyebaran ilmu Quran dan Sunnah di daerah-daerah terpencil yang belum terjamah, oleh pemerintah sekalipun. Mereka rela bersepeda ontel puluhan kilometer untuk membagikan ilmunya yang tidak seberapa, tanpa pamrih apapun kecuali ridho Allah. Mubaligh plentis secara materi tidak memiliki apa-apa, karena itu mereka tidak pernah takut kehilangan apa-apa kecuali keimanannya.

Mubaligh adalah simbol perjuangan dakwah Islam, Quran dan Hadist. Mubalig plentis adalah para mujahid sejati. Dengan perantara para mubaligh plentis, jutaan umat menjadi melek agama. Dengan jasa para mubaligh plentis daerah-daerah terpencil yang gelap menjadi terang oleh cahaya Allah.

Diakui atau tidak, dalam sejarah demokrasi dan kebebasan beragama di Indonesia, di luar mainstream NU dan Muhammadiyah, belum pernah ada organisasi Islam yang mengemuka dan membesar kecuali hanya satu yaitu LDII - Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Berawal dari seorang ulama nyentrik di desa Bangi, LDII saat ini menjelma menjadi salah satu kekuatan sosial yang disegani. LDII sekarang memiliki Dewan Perwakilan Wilayah di 33 propinsi, dengan membawahi 507 DPD tingkat kabubaten/kota, 4500 DPC tingkat kecamatan dan ribuan masjid di desa-desa seluruh Indonesia. Tidak kurang dari 20 (dua puluh) juta orang telah bergabung mengaji Quran dan Hadist di LDII.

Besarnya LDII itu bukan karena fasilitas pemerintah, juga bukan karena sokongan dana yayasan internasional. LDII tidak dikembangkan oleh para intelek yang bekerja di ruang ber-AC dengan fasilitas yang lengkap dan nyaman. LDII juga tidak dibesarkan oleh orang-orang kaya bakhil yang senantiasa kuatir kekayaannya akan berkurang. Eksistensi LDII juga bukan karena pejabat yang selalu takut kehilangan jabatannya karena dicap fundamentalis. Akan tetapi, LDII dibangun dan dibesarkan di atas pondasi perjuangan, pengorbanan dan penderitaan orang-orang yang dalam dirinya hidup jiwa dan semangat mubaligh plentis.