وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Senin, 09 Januari 2012

Mengapa Islam Menang?

Ditulis oleh JOHN M. Owen IV diterjemahkan oleh LDII Sidoarjo
NY Times - Pemilihan legeslatif MESIR putaran final belum akan berakhir sampai minggu depan, tapi hasilnya sudah jelas. Ikhwanul Muslimin kemungkinan besar akan memenangkan setengah majelis rendah Parlemen, dan Islamis yang lebih ekstrim akan menempati seperempat. Partai-partai sekuler akan menguasai hanya 25 persen kursi.

Islamisme bukan penyebab pergolakan Arab. Pemerintahan otoriter-lah yang gagal mewujudkan janji-janji mereka. Meskipun pemerintah otoriear Arab telah berjalan baik dari tahun 1950-an hingga 1980-an, akhirnya ekonomi mengalami stagnasi, hutang menggunung dan terus membengkak, masyarakat berpendidikan melihat rakyat adil makmur yang mereka janjikan lenyap di atas cakrawala, menyakitkan hampir semua orang, sekuler maupun Islamis.

Akan tetapi minggu-minggu terakhir, telah membuktikan bahwa hasil sebuah revolusi tidak harus mengikuti penyebabnya. Alih-alih membawa revolusioner sekuler berkuasa, berseminya Arab menumbuhkan bunga rona Islam secara meyakinkan. Lebih mengejutkan lagi, Islamis menang secara jujur: partai-partai keagamaan yang pertama kali memperjuangkan kebebasan, pemilu secara terbuka di Tunisia, Maroko dan Mesir. Lalu mengapa begitu banyak orang Arab memberikan suara bagi partai-partai politik yang tampak menentang Barat?

Sejarah Barat sendiri telah memberi jawaban. Dari tahun 1820 sampai 1850, Eropa mempengaruhi dunia Arab saat ini dalam dua hal. Baik Eropa maupun Arab mengalami pemberontakan bersejarah dan tampaknya menjalar melanda satu negara ke negara lain. Dan kasus kedua, masyarakat yang frustrasi di banyak negara dengan relatif sedikit kesamaan berunjuk rasa mengusung sebuah ideologi tunggal - yang tidak mereka buat sendiri, tetapi diwarisi dari generasi radikal sebelumnya.

Pada abad ke-19 Eropa, ideologi itu adalah liberalisme. Ideologi itu lahir pada akhir abad ke-18 dari Amerika, Belanda, Polandia dan terutama saat revolusi Perancis. Sedangkan perpecahan politik utama dalam masyarakat telah lama terjadi antara raja dan bangsawan, revolusi itu membentuk pola baru antara "rezim lama" monarki, kaum bangsawan dan gereja, serta golongan komersial baru dan tuan tanah kecil. Kelompok terakhir itu adalah rezim lama yang melahirkan pemangsa pajak, kebangkrutan finansial, korupsi, perang berkepanjangan dan penyakit kronis lain yang menyengsarakan rakyat. Solusi liberal adalah memperpanjang hak-hak dan kebebasan selain bangsawan, yang telah mewarisi mereka dari Abad Pertengahan.

Menekan liberalisme menjadi tujuan utama rezim absolutis di Austria, Rusia dan Prusia setelah mereka membantu mengalahkan Prancis pada 1815. Pangeran Klemens von Metternich, kanselir Austria yang berpengaruh, mengklaim bahwa kebebasan "prinsip Inggris" adalah orang asing di Benua ini. Tapi jaringan liberal - Italia Carbonari, Freemason, Radicals Inggris - terus beroperasi di bawah tanah, mempengaruhi masyarakat dan memprovokasikan bahasa umum untuk berselisih pendapat.

Gerakan ini membantu meletakkan dasar ideologi liberal bagi revolusi Spanyol pada tahun 1820. Dari sana, pemberontakan menyebar ke Portugal, negara bagian Italia Napoli dan Piedmont, dan Yunani. Berita tentang Revolusi Spanyol bahkan memacu adopsi konstitusi liberal di negara-negara baru seperti; Gran Kolombia, Argentina, Uruguay, Peru dan Meksiko. Meskipun tuntutan mereka berbeda, setiap kasus liberalisme menjadi titik temu dan program politik dimana orang-orang yang tidak puas bisa setuju.

Satu dekade kemudian, pada bulan Juli 1830, sebuah revolusi menggulingkan monarki konservatif Bourbon Perancis. Pemberontakan menyebar ke Belgia, Swiss, sejumlah negara bagian Jerman dan Italia dan Polandia. Sekali lagi, berbagai ketidakpuasan disuling menjadi penolakan rezim lama dan penerimaan faham liberalisme.

Revolusi tahun 1848 lebih banyak dan beruntun, tetapi sangat mirip dengan yang sebelumnya. Pemberontak dengan beberapa kesamaan - buruh pabrik di Paris, petani di Irlandia, pengrajin di Wina - mengikuti naskah yang ditulis pada tahun 1790 yang berlanjut terus-menerus di tahun-tahun berikutnya di seluruh benua.

Hari ini, orang Arab pedesaan maupun perkotaan dengan latar belakang berbagai budaya dan sejarah menunjukkan bahwa mereka sama-sama mengalami kekecewaan mendalam akibat kelaliman dan menuntut perbaikan. Sebagian besar, apakah yang moderat atau yang radikal, yang hidup di monarki atau di republik, sama-sama mewarisi bahasa bersama: Islamisme.

Politik Islam, terutama haluan keras yang dipraktekkan oleh Salafi di Mesir, sedang naik daun terutama karena memanfaatkan akar ideologi yang telah mengikat jauh sebelum pemberontakan dimulai. Dirintis pada tahun 1920 oleh Ikhwanul Muslimin, terus berkembang dengan banyak afiliasi dan cabang, didorong oleh kegagalan Nasserisme dan Baathisme, mungkin disokong dana dari Saudi dan Qatar, dan terinspirasi oleh revolusioner Iran dulu, Islamisme telah bertahun-tahun memberikan gambaran yang kuat tentang apa penyakit masyarakat Muslim dan di mana obatnya.

Jauh dari gambaran Islamisme yang naif, seperti perkiraan beberapa pakar, Kebangkitan Arab telah meningkatkan keyakinan; Islam, bagaimanapun, telah lama mengecam rezim-rezim korup yang dipastikan gagal.

Liberalisme Eropa abad ke-19, dan Islamisme di dunia Arab saat ini, seperti saluran yang digali oleh satu generasi aktivis dan dibiarkan tetap terbuka, secara diam-diam, oleh generasi penerusnya. Ketika badai revolusi tiba, baik di Eropa maupun di Timur Tengah, air akan menemukan saluran-saluran itu. Islam saat ini menang karena Islam adalah saluran terdalam dan terluas di mana ketidakpuasan Arab saat ini dapat mengalir.

John M. Owen IV , seorang guru besar politik di University of Virginia, adalah penulis “The Clash of Ideas in World Politics: Transnational Networks, States, and Regime Change, 1510-2010.”

Sumber: The New York Times

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Mengapa Islam Menang?

Ditulis oleh JOHN M. Owen IV diterjemahkan oleh LDII Sidoarjo
NY Times - Pemilihan legeslatif MESIR putaran final belum akan berakhir sampai minggu depan, tapi hasilnya sudah jelas. Ikhwanul Muslimin kemungkinan besar akan memenangkan setengah majelis rendah Parlemen, dan Islamis yang lebih ekstrim akan menempati seperempat. Partai-partai sekuler akan menguasai hanya 25 persen kursi.

Islamisme bukan penyebab pergolakan Arab. Pemerintahan otoriter-lah yang gagal mewujudkan janji-janji mereka. Meskipun pemerintah otoriear Arab telah berjalan baik dari tahun 1950-an hingga 1980-an, akhirnya ekonomi mengalami stagnasi, hutang menggunung dan terus membengkak, masyarakat berpendidikan melihat rakyat adil makmur yang mereka janjikan lenyap di atas cakrawala, menyakitkan hampir semua orang, sekuler maupun Islamis.

Akan tetapi minggu-minggu terakhir, telah membuktikan bahwa hasil sebuah revolusi tidak harus mengikuti penyebabnya. Alih-alih membawa revolusioner sekuler berkuasa, berseminya Arab menumbuhkan bunga rona Islam secara meyakinkan. Lebih mengejutkan lagi, Islamis menang secara jujur: partai-partai keagamaan yang pertama kali memperjuangkan kebebasan, pemilu secara terbuka di Tunisia, Maroko dan Mesir. Lalu mengapa begitu banyak orang Arab memberikan suara bagi partai-partai politik yang tampak menentang Barat?

Sejarah Barat sendiri telah memberi jawaban. Dari tahun 1820 sampai 1850, Eropa mempengaruhi dunia Arab saat ini dalam dua hal. Baik Eropa maupun Arab mengalami pemberontakan bersejarah dan tampaknya menjalar melanda satu negara ke negara lain. Dan kasus kedua, masyarakat yang frustrasi di banyak negara dengan relatif sedikit kesamaan berunjuk rasa mengusung sebuah ideologi tunggal - yang tidak mereka buat sendiri, tetapi diwarisi dari generasi radikal sebelumnya.

Pada abad ke-19 Eropa, ideologi itu adalah liberalisme. Ideologi itu lahir pada akhir abad ke-18 dari Amerika, Belanda, Polandia dan terutama saat revolusi Perancis. Sedangkan perpecahan politik utama dalam masyarakat telah lama terjadi antara raja dan bangsawan, revolusi itu membentuk pola baru antara "rezim lama" monarki, kaum bangsawan dan gereja, serta golongan komersial baru dan tuan tanah kecil. Kelompok terakhir itu adalah rezim lama yang melahirkan pemangsa pajak, kebangkrutan finansial, korupsi, perang berkepanjangan dan penyakit kronis lain yang menyengsarakan rakyat. Solusi liberal adalah memperpanjang hak-hak dan kebebasan selain bangsawan, yang telah mewarisi mereka dari Abad Pertengahan.

Menekan liberalisme menjadi tujuan utama rezim absolutis di Austria, Rusia dan Prusia setelah mereka membantu mengalahkan Prancis pada 1815. Pangeran Klemens von Metternich, kanselir Austria yang berpengaruh, mengklaim bahwa kebebasan "prinsip Inggris" adalah orang asing di Benua ini. Tapi jaringan liberal - Italia Carbonari, Freemason, Radicals Inggris - terus beroperasi di bawah tanah, mempengaruhi masyarakat dan memprovokasikan bahasa umum untuk berselisih pendapat.

Gerakan ini membantu meletakkan dasar ideologi liberal bagi revolusi Spanyol pada tahun 1820. Dari sana, pemberontakan menyebar ke Portugal, negara bagian Italia Napoli dan Piedmont, dan Yunani. Berita tentang Revolusi Spanyol bahkan memacu adopsi konstitusi liberal di negara-negara baru seperti; Gran Kolombia, Argentina, Uruguay, Peru dan Meksiko. Meskipun tuntutan mereka berbeda, setiap kasus liberalisme menjadi titik temu dan program politik dimana orang-orang yang tidak puas bisa setuju.

Satu dekade kemudian, pada bulan Juli 1830, sebuah revolusi menggulingkan monarki konservatif Bourbon Perancis. Pemberontakan menyebar ke Belgia, Swiss, sejumlah negara bagian Jerman dan Italia dan Polandia. Sekali lagi, berbagai ketidakpuasan disuling menjadi penolakan rezim lama dan penerimaan faham liberalisme.

Revolusi tahun 1848 lebih banyak dan beruntun, tetapi sangat mirip dengan yang sebelumnya. Pemberontak dengan beberapa kesamaan - buruh pabrik di Paris, petani di Irlandia, pengrajin di Wina - mengikuti naskah yang ditulis pada tahun 1790 yang berlanjut terus-menerus di tahun-tahun berikutnya di seluruh benua.

Hari ini, orang Arab pedesaan maupun perkotaan dengan latar belakang berbagai budaya dan sejarah menunjukkan bahwa mereka sama-sama mengalami kekecewaan mendalam akibat kelaliman dan menuntut perbaikan. Sebagian besar, apakah yang moderat atau yang radikal, yang hidup di monarki atau di republik, sama-sama mewarisi bahasa bersama: Islamisme.

Politik Islam, terutama haluan keras yang dipraktekkan oleh Salafi di Mesir, sedang naik daun terutama karena memanfaatkan akar ideologi yang telah mengikat jauh sebelum pemberontakan dimulai. Dirintis pada tahun 1920 oleh Ikhwanul Muslimin, terus berkembang dengan banyak afiliasi dan cabang, didorong oleh kegagalan Nasserisme dan Baathisme, mungkin disokong dana dari Saudi dan Qatar, dan terinspirasi oleh revolusioner Iran dulu, Islamisme telah bertahun-tahun memberikan gambaran yang kuat tentang apa penyakit masyarakat Muslim dan di mana obatnya.

Jauh dari gambaran Islamisme yang naif, seperti perkiraan beberapa pakar, Kebangkitan Arab telah meningkatkan keyakinan; Islam, bagaimanapun, telah lama mengecam rezim-rezim korup yang dipastikan gagal.

Liberalisme Eropa abad ke-19, dan Islamisme di dunia Arab saat ini, seperti saluran yang digali oleh satu generasi aktivis dan dibiarkan tetap terbuka, secara diam-diam, oleh generasi penerusnya. Ketika badai revolusi tiba, baik di Eropa maupun di Timur Tengah, air akan menemukan saluran-saluran itu. Islam saat ini menang karena Islam adalah saluran terdalam dan terluas di mana ketidakpuasan Arab saat ini dapat mengalir.

John M. Owen IV , seorang guru besar politik di University of Virginia, adalah penulis “The Clash of Ideas in World Politics: Transnational Networks, States, and Regime Change, 1510-2010.”

Sumber: The New York Times