وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Jumat, 20 Januari 2012

Di Manhattan Komunitas Muslim Tumbuh


Anggota Islamic Center Manhattan berkumpul di luar masjid setelah shalat Jumat. Islamic Center, yang terletak di sudut Clafl in Rd. dan Hylton Heights Rd., selalu terbuka bagi umat Islam untuk shalat dan beribadah.
Denise Carvin, warga Manhattan, berbicara dengan wanita lain setelah shalat Jumat di Islamic Center Manhattan. Masyarakat Muslim berkumpul bersama setiap hari Jumat siang untuk mendengarkan khutbah dan salat
Sepintas, Manhattan dapat dipandang sebagai sebuah komunitas kecil yang didominasi kulit putih, Kristen. Tetapi dengan K-State yang sedang mengembangkan program mahasiswa internasional, Manhattan telah menjadi sebuah kota Kansas yang sangat beragam sepanjang tahun. Satu kelompok etnis yang telah tumbuh adalah komunitas Muslim di Manhattan.

"Sebagian besar anggota komunitas kami adalah mahasiswa. Mereka tertarik ke sini karena K-State," kata Abdulrahman Kamal, mahasiswa pascasarjana bidang kurikulum dan pengajaran. Kamal adalah pimpinan komisi eksekutif Islamic Center dan Asosiasi Mahasiswa Muslim di K-State.

Melalui Layanan Siswa Internasional, para mahasiswa dari banyak negara, termasuk Arab Saudi, Pakistan, India, Mesir, Turki, Malaysia dan Libya datang ke K-State untuk menuntut ilmu. Menurut statistik dari ISS, mahasiswa dari Arab Saudi sekarang ini merupakan warga asing terbesar yang sedang belajar di K-State.

"Sejak tahun 2006, pemerintah di Arab Saudi memiliki program baru yang mengirim lebih banyak siswa ke luar negeri," kata Kamal. "Saya mendengar dari teman-teman yang ada di sini, sebelum program itu dimulai, pelajar Saudi hanya sekitar 10 atau 12 orang, mereka sebagian besar mahasiswa pascasarjana. Tapi sekarang ada lebih 120 orang dan kebanyakan mereka adalah mahasiswa S1”.

Dengan melonjaknya jumlah Muslim, satu hal yang belum ada di Manhattan adalah tempat bagi para Muslim untuk shalat dan berkumpul bersama. Ini sudah dirasakan sejak 1980-an .

Menurut situs resmi Islamic Center Manhattan, Komunitas Muslim menyadari bahwa tempat ibadah itu sangat diperlukan dan mereka bekerja untuk mendapatkan sebuah rumah dua lantai yang kemudian secara resmi menjadi masjid pertama di Manhattan.

Setelah rumah ini tumbuh pesat, masyarakat Muslim akhirnya mampu membangun masjid yang berdiri saat ini melalui donasi dari seluruh AS. dan luar negeri. Islamic Center Manhattan terletak di 1224 Hylton Heights Rd. memiliki ruang shalat terpisah antara pria dan wanita, perpustakaan, kelas untuk sekolah Anak-Anak Islam dan area untuk pertemuan sosial.

Masjid berfungsi sebagai tempat bagi umat Islam untuk berkumpul dalam acara sosial, perayaan dan shalat. Dalam Islam, Muslim wajib shalat lima kali sehari.

"Khusus untuk laki-laki, lebih baik untuk shalat berjamaah di masjid , "kata Kamal . "Karena kami adalah mahasiswa di sini, kami datang subuh sebelum fajar dan saat maghrib setelah matahari terbenam. "

Kamal mengatakan mereka juga melakukan shalat Jumat seminggu sekali yang terdiri dari khutbah dua puluh lima menit dan shalat dua rakaat.

"Shalat Jumat adalah saat di mana Anda dapat melihat sebagian besar anggota datang. Setiap Jumat, ada sekitar 80 sampai 90 saudara Muslim datang dan shalat," katanya. "Untuk wanita, tidak wajib, tetapi mereka juga boleh datang."

Siswa juga memiliki tempat berkumpul dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim. Ini adalah organisasi mahasiswa K-State yang berasal dari Islamic Center.

"Asosiasi Mahasiswa Muslim mewadahi komunitas Muslim dan mahasiswa Islam," kata Abdulla Al-Alili, anggota komite eksekutif Islamic Center. "Setiap tahun, mereka mencoba untuk mendatangkan pembicara tamu untuk berbicara tentang Islam dan memberikan pemikiran-pemikiran tentang Islam, karena Anda tahu bagaimana media di sini menggambarkan komunitas Muslim dan kami mencoba untuk mengklarifikasi hal ini."

Sebagai mahasiswa Islam yang belajar di lingkungan non-Islam, waktu shalat sering berbenturan dengan jadwal kuliah. Kamal tahu bahwa profesor bekerja sesuai jadwal namun memastikan dia dapat menjalankan agamanya.

"Aku pergi selama empat atau lima menit kemudian kembali," katanya. "Terutama di bidang pendidikan, kuliah kita biasanya dua setengah jam. Jadi kami harus keluar kelas kalau tidak ingin kehilangan waktu shalat. Semua instruktur saya memahami hal ini. Mereka mengijinkan kami hanya selama lima menit, aku pergi begiru saja.”

Kamal mengatakan ada mushalla di lantai empat perpustakaan tempat ia melaksanakan shalat. Ia mengatakan tempat itu adalah di mana banyak muslim melaksanakanshalat saat mereka belajar di perpustakaan.

Islam adalah agama monoteistik, hanya menyembah Allah. Agama ini memiliki lima rukun Islam, yaitu amalan umum dalam Islam. Rukun Islam terdiri dari; mengucapkan syahadat, shalat lima waktu, zakat - suatu amalan sedekah wajib - puasa dan haji ke Mekah.

Haji seringkali sulit dilaksanakan oleh kaum Muslim, karena mahalnya biaya perjalanan ke tanah suci, namun jika perjalanan haji mungkin bagi seseorang satu kali dalam hidup maka haji wajib hukumnya. Al-Alili adalah salah satu Muslim yang mampu melakukan perjalanan ke Mekkah.

"Satu hal yang saya suka tentang haji adalah bahwa setiap orang adalah sama derajatnya," katanya. "Kaya, miskin, laki-laki, perempuan, terutama laki-laki, mereka memakai pakaian sederhana. Anda tidak bisa membedakan antara penguasa atau raja atau orang-orang miskin. Sungguh luar biasa..."

Kamal, yang berasal dari Arab Saudi, juga sudah melaksanakan haji.

"Haji adalah kesempatan besar untuk berbicara, untuk saling bertukar ide, untuk belajar tentang budaya yang berbeda," katanya. "Aku dibesarkan di Mekkah, jadi sekitar rumah kami banyak Muslim dari seluruh dunia, dari Pakistan, dari negara-negara Arab, dari negara-negara Afrika. Saya telah banyak belajar dari mereka."

Sumber: kstatecollegian.com

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Di Manhattan Komunitas Muslim Tumbuh


Anggota Islamic Center Manhattan berkumpul di luar masjid setelah shalat Jumat. Islamic Center, yang terletak di sudut Clafl in Rd. dan Hylton Heights Rd., selalu terbuka bagi umat Islam untuk shalat dan beribadah.
Denise Carvin, warga Manhattan, berbicara dengan wanita lain setelah shalat Jumat di Islamic Center Manhattan. Masyarakat Muslim berkumpul bersama setiap hari Jumat siang untuk mendengarkan khutbah dan salat
Sepintas, Manhattan dapat dipandang sebagai sebuah komunitas kecil yang didominasi kulit putih, Kristen. Tetapi dengan K-State yang sedang mengembangkan program mahasiswa internasional, Manhattan telah menjadi sebuah kota Kansas yang sangat beragam sepanjang tahun. Satu kelompok etnis yang telah tumbuh adalah komunitas Muslim di Manhattan.

"Sebagian besar anggota komunitas kami adalah mahasiswa. Mereka tertarik ke sini karena K-State," kata Abdulrahman Kamal, mahasiswa pascasarjana bidang kurikulum dan pengajaran. Kamal adalah pimpinan komisi eksekutif Islamic Center dan Asosiasi Mahasiswa Muslim di K-State.

Melalui Layanan Siswa Internasional, para mahasiswa dari banyak negara, termasuk Arab Saudi, Pakistan, India, Mesir, Turki, Malaysia dan Libya datang ke K-State untuk menuntut ilmu. Menurut statistik dari ISS, mahasiswa dari Arab Saudi sekarang ini merupakan warga asing terbesar yang sedang belajar di K-State.

"Sejak tahun 2006, pemerintah di Arab Saudi memiliki program baru yang mengirim lebih banyak siswa ke luar negeri," kata Kamal. "Saya mendengar dari teman-teman yang ada di sini, sebelum program itu dimulai, pelajar Saudi hanya sekitar 10 atau 12 orang, mereka sebagian besar mahasiswa pascasarjana. Tapi sekarang ada lebih 120 orang dan kebanyakan mereka adalah mahasiswa S1”.

Dengan melonjaknya jumlah Muslim, satu hal yang belum ada di Manhattan adalah tempat bagi para Muslim untuk shalat dan berkumpul bersama. Ini sudah dirasakan sejak 1980-an .

Menurut situs resmi Islamic Center Manhattan, Komunitas Muslim menyadari bahwa tempat ibadah itu sangat diperlukan dan mereka bekerja untuk mendapatkan sebuah rumah dua lantai yang kemudian secara resmi menjadi masjid pertama di Manhattan.

Setelah rumah ini tumbuh pesat, masyarakat Muslim akhirnya mampu membangun masjid yang berdiri saat ini melalui donasi dari seluruh AS. dan luar negeri. Islamic Center Manhattan terletak di 1224 Hylton Heights Rd. memiliki ruang shalat terpisah antara pria dan wanita, perpustakaan, kelas untuk sekolah Anak-Anak Islam dan area untuk pertemuan sosial.

Masjid berfungsi sebagai tempat bagi umat Islam untuk berkumpul dalam acara sosial, perayaan dan shalat. Dalam Islam, Muslim wajib shalat lima kali sehari.

"Khusus untuk laki-laki, lebih baik untuk shalat berjamaah di masjid , "kata Kamal . "Karena kami adalah mahasiswa di sini, kami datang subuh sebelum fajar dan saat maghrib setelah matahari terbenam. "

Kamal mengatakan mereka juga melakukan shalat Jumat seminggu sekali yang terdiri dari khutbah dua puluh lima menit dan shalat dua rakaat.

"Shalat Jumat adalah saat di mana Anda dapat melihat sebagian besar anggota datang. Setiap Jumat, ada sekitar 80 sampai 90 saudara Muslim datang dan shalat," katanya. "Untuk wanita, tidak wajib, tetapi mereka juga boleh datang."

Siswa juga memiliki tempat berkumpul dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim. Ini adalah organisasi mahasiswa K-State yang berasal dari Islamic Center.

"Asosiasi Mahasiswa Muslim mewadahi komunitas Muslim dan mahasiswa Islam," kata Abdulla Al-Alili, anggota komite eksekutif Islamic Center. "Setiap tahun, mereka mencoba untuk mendatangkan pembicara tamu untuk berbicara tentang Islam dan memberikan pemikiran-pemikiran tentang Islam, karena Anda tahu bagaimana media di sini menggambarkan komunitas Muslim dan kami mencoba untuk mengklarifikasi hal ini."

Sebagai mahasiswa Islam yang belajar di lingkungan non-Islam, waktu shalat sering berbenturan dengan jadwal kuliah. Kamal tahu bahwa profesor bekerja sesuai jadwal namun memastikan dia dapat menjalankan agamanya.

"Aku pergi selama empat atau lima menit kemudian kembali," katanya. "Terutama di bidang pendidikan, kuliah kita biasanya dua setengah jam. Jadi kami harus keluar kelas kalau tidak ingin kehilangan waktu shalat. Semua instruktur saya memahami hal ini. Mereka mengijinkan kami hanya selama lima menit, aku pergi begiru saja.”

Kamal mengatakan ada mushalla di lantai empat perpustakaan tempat ia melaksanakan shalat. Ia mengatakan tempat itu adalah di mana banyak muslim melaksanakanshalat saat mereka belajar di perpustakaan.

Islam adalah agama monoteistik, hanya menyembah Allah. Agama ini memiliki lima rukun Islam, yaitu amalan umum dalam Islam. Rukun Islam terdiri dari; mengucapkan syahadat, shalat lima waktu, zakat - suatu amalan sedekah wajib - puasa dan haji ke Mekah.

Haji seringkali sulit dilaksanakan oleh kaum Muslim, karena mahalnya biaya perjalanan ke tanah suci, namun jika perjalanan haji mungkin bagi seseorang satu kali dalam hidup maka haji wajib hukumnya. Al-Alili adalah salah satu Muslim yang mampu melakukan perjalanan ke Mekkah.

"Satu hal yang saya suka tentang haji adalah bahwa setiap orang adalah sama derajatnya," katanya. "Kaya, miskin, laki-laki, perempuan, terutama laki-laki, mereka memakai pakaian sederhana. Anda tidak bisa membedakan antara penguasa atau raja atau orang-orang miskin. Sungguh luar biasa..."

Kamal, yang berasal dari Arab Saudi, juga sudah melaksanakan haji.

"Haji adalah kesempatan besar untuk berbicara, untuk saling bertukar ide, untuk belajar tentang budaya yang berbeda," katanya. "Aku dibesarkan di Mekkah, jadi sekitar rumah kami banyak Muslim dari seluruh dunia, dari Pakistan, dari negara-negara Arab, dari negara-negara Afrika. Saya telah banyak belajar dari mereka."

Sumber: kstatecollegian.com