وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Sabtu, 31 Desember 2011

Bagaimanakah Facebook dan Twitter Berdampak pada Islam?

Nidhal Guessoum

Profesor Fisika dan Astronomi di American University of Sharjah, UEA
Saat shalat Jumat terakhir, di sebelah saya duduk seorang muslim muda menggenggam Blackberry-nya dan mulai memeriksa SMS-SMS nya sementara Imam sedang menyampaikan khutbah. Saya agak kaget. Lalu pemuda itu menyingkirkan smartphone-nya, tapi 10 menit kemudian mengeluarkannya lagi dan mengetik beberapa hal. Ini memberi saya dua pertanda yaitu sedikitnya (pendeknya) perhatian dan bahwa anak-anak saat ini telah menjadi korban kecanduan dunia maya.

Saya tidak bisa menghapus adegan tersebut dari pikiran, sehingga saya kemudian browsing "Twitter dan layanan agama", dan lihatlah, saya menemukan halaman berjudul "Tweeting selama kebaktian gereja mendapat berkat dari pendeta" (sebuah artikel di Houston Chronicle dua tahun yang lalu) dan "Apakah Tuhan menggunakan Tweeter?", sebuah forum online yang diselenggarakan oleh Washington Post dua tahun lalu, di mana 16 kontributor menyajikan pendapat mereka tentang apakah hubungan dengan Tuhan dapat dilakukan melalui Twitter? Apakah doa bisa direduksi menjadi sebuah pernyataan 140-karakter? Apakah kita tidak lagi bisa membebaskan pikiran kita, menenangkan batin, fokus pada dimensi spiritual kita, dan meneguhkan suasana keagamaan yang bermakna?

Kemudian, saya bertanya-tanya bagaimana Twitter, Facebook, dan jejaring sosial saat ini dan masa depan serta media micro-blogging akan mempengaruhi agama-agama pada umumnya dan Islam pada khususnya. Kekhawatiran saya meningkat ketika saya menemukan sebuah artikel berjudul "25 Alasan Kenapa Twitter Spiritual", tapi tidak ada satupun alasan yang meyakinkan.
Jumat, 30 Desember 2011

Marzuki Alie: Santri Harus Berfikir untuk Menjadi Orang Kaya

Pondok Pesantren (Ponpes) diminta membekali para santri-nya untuk siap menjadi pengusaha yang kaya agar pada saatnya dapat menjadi orang yang banyak memberi bukan meminta-minta. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk berupaya menjadi orang kaya, tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi orang miskin. “Salah besar kalau pendidikan pesantren itu mengarahkan menjadi miskin. Saya keliling pesantren untuk menjelaskan ini. Rasul kita itu tidak miskin kok, dia pengusaha yang kaya karena mampu menyediakan mahar 40 unta saat menikah dengan Khadijah. Walaupun pengusaha kaya namun yang paling penting Nabi hidupnya sederhana, beliau kaya untuk memberi,” jelas Ketua DPR RI Marzuki Alie saat menyampaikan ceramah di Ponpes LDII Gading Mangu, Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12/11).

Orientasi pendidikan di pesantren jangan hanya mengarahkan santri untuk bisa berceramah saja, tapi perlu berikhtiar membangun ekonomi umat berbasis komunitas dan potensi di masyarakat. Sebagai perbandingan ia mengaku pernah meninjau satu lembaga keuangan mikro di Bali yang bisnisnya bisa mencapai triliunan rupiah. Ini menurutnya bisa mensejahterakan satu desa, sekaligus membangun dan menjaga budayanya. “Saya juga pernah mencoba memberdayakan ekonomi satu panti asuhan di Palembang dan berhasil. Warga panti diajarkan membuka toko sederhana, dilatih keterampilan menjahit, memasarkan. Akhirnya mereka mandiri kalau sebelumnya rutin datang meminta bantuan, setelah itu tidak pernah lagi,” paparnya. Baginya kalau bangsa ini berkomitmen membangun dan menjaga konsistensi, urusan negara tidak ada sulitnya. “Saya sudah sampaikan kepada Wapres bagaimana membangun ekonomi berdasarkan komunitas sesuai potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu apa sudah berjalan, yang penting sudah saya sampaikan.”

Ketua DPR-RI memotivasi santri untuk mulai dari sekarang berfikir bagaimana menjadi kaya dengan cara yang halal. Tuhan katanya sudah menunjukkan ini jalan yang baik dan itu tidak baik. “Menjadi kaya supaya bermanfaat, supaya bisa membantu umat yang lain. Berfikirlah jadi orang kaya, bagaimana caranya belajarlah dari sekarang, berfikir kedepan mau jadi apa, rencanakan dari sekarang. Dengan niat, usaha keras, keyakinan, doa dan tawakal insyaAllah tercapai,” demikian Marzuki.

Dalam kesempatan itu Ketua DPR meresmikan gedung baru TK dan SMP Ponpes Gading Mangu. Pimpinan pesantren Nurhadi menjelaskan komplek pendidikan yang berdiri berdiri di desa Perak sejak tahun 1952 terus berkembang. Saat ini telah memiliki 95 ustadz/guru dan 3960 santri, 1598 diantaranya tinggal di pondok. Ia juga menyebut sedang menuntaskan pembangunan Mesjid Luhur Nurhasan yang menurutnya salah satu mesjid terbesar untuk tingkat desa di seluruh Indonesia.
Kamis, 29 Desember 2011

Tujuh TKI di Saudi Terbebas dari Ancaman Hukuman Mati

Tujuh dari 45 TKI yang terancam hukuman mati dipastikan terbebas dari hukuman itu, menurut kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat.

"Totalnya tujuh yang sudah siap dalam pembebasan dan ini tentunya hasil kerja keras dari seluruh pihak," kata Jumhur kepada BBC Indonesia.

Dari 45 TKI yang menghadapi ancaman hukuman mati, lima diantaranya sudah termasuk vonis tetap.

Namun menurut Jumhur kelima orang ini masih termasuk Tuti Tursilawati, yang seharusnya sudah dihukum pancung.

"Tuti seharusnya sudah dihukum pancung pada musim haji lalu...namun presiden telah membuat surat ke raja Saudi dan akhirnya raja bisa memerintahkan untuk diberikan kesempatan lagi kepada Indonesia untuk melakukan pendekatan kepada keluarga," tambah Jumhur.

"Kita masih terus melakukan pendekatan dan masih ada waktu (untuk menunda dan meminta maaf dari pihak keluarga)," tambahnya.

Jumhur juga mengatakan jumlah TKI yang terancam hukuman mati di negara lain berjumlah 148 orang di Malaysia, 117 diantaranya terlibat narkoba, di Iran tiga orang, di Singapura dua orang dan di Cina 40 orang, karena terlibat narkoba.
Senin, 26 Desember 2011

LDII Buah Batu dan RSUD Al Ihsan Gelar Khitanan Massal

BANDUNG, (PRLM).- Sebanyak 33 anak dari keluarga kurang mampu mengikuti khitanan massal yang diadakan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Buah Batu dan RSUD Al Ihsan Baleendah, Minggu (25/12). Khitanan di Masjid Sabilul Muttaqin dihadiri Camat Buah Batu H. Wawan Wahidin, Wakil Ketua LDII Kota Bandung H. Suryatna, dan Ketua Pengurus Wilayah LDII H. Bahrudin.

Menurut Ketua panitia, H. Kholil Mawardi, target khitanan massal untuk 40 anak, namun tercapai 33 anak. "Ternyata mencari anak agar ikut khitanan massal tidak mudah karena ada perasaan gengsi ikut khitanan gratis. Belum lagi dengan banyaknya lembaga yang juga mengadakan acara serupa," katanya.

Menurut Wadir RSUD Al Ihsan, dr. H. Agus Muharram, untuk khitanan massal mengerahkan dokter dan puluhan perawat. "Kami selalu terbuka kepada siapa saja yang akan mengadakan bakti sosial dan perlu bantuan dari RSUD Al Ihsan," katanya.

Acara juga dimeriahkan dengan bazar untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Kami menyambut baik adanya bazar ini karena bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat," kata Wawan Wahidin. (A-71/A-147)***

Sumber: pikiran-rakyat.com
Minggu, 25 Desember 2011

Wajibnya Belajar Faroid

العِلْمُ ثَلَاثَةٌ وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ ءاَيَةٌ مُحْكَمَةٌ أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ أَوْ فَرِيْضَةٌ عَادِلَةٌ *رواه أبوداود عن عبدالله بن عمرو بن العاص
“Ilmu (yang wajib di cari) itu ada tiga, adapun selain dari tiga itu merupakan lebihan (tidak wajib dicari); ayat yang muhkam (Al Quran) Sunnah yang tegak (Al Hadist) atau ilmu faroid yang adil (ilmu pembagian waris)”.
[Hadist riwayat Abu Dawud dari Abdulloh bin U’mar bin A’sh]

2719 - حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبِي الْعِطَافِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي»
...Abi Huroiroh meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda:”Wahai Aba Hurarirah, belajarlah engkau ilmu faroid dan ajarkanlah, sesungguhnya Ilmu Faroid itu merupakan separoh dari ilmu dan ilmu faroid bakal dihapus dari ingatan, Ilmu Faroid adalah pertama kali barang yang dicabut dari umatku”.
[Hadist Ibnu Majah 2719 Kitabu Faroid]
Sabtu, 24 Desember 2011

Wamenag: UU Kerukunan Umat Beragama Redam Potensi Konflik Agama

Jakarta (Pinmas) - Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Nasararuddin Umar, menekankan, pentingnya Undang-Undang Kerukunan Beragama (UU) guna mengatur kehidupan antar umat beragama di Indonesia. Karena itu, Nasaruddin berharap, semua kalangan umat di Tanah Air khususnya perwakilan majelis agama mampu menyatukan gagasan dan pikiran agar UU KUB yang saat ini telah berbentuk Rancangan Undang-Undang (RUU) bisa mengakomodir aspirasi pemeluk agama.

Hal ini disampaikan Nasaruddin usai membuka Workshop Menyikapi Kehendak Masyarakat Tentang RUU KUB yang dihadiri sejumlah tokoh agama dan akademisi, di Jakarta, Rabu (21/12) malam. "Kita perlu mempertemukan wawasan semua pihak dalam rangka melihat konsep dan membahas keberadaan RUU KB ini. Sehingga tidak terjadi perbedaan paradigma dan pro dan kontra," ujar Nasaruddin.

RUU KUB saat ini telah dibahas oleh DPR RI dan masuk sebagai salah satu Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Namun RUU ini bukan atas prakarsa pemerintah tapi atas inisiatif DPR RI. Nasaruddin memandang, RUU KUB ini seyogianya tidak diperlukan apabila situasi kehidupan bangsa damai dan tenteram.

Akan tetapi jelas dia, situasi kehidupan bangsa khususnya hubungan umat beragama di Indonesia saat ini dihadapkan dengan fakta yang cukup mengkawatirkan. "Indikasinya terlihat dari beberapa segi, misal problem umat agama dalam internal agama sendiri. Contohnya dalam agama Islam sendiri banyak persoalan seperti ada Ahmadiyah, Tasawuf atau penentuan Hari Raya yang berbeda. Ini semua butuh regulasi,” katanya.

Berikutnya tambah pria yang sebelumnya dikenal sebagai Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kementerian Agama ini, UU KUB juga dimaksudkan untuk meredam potensi konflik antar umat beragama di beberapa wilayah. Meski Nasaruddin mengakui agama bukan aspek utama pemicu konflik.

Sebab itu, ia menyimpulkan ada hal-hal terkait kehidupan umat beragama yang perlu diatur baik itu kerukunan internal, eksternal agama serta dengan pemerintah. "Meski idealnya tidak perlu ada UU tapi faktanya akan lebih parah kalau tidak ada UU," katanya.(jurnas/Aria Triyudha)

Sumber: kemenag.go.id
Kamis, 22 Desember 2011

AKSI KONKRET LDII - Cegah Kerusakan, Tanam Pohon Bakau

Gubernur Sultra Nur Alam, Ketua MUI Pusat Slamet Effendy Yusuf dan Ketua Umum LDII Prof. Abdullah Syam saat memukul kentongan dalam rangka Pencanangan Gerakan Nasional Cinta Bahari (Pemprov Sultra)
Penanaman 3.000 batang bibit mangrove secara simbolis oleh Gubernur Sulaawesi Tenggara Nur Alam, Ketua MUI Pusat Slamet Effendy Yusuf dan Ketua Umum LDII Prof. Abdullah Syam. (Pemprov Sultra)
Sedikitnya 3.000 pohon bakau disiapkan untuk ditanam di dua lokasi, Pantai Nambo dan Teluk Kendari. Dua unit speed boat disiapkan untuk mengantar Gubernur Sultra Nur Alam beserta rombongan dari Jakarta di antaranya Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Syam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Keluarga Hijau Indonesia. Pemukulan kentong dilakukan gubernur tanda dimulainya penanaman pohon bakau secara serentak. Dengan semangat, satu persatu para peserta turun ke pinggir pantai.

Menurut Abdullah, penanaman pohon bakau ini merupakan upaya untuk mencegah bencana alam sebab manfaat tanaman ini sangat banyak. Selain menyerap karbondioksida, keberadaan pohon bakau ini juga akan diikuti dengan perkembangan biota laut. Selama ini, kata Abdullah, sudah banyak pidato atau ceramah mengenai pelestarian alam, tapi masih sedikit yang melakukan aksi melestarikan alam secara konkret. ”Ini merupakan bagian dari dakwah dengan tindakan nyata. Semoga dengan kegiatan ini masyarakat bisa mencontoh untuk menjaga alamnya,” tutur Abdullah di acara Gerakan Nasional Cinta Bahari di Kendari, Minggu (18/12).

Gubernur Sultra Nur Alam menyambut baik kegiatan yang digagas LDII bersama MUI. Dia mengakui, hampir 80% hutan bakau di Sultra tidak terawat. Selain melakukan penanaman pohon, pihaknya akan membentuk Satgas Pemelihara Bakau. Kendari memiliki bentuk teluk yang unik seperti tapal kuda sehingga air pantainya tidak banyak berombak karena tertutup oleh perbukitan. Dengan keunikan ini, sudah semestinya kelestarian bakau menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.
Selasa, 20 Desember 2011

Penguasa Militer Membajak Islam

Oleh DR AAIDH AL-QARNI

Islam telah memerintah negara Arab selama lebih dari seribu tahun, pertama di bawah khalifah Arrosyidin, kemudian Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Bahkan penguasa Muslim non-Arab memanfaatkan kebajikan Islam sebanyak orang-orang Arab sendiri, jika tidak lebih. Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah [Nabi], pemimpin Kurdi Saladin Ayyubi memerintah Umat Muslim dan Yerusalem dibebaskan. Demikian pula, Imad al-Din Zengi Mahmoud adalah seorang pemimpin Turki yang menjunjung kekuasaan Islam selama kejayaan pemerintahannya [berdirinya Dinasti Zengid], begitu pula para penerusnya seperti Nuruddin Zengi.

Dalam dunia non-Arab, Berber Muslim menyatakan, al-Murabitun dan Muwahidun mempertahankan Islam sampai kolonialisme datang dan menghapuskan proyek Islam. Setelah itu, saat kolonialisme berkuasa, kekuasaan di negara-negara Arab dikendalikan oleh para pemimpin militer yang paling bodoh, kejam dan buta huruf, tanpa didukung orang yang berjanji setia kepada mereka di bawah hukum Syariah Islam.

Akibatnya, deklarasi pertama setelah mereka merebut kekuasaan adalah membatalkan hukum Islam, sehingga banyak negara puas dengan hanya merayakan ulang tahun Nabi Muhammad, dan membaca Al-Qur'an selama perayaan dan saat acara-acara tertentu. Hukum Syariah Islam secara luas dihapuskan sebagai sumber hukum untuk kehidupan publik. Negara lain mencampur antara hukum konvensional dan Islam, tapi sepenuhnya gagal mengadaptasi hukum Syariah Islam, sehingga membatasi Islam hanya di masjid. Beberapa pemimpin bahkan menawarkan komunisme, menyatakan afiliasi mereka ke Kremlin di Moskow. Rakyat dipecah-belah dalam melawan upaya ini, padahal mereka semua Muslim. Beberapa negara hanya mengambil dari apa yang cocok untuk mereka, atau apa yang tampak diterima oleh mereka berkaitan dengan tata cara keluarga, hak-hak publik, hukuman, penitipan anak dan sebagainya, sementara meninggalkan apa yang tidak mereka sukai.
Sabtu, 17 Desember 2011

Larangan Membunuh Orang Kafir

Saudara-saudara Muslim yang berpendapat bahwa salah satu bentuk jihad adalah dengan membunuh orang kafir (orang non-Islam), hendaknya mempertimbangkan dan memahami dalil-dalil di bawah ini.

Dikisahkan, pada masa hidup Rasulullah SAW ada seseorang bernama Muchtar yang mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu dari Jibril. Muchtar telah berdusta dan mengingkari kenabian Muhammad SAW. Jelas ia orang kafir dan tidak ada kesulitan bagi para sahabat untuk membunuhnya. Namun sebagai orang kafir yang hidup di masa Nabi Muhammad SAW Muchtar mendapat jaminan hidup dari Rasulullah dan haram hukumnya membunuh dia.

Jadi, bukannya mendapat pahala yang besar namun membunuh orang non-Muslim secara serampangan bisa berakibat murka Allah di akhirat. Masih banyak dalil yang menjamin surga dan derajat tinggi di sisi Allah selain dengan cara membunuh. Untuk menjadi orang beriman yang saleh dan taat tidak harus dengan melakukan teror dan membunuh orang-orang yang tidak relevan.
بَابُ مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا
2686 - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
__________
[حكم الألباني]
صحيح
... Abdillah bin ‘Amri meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membunuh mu’ahadan (orang kafir yang mendapat jaminan) tidak akan mencium baunya Surga, sesungguhnya baunya Surga telah tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.”
Senin, 12 Desember 2011

Larangan Mencaci Agama Lain

ditulis: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam,
pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta

Kajian Ayat 108 dari Surat Al-An'am

Ketika Rasulullah masih di Makkah, melalui beliau SAW Allah melarang orang-orang iman mencaci berhala-berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Karena para penyembahnya pasti akan membalas mencaci Allah dengan marah dan tanpa dasar ilmu. Allah juga menjelaskan bahwa tiap umat pasti meyakini faham dan amalan mereka masing-masing, karena Allah menghias-hiaskan faham dan amalan semua itu pada mereka semua. Dan mereka semua pasti kembali pada Tuhan mereka untuk diberi tahu mengenai yang telah mereka amalkan. Larangan itu tertulis di dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأنعام/ج108]
Artinya:
Dan kalian jangan mencaci orang-orang yang menyembah selain Allah, karena mereka akan mencaci Allah dengan sengit dengan tanpa ilmu. Demikian itulah Kami telah menghias-hiaskan amalan pada tiap-tiap umat. Lalu tempat kembali mereka pada Tuhan mereka. Maka Dia akan menceritakan yang telah mereka amalkan pada mereka (semuanya).
[Qs Al-An’am 108]
Jumat, 09 Desember 2011

Ibu, Orang yang Paling Berhak Dimulyakan

2706 - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ، وَابْنِ شُبْرُمَةَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَبِّئْنِي بِأَحَقِّ النَّاسِ مِنِّي بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، وَأَبِيكَ لَتُنَبَّأَنَّ أُمُّكَ» . قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ». قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» . قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»...الحدث* سنن ابن ماجه كِتَابُ الْوَصَايَا
... Abi Hurairah meriwayatkan:
Seorang laki-laki datang pada NabiSAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ceritakan pada saya manusia yang lebih berhak di mulyakan dalam pergaulan kami?

Nabi menjawab: “Baiklah, demi bapakmu niscaya aku ceritakan ibumulah yang paling berhak dimulyakan”.

Laki-laki itu meneruskan: ”Kemudian siapa lagi?”

Nabi menjawab: “Kemudian ibumu”.

Laki-laki tersebut bertanya kembali: ”Kemudian siapa lagi?”

Nabi menjawab: “Kemudian ibumu”.

Laki-laki tersebut bertanya kembali: ”Kemudian siapa lagi?”

Nabi menjawab: “Kemudian ayahmu”.
[Hadist Sunan Ibnu Majah Kitabu Wasoya No. 1706]
Rabu, 07 Desember 2011

Umat Islam Lebih Religius daripada Yang Lain, Survei Mengatakan

Para ahli mengatakan konflik, teologi dapat menjelaskan komitmen yang lebih pada diri orang Islam

(CNN) - Setiap agama memiliki penganut fanatik dan juga orang-orang yang setengah-setengah, yang saleh, dan yang pragmatis, tetapi bukti-bukti baru menunjukkan bahwa umat Islam cenderung lebih berkomitmen terhadap keyakinan mereka daripada mereka yang beragama lain.

Dibandingkan orang-orang Kristen dan Hindu, Muslim jauh lebih yakin bahwa agama mereka satu-satunya jalan ke surga, menurut sebuah survei global terbaru, dan lebih cenderung untuk mengatakan bahwa agama mereka adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.

Muslim juga memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengatakan agama mereka memotivasi mereka untuk melakukan perbuatan baik, kata survei yang dirilis selama musim panas oleh Ipsos-Mori, sebuah perusahaan riset Inggris yang melakukan jajak pendapat di seluruh dunia.

Islam adalah agama terbesar kedua di dunia – setelah Kristen dan di atas Hindu, agama terbesar ketiga. Dengan sekitar 1,5 miliar pengikut dan terus meningkat, karena pengaruh Islam mungkin tumbuh lebih cepat dari perkiraan setelah pergolakan Arab yang menumbangkan para penguasa sekuler sebelumnya dan membuka jalan bagi partai-partai politik berafiliasi Islam.

Tidak diragukan lagi pentingnya Islam, namun para ahli memiliki teori yang berbeda mengapa Muslim tampak lebih religius daripada penganut agama global lainnya - dan pandangan perlu tidaknya mengkhawatirkan kefanatikan umat Islam terhadap keyakinan mereka.

Salah satu penjelasan bisa dilihat berdasarkan fakta dewasa ini, kata Azyumardi Azra, seorang ahli tentang Islam di Indonesia, negara mayoritas berpenduduk terbesar muslim di dunia.
Senin, 05 Desember 2011

Menteri Agama RI Resmikan Gedung Perpustakaan Ponpes Walibarokah

Kediri, Sabtu 4/12, Menteri Agama Suryadharma Ali berkunjung ke Pondok Pesantren Walibarokah, Burengan Banjaran Kediri Jawa Timur. Tujuannya dalam rangka mempererat tali shilaturrahim antara warga Pondok Pesantren Walibarokah Kediri dan warga LDII pada umumnya.

Dalam kunjungan shilaturrahim ini, Menteri Agama juga berkesempatan meresmikan gedung perpustakaan Pondok Pesantren Walibarokah yang baru dan sekaligus sebagai gedung Taujih Wal Irsyad.

Dalam sambutannya, Menteri Agama RI, Suryadharma Ali mengaku risih jika lembaganya disebut sebagai lembaga terkorup oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, hingga akan berupaya dengan tegas memperbaiki dan memberantas praktik-praktik suap di lingkungannya.

“Kami akan tindak siapapun yang meminta suap. Kami akan tertibkan,” katanya menimpali hasil evaluasi dari KPK yang menyebut lembaganya terkorup itu. (gB)

Sumber: walibarokah.org

Penghancuran Situs Bersejarah Oleh Kerajaan Arab Saudi

Kota Mekah mengandung banyak tempat bersejarah penting dalam Islam. Akan tetapi tahun demi tahun, kerajaan Arab Saudi secara sistematis menghancurkan situs-situs bersejarah itu, mengubur di bawah bangunan komersial moderen.

Penguasa Saudi mengatakan ini merupakan kebijakan untuk mencegah penyembahan berhala, karena orang cenderung menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai tempat keramat. Akan tetapi, banyak Muslim mengatakan pemerintah merusak situs peninggalan bersejarah itu.

Wartawan Al Jazeera Mohammad Vall melaporkan saat pelaksanaan haji dari Bukit Nur di Mekah, salah satu situs bersejarah masih terbuka untuk umum.

Sumber: http://english.aljazeera.net/video/middleeast/2011/11/2011113143513873159.html
Kamis, 01 Desember 2011

Ilmu di Jakarta, Amal di Lamongan

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Suatu ketika saya mampir shalat maghrib berjamaah di masjid LDII yang sangat banyak jamahnya. Seperti biasanya setelah shalat saya berzikir dan berdoa, dan sebelum meninggalkan tempat, shalat sunah dua rekaat. Waktu keluar masjid, di teras saya lihat beberapa bapak-bapak sepuh berderet-deret dan ngobrol. Sambil lalu saya mendengarkan percakapan mereka. Subhanallah!, ternyata mereka membicarakan hal-hal yang sepele / lahan sekitar keduniawian. Saya hanya bisa mbatin, sayang sekali jamaah setua mereka masih suka ngobrol setelah shalat. Seandainya mereka tetap di masjid, shalat sunah, berdoa dan berzikir atau membaca Al-Quran sambil menunggu shalat isya' alangkah barokahnya.

Kemudahan hidup di akhir jaman yang ditunjang dengan berbagai fasilitas dan media hiburan yang berlimpah menjadikan manusia lalai pada Tuhannya. Termasuk jamaah kita ternyata kebanyakan tidak trampil untuk berdoa atau berzikir namun lebih condong pada perbuatan lahan yang menghabiskan waktu sia-sia. Berkendara adalah aktifitas setiap hari bagi setiap orang, ke kantor, ke sekolah, ke pasar dengan mengendarai mobil pribadi, sepeda motor atau kendaraan umum. Yakinkah kita bahwa separoh dari jumlah jamaah kita hafal doa naik kendaraan? Adakah yang pernah peduli untuk mengontrol ke sana? Di kelompok saya sekarang, desa Jumputrejo, ketika diadakan tes zikir, seorang bapak beranak dua yang sudah puluhan tahun mengaji ternyata masih belepotan melafadhkan tahlil "laa ilaaha illa Allah, wahdahu laa syarikalahu lahulmulku walahulhamdu wahua 'ala kulli syaiin khodiir". Saya jadi sedikit suudzon, apakah ini salah satu potret kegagalan pembinaan keimanan dalam LDII?

Seperti kita ketahui LDII memiliki program pertama MENGAJI QURAN HADIST dan kedua MENGAMALKAN QURAN HADIST. Dari dua program ini terlihat jelas ketimpangan dalam penerapannya di lapangan. LDII memiliki tidak kurang dari selusin program pengajian, mulai pengajian caberawit, pengajian muda-mudi, pengajian ibu-ibu, pengajian kelompok. pengajian umum, pengajian agniya' dan lain sebagainya namun tidak ada satupun forum yang bertujuan meningkatkan kinerja amalan ibadah jamaah. Bahkan para orang tua lanjut usia yang sudah mendekati ajal, yang semestinya ditingkatkan amalan ibadahnya dengan banyak berzikir, berdoa, shalat dan berbagai amalan lainnya masih diundang dalam PENGAJIAN MANULA, kenapa tidak ada forum PENGAMALAN MANULA?

Bagaimanakah Facebook dan Twitter Berdampak pada Islam?

Nidhal Guessoum

Profesor Fisika dan Astronomi di American University of Sharjah, UEA
Saat shalat Jumat terakhir, di sebelah saya duduk seorang muslim muda menggenggam Blackberry-nya dan mulai memeriksa SMS-SMS nya sementara Imam sedang menyampaikan khutbah. Saya agak kaget. Lalu pemuda itu menyingkirkan smartphone-nya, tapi 10 menit kemudian mengeluarkannya lagi dan mengetik beberapa hal. Ini memberi saya dua pertanda yaitu sedikitnya (pendeknya) perhatian dan bahwa anak-anak saat ini telah menjadi korban kecanduan dunia maya.

Saya tidak bisa menghapus adegan tersebut dari pikiran, sehingga saya kemudian browsing "Twitter dan layanan agama", dan lihatlah, saya menemukan halaman berjudul "Tweeting selama kebaktian gereja mendapat berkat dari pendeta" (sebuah artikel di Houston Chronicle dua tahun yang lalu) dan "Apakah Tuhan menggunakan Tweeter?", sebuah forum online yang diselenggarakan oleh Washington Post dua tahun lalu, di mana 16 kontributor menyajikan pendapat mereka tentang apakah hubungan dengan Tuhan dapat dilakukan melalui Twitter? Apakah doa bisa direduksi menjadi sebuah pernyataan 140-karakter? Apakah kita tidak lagi bisa membebaskan pikiran kita, menenangkan batin, fokus pada dimensi spiritual kita, dan meneguhkan suasana keagamaan yang bermakna?

Kemudian, saya bertanya-tanya bagaimana Twitter, Facebook, dan jejaring sosial saat ini dan masa depan serta media micro-blogging akan mempengaruhi agama-agama pada umumnya dan Islam pada khususnya. Kekhawatiran saya meningkat ketika saya menemukan sebuah artikel berjudul "25 Alasan Kenapa Twitter Spiritual", tapi tidak ada satupun alasan yang meyakinkan.

Marzuki Alie: Santri Harus Berfikir untuk Menjadi Orang Kaya

Pondok Pesantren (Ponpes) diminta membekali para santri-nya untuk siap menjadi pengusaha yang kaya agar pada saatnya dapat menjadi orang yang banyak memberi bukan meminta-minta. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk berupaya menjadi orang kaya, tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi orang miskin. “Salah besar kalau pendidikan pesantren itu mengarahkan menjadi miskin. Saya keliling pesantren untuk menjelaskan ini. Rasul kita itu tidak miskin kok, dia pengusaha yang kaya karena mampu menyediakan mahar 40 unta saat menikah dengan Khadijah. Walaupun pengusaha kaya namun yang paling penting Nabi hidupnya sederhana, beliau kaya untuk memberi,” jelas Ketua DPR RI Marzuki Alie saat menyampaikan ceramah di Ponpes LDII Gading Mangu, Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12/11).

Orientasi pendidikan di pesantren jangan hanya mengarahkan santri untuk bisa berceramah saja, tapi perlu berikhtiar membangun ekonomi umat berbasis komunitas dan potensi di masyarakat. Sebagai perbandingan ia mengaku pernah meninjau satu lembaga keuangan mikro di Bali yang bisnisnya bisa mencapai triliunan rupiah. Ini menurutnya bisa mensejahterakan satu desa, sekaligus membangun dan menjaga budayanya. “Saya juga pernah mencoba memberdayakan ekonomi satu panti asuhan di Palembang dan berhasil. Warga panti diajarkan membuka toko sederhana, dilatih keterampilan menjahit, memasarkan. Akhirnya mereka mandiri kalau sebelumnya rutin datang meminta bantuan, setelah itu tidak pernah lagi,” paparnya. Baginya kalau bangsa ini berkomitmen membangun dan menjaga konsistensi, urusan negara tidak ada sulitnya. “Saya sudah sampaikan kepada Wapres bagaimana membangun ekonomi berdasarkan komunitas sesuai potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu apa sudah berjalan, yang penting sudah saya sampaikan.”

Ketua DPR-RI memotivasi santri untuk mulai dari sekarang berfikir bagaimana menjadi kaya dengan cara yang halal. Tuhan katanya sudah menunjukkan ini jalan yang baik dan itu tidak baik. “Menjadi kaya supaya bermanfaat, supaya bisa membantu umat yang lain. Berfikirlah jadi orang kaya, bagaimana caranya belajarlah dari sekarang, berfikir kedepan mau jadi apa, rencanakan dari sekarang. Dengan niat, usaha keras, keyakinan, doa dan tawakal insyaAllah tercapai,” demikian Marzuki.

Dalam kesempatan itu Ketua DPR meresmikan gedung baru TK dan SMP Ponpes Gading Mangu. Pimpinan pesantren Nurhadi menjelaskan komplek pendidikan yang berdiri berdiri di desa Perak sejak tahun 1952 terus berkembang. Saat ini telah memiliki 95 ustadz/guru dan 3960 santri, 1598 diantaranya tinggal di pondok. Ia juga menyebut sedang menuntaskan pembangunan Mesjid Luhur Nurhasan yang menurutnya salah satu mesjid terbesar untuk tingkat desa di seluruh Indonesia.

Tujuh TKI di Saudi Terbebas dari Ancaman Hukuman Mati

Tujuh dari 45 TKI yang terancam hukuman mati dipastikan terbebas dari hukuman itu, menurut kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat.

"Totalnya tujuh yang sudah siap dalam pembebasan dan ini tentunya hasil kerja keras dari seluruh pihak," kata Jumhur kepada BBC Indonesia.

Dari 45 TKI yang menghadapi ancaman hukuman mati, lima diantaranya sudah termasuk vonis tetap.

Namun menurut Jumhur kelima orang ini masih termasuk Tuti Tursilawati, yang seharusnya sudah dihukum pancung.

"Tuti seharusnya sudah dihukum pancung pada musim haji lalu...namun presiden telah membuat surat ke raja Saudi dan akhirnya raja bisa memerintahkan untuk diberikan kesempatan lagi kepada Indonesia untuk melakukan pendekatan kepada keluarga," tambah Jumhur.

"Kita masih terus melakukan pendekatan dan masih ada waktu (untuk menunda dan meminta maaf dari pihak keluarga)," tambahnya.

Jumhur juga mengatakan jumlah TKI yang terancam hukuman mati di negara lain berjumlah 148 orang di Malaysia, 117 diantaranya terlibat narkoba, di Iran tiga orang, di Singapura dua orang dan di Cina 40 orang, karena terlibat narkoba.

LDII Buah Batu dan RSUD Al Ihsan Gelar Khitanan Massal

BANDUNG, (PRLM).- Sebanyak 33 anak dari keluarga kurang mampu mengikuti khitanan massal yang diadakan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Buah Batu dan RSUD Al Ihsan Baleendah, Minggu (25/12). Khitanan di Masjid Sabilul Muttaqin dihadiri Camat Buah Batu H. Wawan Wahidin, Wakil Ketua LDII Kota Bandung H. Suryatna, dan Ketua Pengurus Wilayah LDII H. Bahrudin.

Menurut Ketua panitia, H. Kholil Mawardi, target khitanan massal untuk 40 anak, namun tercapai 33 anak. "Ternyata mencari anak agar ikut khitanan massal tidak mudah karena ada perasaan gengsi ikut khitanan gratis. Belum lagi dengan banyaknya lembaga yang juga mengadakan acara serupa," katanya.

Menurut Wadir RSUD Al Ihsan, dr. H. Agus Muharram, untuk khitanan massal mengerahkan dokter dan puluhan perawat. "Kami selalu terbuka kepada siapa saja yang akan mengadakan bakti sosial dan perlu bantuan dari RSUD Al Ihsan," katanya.

Acara juga dimeriahkan dengan bazar untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Kami menyambut baik adanya bazar ini karena bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat," kata Wawan Wahidin. (A-71/A-147)***

Sumber: pikiran-rakyat.com

Wajibnya Belajar Faroid

العِلْمُ ثَلَاثَةٌ وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ ءاَيَةٌ مُحْكَمَةٌ أَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ أَوْ فَرِيْضَةٌ عَادِلَةٌ *رواه أبوداود عن عبدالله بن عمرو بن العاص
“Ilmu (yang wajib di cari) itu ada tiga, adapun selain dari tiga itu merupakan lebihan (tidak wajib dicari); ayat yang muhkam (Al Quran) Sunnah yang tegak (Al Hadist) atau ilmu faroid yang adil (ilmu pembagian waris)”.
[Hadist riwayat Abu Dawud dari Abdulloh bin U’mar bin A’sh]

2719 - حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبِي الْعِطَافِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا هُرَيْرَةَ تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي»
...Abi Huroiroh meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda:”Wahai Aba Hurarirah, belajarlah engkau ilmu faroid dan ajarkanlah, sesungguhnya Ilmu Faroid itu merupakan separoh dari ilmu dan ilmu faroid bakal dihapus dari ingatan, Ilmu Faroid adalah pertama kali barang yang dicabut dari umatku”.
[Hadist Ibnu Majah 2719 Kitabu Faroid]

Wamenag: UU Kerukunan Umat Beragama Redam Potensi Konflik Agama

Jakarta (Pinmas) - Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Nasararuddin Umar, menekankan, pentingnya Undang-Undang Kerukunan Beragama (UU) guna mengatur kehidupan antar umat beragama di Indonesia. Karena itu, Nasaruddin berharap, semua kalangan umat di Tanah Air khususnya perwakilan majelis agama mampu menyatukan gagasan dan pikiran agar UU KUB yang saat ini telah berbentuk Rancangan Undang-Undang (RUU) bisa mengakomodir aspirasi pemeluk agama.

Hal ini disampaikan Nasaruddin usai membuka Workshop Menyikapi Kehendak Masyarakat Tentang RUU KUB yang dihadiri sejumlah tokoh agama dan akademisi, di Jakarta, Rabu (21/12) malam. "Kita perlu mempertemukan wawasan semua pihak dalam rangka melihat konsep dan membahas keberadaan RUU KB ini. Sehingga tidak terjadi perbedaan paradigma dan pro dan kontra," ujar Nasaruddin.

RUU KUB saat ini telah dibahas oleh DPR RI dan masuk sebagai salah satu Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Namun RUU ini bukan atas prakarsa pemerintah tapi atas inisiatif DPR RI. Nasaruddin memandang, RUU KUB ini seyogianya tidak diperlukan apabila situasi kehidupan bangsa damai dan tenteram.

Akan tetapi jelas dia, situasi kehidupan bangsa khususnya hubungan umat beragama di Indonesia saat ini dihadapkan dengan fakta yang cukup mengkawatirkan. "Indikasinya terlihat dari beberapa segi, misal problem umat agama dalam internal agama sendiri. Contohnya dalam agama Islam sendiri banyak persoalan seperti ada Ahmadiyah, Tasawuf atau penentuan Hari Raya yang berbeda. Ini semua butuh regulasi,” katanya.

Berikutnya tambah pria yang sebelumnya dikenal sebagai Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kementerian Agama ini, UU KUB juga dimaksudkan untuk meredam potensi konflik antar umat beragama di beberapa wilayah. Meski Nasaruddin mengakui agama bukan aspek utama pemicu konflik.

Sebab itu, ia menyimpulkan ada hal-hal terkait kehidupan umat beragama yang perlu diatur baik itu kerukunan internal, eksternal agama serta dengan pemerintah. "Meski idealnya tidak perlu ada UU tapi faktanya akan lebih parah kalau tidak ada UU," katanya.(jurnas/Aria Triyudha)

Sumber: kemenag.go.id

AKSI KONKRET LDII - Cegah Kerusakan, Tanam Pohon Bakau

Gubernur Sultra Nur Alam, Ketua MUI Pusat Slamet Effendy Yusuf dan Ketua Umum LDII Prof. Abdullah Syam saat memukul kentongan dalam rangka Pencanangan Gerakan Nasional Cinta Bahari (Pemprov Sultra)
Penanaman 3.000 batang bibit mangrove secara simbolis oleh Gubernur Sulaawesi Tenggara Nur Alam, Ketua MUI Pusat Slamet Effendy Yusuf dan Ketua Umum LDII Prof. Abdullah Syam. (Pemprov Sultra)
Sedikitnya 3.000 pohon bakau disiapkan untuk ditanam di dua lokasi, Pantai Nambo dan Teluk Kendari. Dua unit speed boat disiapkan untuk mengantar Gubernur Sultra Nur Alam beserta rombongan dari Jakarta di antaranya Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Abdullah Syam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Keluarga Hijau Indonesia. Pemukulan kentong dilakukan gubernur tanda dimulainya penanaman pohon bakau secara serentak. Dengan semangat, satu persatu para peserta turun ke pinggir pantai.

Menurut Abdullah, penanaman pohon bakau ini merupakan upaya untuk mencegah bencana alam sebab manfaat tanaman ini sangat banyak. Selain menyerap karbondioksida, keberadaan pohon bakau ini juga akan diikuti dengan perkembangan biota laut. Selama ini, kata Abdullah, sudah banyak pidato atau ceramah mengenai pelestarian alam, tapi masih sedikit yang melakukan aksi melestarikan alam secara konkret. ”Ini merupakan bagian dari dakwah dengan tindakan nyata. Semoga dengan kegiatan ini masyarakat bisa mencontoh untuk menjaga alamnya,” tutur Abdullah di acara Gerakan Nasional Cinta Bahari di Kendari, Minggu (18/12).

Gubernur Sultra Nur Alam menyambut baik kegiatan yang digagas LDII bersama MUI. Dia mengakui, hampir 80% hutan bakau di Sultra tidak terawat. Selain melakukan penanaman pohon, pihaknya akan membentuk Satgas Pemelihara Bakau. Kendari memiliki bentuk teluk yang unik seperti tapal kuda sehingga air pantainya tidak banyak berombak karena tertutup oleh perbukitan. Dengan keunikan ini, sudah semestinya kelestarian bakau menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Penguasa Militer Membajak Islam

Oleh DR AAIDH AL-QARNI

Islam telah memerintah negara Arab selama lebih dari seribu tahun, pertama di bawah khalifah Arrosyidin, kemudian Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Bahkan penguasa Muslim non-Arab memanfaatkan kebajikan Islam sebanyak orang-orang Arab sendiri, jika tidak lebih. Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah [Nabi], pemimpin Kurdi Saladin Ayyubi memerintah Umat Muslim dan Yerusalem dibebaskan. Demikian pula, Imad al-Din Zengi Mahmoud adalah seorang pemimpin Turki yang menjunjung kekuasaan Islam selama kejayaan pemerintahannya [berdirinya Dinasti Zengid], begitu pula para penerusnya seperti Nuruddin Zengi.

Dalam dunia non-Arab, Berber Muslim menyatakan, al-Murabitun dan Muwahidun mempertahankan Islam sampai kolonialisme datang dan menghapuskan proyek Islam. Setelah itu, saat kolonialisme berkuasa, kekuasaan di negara-negara Arab dikendalikan oleh para pemimpin militer yang paling bodoh, kejam dan buta huruf, tanpa didukung orang yang berjanji setia kepada mereka di bawah hukum Syariah Islam.

Akibatnya, deklarasi pertama setelah mereka merebut kekuasaan adalah membatalkan hukum Islam, sehingga banyak negara puas dengan hanya merayakan ulang tahun Nabi Muhammad, dan membaca Al-Qur'an selama perayaan dan saat acara-acara tertentu. Hukum Syariah Islam secara luas dihapuskan sebagai sumber hukum untuk kehidupan publik. Negara lain mencampur antara hukum konvensional dan Islam, tapi sepenuhnya gagal mengadaptasi hukum Syariah Islam, sehingga membatasi Islam hanya di masjid. Beberapa pemimpin bahkan menawarkan komunisme, menyatakan afiliasi mereka ke Kremlin di Moskow. Rakyat dipecah-belah dalam melawan upaya ini, padahal mereka semua Muslim. Beberapa negara hanya mengambil dari apa yang cocok untuk mereka, atau apa yang tampak diterima oleh mereka berkaitan dengan tata cara keluarga, hak-hak publik, hukuman, penitipan anak dan sebagainya, sementara meninggalkan apa yang tidak mereka sukai.

Larangan Membunuh Orang Kafir

Saudara-saudara Muslim yang berpendapat bahwa salah satu bentuk jihad adalah dengan membunuh orang kafir (orang non-Islam), hendaknya mempertimbangkan dan memahami dalil-dalil di bawah ini.

Dikisahkan, pada masa hidup Rasulullah SAW ada seseorang bernama Muchtar yang mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu dari Jibril. Muchtar telah berdusta dan mengingkari kenabian Muhammad SAW. Jelas ia orang kafir dan tidak ada kesulitan bagi para sahabat untuk membunuhnya. Namun sebagai orang kafir yang hidup di masa Nabi Muhammad SAW Muchtar mendapat jaminan hidup dari Rasulullah dan haram hukumnya membunuh dia.

Jadi, bukannya mendapat pahala yang besar namun membunuh orang non-Muslim secara serampangan bisa berakibat murka Allah di akhirat. Masih banyak dalil yang menjamin surga dan derajat tinggi di sisi Allah selain dengan cara membunuh. Untuk menjadi orang beriman yang saleh dan taat tidak harus dengan melakukan teror dan membunuh orang-orang yang tidak relevan.
بَابُ مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا
2686 - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
__________
[حكم الألباني]
صحيح
... Abdillah bin ‘Amri meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membunuh mu’ahadan (orang kafir yang mendapat jaminan) tidak akan mencium baunya Surga, sesungguhnya baunya Surga telah tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.”

Larangan Mencaci Agama Lain

ditulis: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam,
pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta

Kajian Ayat 108 dari Surat Al-An'am

Ketika Rasulullah masih di Makkah, melalui beliau SAW Allah melarang orang-orang iman mencaci berhala-berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Karena para penyembahnya pasti akan membalas mencaci Allah dengan marah dan tanpa dasar ilmu. Allah juga menjelaskan bahwa tiap umat pasti meyakini faham dan amalan mereka masing-masing, karena Allah menghias-hiaskan faham dan amalan semua itu pada mereka semua. Dan mereka semua pasti kembali pada Tuhan mereka untuk diberi tahu mengenai yang telah mereka amalkan. Larangan itu tertulis di dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأنعام/ج108]
Artinya:
Dan kalian jangan mencaci orang-orang yang menyembah selain Allah, karena mereka akan mencaci Allah dengan sengit dengan tanpa ilmu. Demikian itulah Kami telah menghias-hiaskan amalan pada tiap-tiap umat. Lalu tempat kembali mereka pada Tuhan mereka. Maka Dia akan menceritakan yang telah mereka amalkan pada mereka (semuanya).
[Qs Al-An’am 108]

Ibu, Orang yang Paling Berhak Dimulyakan

2706 - حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ، وَابْنِ شُبْرُمَةَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَبِّئْنِي بِأَحَقِّ النَّاسِ مِنِّي بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، وَأَبِيكَ لَتُنَبَّأَنَّ أُمُّكَ» . قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ». قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» . قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»...الحدث* سنن ابن ماجه كِتَابُ الْوَصَايَا
... Abi Hurairah meriwayatkan:
Seorang laki-laki datang pada NabiSAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ceritakan pada saya manusia yang lebih berhak di mulyakan dalam pergaulan kami?

Nabi menjawab: “Baiklah, demi bapakmu niscaya aku ceritakan ibumulah yang paling berhak dimulyakan”.

Laki-laki itu meneruskan: ”Kemudian siapa lagi?”

Nabi menjawab: “Kemudian ibumu”.

Laki-laki tersebut bertanya kembali: ”Kemudian siapa lagi?”

Nabi menjawab: “Kemudian ibumu”.

Laki-laki tersebut bertanya kembali: ”Kemudian siapa lagi?”

Nabi menjawab: “Kemudian ayahmu”.
[Hadist Sunan Ibnu Majah Kitabu Wasoya No. 1706]

Umat Islam Lebih Religius daripada Yang Lain, Survei Mengatakan

Para ahli mengatakan konflik, teologi dapat menjelaskan komitmen yang lebih pada diri orang Islam

(CNN) - Setiap agama memiliki penganut fanatik dan juga orang-orang yang setengah-setengah, yang saleh, dan yang pragmatis, tetapi bukti-bukti baru menunjukkan bahwa umat Islam cenderung lebih berkomitmen terhadap keyakinan mereka daripada mereka yang beragama lain.

Dibandingkan orang-orang Kristen dan Hindu, Muslim jauh lebih yakin bahwa agama mereka satu-satunya jalan ke surga, menurut sebuah survei global terbaru, dan lebih cenderung untuk mengatakan bahwa agama mereka adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.

Muslim juga memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengatakan agama mereka memotivasi mereka untuk melakukan perbuatan baik, kata survei yang dirilis selama musim panas oleh Ipsos-Mori, sebuah perusahaan riset Inggris yang melakukan jajak pendapat di seluruh dunia.

Islam adalah agama terbesar kedua di dunia – setelah Kristen dan di atas Hindu, agama terbesar ketiga. Dengan sekitar 1,5 miliar pengikut dan terus meningkat, karena pengaruh Islam mungkin tumbuh lebih cepat dari perkiraan setelah pergolakan Arab yang menumbangkan para penguasa sekuler sebelumnya dan membuka jalan bagi partai-partai politik berafiliasi Islam.

Tidak diragukan lagi pentingnya Islam, namun para ahli memiliki teori yang berbeda mengapa Muslim tampak lebih religius daripada penganut agama global lainnya - dan pandangan perlu tidaknya mengkhawatirkan kefanatikan umat Islam terhadap keyakinan mereka.

Salah satu penjelasan bisa dilihat berdasarkan fakta dewasa ini, kata Azyumardi Azra, seorang ahli tentang Islam di Indonesia, negara mayoritas berpenduduk terbesar muslim di dunia.

Menteri Agama RI Resmikan Gedung Perpustakaan Ponpes Walibarokah

Kediri, Sabtu 4/12, Menteri Agama Suryadharma Ali berkunjung ke Pondok Pesantren Walibarokah, Burengan Banjaran Kediri Jawa Timur. Tujuannya dalam rangka mempererat tali shilaturrahim antara warga Pondok Pesantren Walibarokah Kediri dan warga LDII pada umumnya.

Dalam kunjungan shilaturrahim ini, Menteri Agama juga berkesempatan meresmikan gedung perpustakaan Pondok Pesantren Walibarokah yang baru dan sekaligus sebagai gedung Taujih Wal Irsyad.

Dalam sambutannya, Menteri Agama RI, Suryadharma Ali mengaku risih jika lembaganya disebut sebagai lembaga terkorup oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, hingga akan berupaya dengan tegas memperbaiki dan memberantas praktik-praktik suap di lingkungannya.

“Kami akan tindak siapapun yang meminta suap. Kami akan tertibkan,” katanya menimpali hasil evaluasi dari KPK yang menyebut lembaganya terkorup itu. (gB)

Sumber: walibarokah.org

Penghancuran Situs Bersejarah Oleh Kerajaan Arab Saudi

Kota Mekah mengandung banyak tempat bersejarah penting dalam Islam. Akan tetapi tahun demi tahun, kerajaan Arab Saudi secara sistematis menghancurkan situs-situs bersejarah itu, mengubur di bawah bangunan komersial moderen.

Penguasa Saudi mengatakan ini merupakan kebijakan untuk mencegah penyembahan berhala, karena orang cenderung menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai tempat keramat. Akan tetapi, banyak Muslim mengatakan pemerintah merusak situs peninggalan bersejarah itu.

Wartawan Al Jazeera Mohammad Vall melaporkan saat pelaksanaan haji dari Bukit Nur di Mekah, salah satu situs bersejarah masih terbuka untuk umum.

Sumber: http://english.aljazeera.net/video/middleeast/2011/11/2011113143513873159.html

Ilmu di Jakarta, Amal di Lamongan

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Suatu ketika saya mampir shalat maghrib berjamaah di masjid LDII yang sangat banyak jamahnya. Seperti biasanya setelah shalat saya berzikir dan berdoa, dan sebelum meninggalkan tempat, shalat sunah dua rekaat. Waktu keluar masjid, di teras saya lihat beberapa bapak-bapak sepuh berderet-deret dan ngobrol. Sambil lalu saya mendengarkan percakapan mereka. Subhanallah!, ternyata mereka membicarakan hal-hal yang sepele / lahan sekitar keduniawian. Saya hanya bisa mbatin, sayang sekali jamaah setua mereka masih suka ngobrol setelah shalat. Seandainya mereka tetap di masjid, shalat sunah, berdoa dan berzikir atau membaca Al-Quran sambil menunggu shalat isya' alangkah barokahnya.

Kemudahan hidup di akhir jaman yang ditunjang dengan berbagai fasilitas dan media hiburan yang berlimpah menjadikan manusia lalai pada Tuhannya. Termasuk jamaah kita ternyata kebanyakan tidak trampil untuk berdoa atau berzikir namun lebih condong pada perbuatan lahan yang menghabiskan waktu sia-sia. Berkendara adalah aktifitas setiap hari bagi setiap orang, ke kantor, ke sekolah, ke pasar dengan mengendarai mobil pribadi, sepeda motor atau kendaraan umum. Yakinkah kita bahwa separoh dari jumlah jamaah kita hafal doa naik kendaraan? Adakah yang pernah peduli untuk mengontrol ke sana? Di kelompok saya sekarang, desa Jumputrejo, ketika diadakan tes zikir, seorang bapak beranak dua yang sudah puluhan tahun mengaji ternyata masih belepotan melafadhkan tahlil "laa ilaaha illa Allah, wahdahu laa syarikalahu lahulmulku walahulhamdu wahua 'ala kulli syaiin khodiir". Saya jadi sedikit suudzon, apakah ini salah satu potret kegagalan pembinaan keimanan dalam LDII?

Seperti kita ketahui LDII memiliki program pertama MENGAJI QURAN HADIST dan kedua MENGAMALKAN QURAN HADIST. Dari dua program ini terlihat jelas ketimpangan dalam penerapannya di lapangan. LDII memiliki tidak kurang dari selusin program pengajian, mulai pengajian caberawit, pengajian muda-mudi, pengajian ibu-ibu, pengajian kelompok. pengajian umum, pengajian agniya' dan lain sebagainya namun tidak ada satupun forum yang bertujuan meningkatkan kinerja amalan ibadah jamaah. Bahkan para orang tua lanjut usia yang sudah mendekati ajal, yang semestinya ditingkatkan amalan ibadahnya dengan banyak berzikir, berdoa, shalat dan berbagai amalan lainnya masih diundang dalam PENGAJIAN MANULA, kenapa tidak ada forum PENGAMALAN MANULA?