وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Jumat, 30 Desember 2011

Marzuki Alie: Santri Harus Berfikir untuk Menjadi Orang Kaya

Pondok Pesantren (Ponpes) diminta membekali para santri-nya untuk siap menjadi pengusaha yang kaya agar pada saatnya dapat menjadi orang yang banyak memberi bukan meminta-minta. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk berupaya menjadi orang kaya, tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi orang miskin. “Salah besar kalau pendidikan pesantren itu mengarahkan menjadi miskin. Saya keliling pesantren untuk menjelaskan ini. Rasul kita itu tidak miskin kok, dia pengusaha yang kaya karena mampu menyediakan mahar 40 unta saat menikah dengan Khadijah. Walaupun pengusaha kaya namun yang paling penting Nabi hidupnya sederhana, beliau kaya untuk memberi,” jelas Ketua DPR RI Marzuki Alie saat menyampaikan ceramah di Ponpes LDII Gading Mangu, Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12/11).

Orientasi pendidikan di pesantren jangan hanya mengarahkan santri untuk bisa berceramah saja, tapi perlu berikhtiar membangun ekonomi umat berbasis komunitas dan potensi di masyarakat. Sebagai perbandingan ia mengaku pernah meninjau satu lembaga keuangan mikro di Bali yang bisnisnya bisa mencapai triliunan rupiah. Ini menurutnya bisa mensejahterakan satu desa, sekaligus membangun dan menjaga budayanya. “Saya juga pernah mencoba memberdayakan ekonomi satu panti asuhan di Palembang dan berhasil. Warga panti diajarkan membuka toko sederhana, dilatih keterampilan menjahit, memasarkan. Akhirnya mereka mandiri kalau sebelumnya rutin datang meminta bantuan, setelah itu tidak pernah lagi,” paparnya. Baginya kalau bangsa ini berkomitmen membangun dan menjaga konsistensi, urusan negara tidak ada sulitnya. “Saya sudah sampaikan kepada Wapres bagaimana membangun ekonomi berdasarkan komunitas sesuai potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu apa sudah berjalan, yang penting sudah saya sampaikan.”

Ketua DPR-RI memotivasi santri untuk mulai dari sekarang berfikir bagaimana menjadi kaya dengan cara yang halal. Tuhan katanya sudah menunjukkan ini jalan yang baik dan itu tidak baik. “Menjadi kaya supaya bermanfaat, supaya bisa membantu umat yang lain. Berfikirlah jadi orang kaya, bagaimana caranya belajarlah dari sekarang, berfikir kedepan mau jadi apa, rencanakan dari sekarang. Dengan niat, usaha keras, keyakinan, doa dan tawakal insyaAllah tercapai,” demikian Marzuki.

Dalam kesempatan itu Ketua DPR meresmikan gedung baru TK dan SMP Ponpes Gading Mangu. Pimpinan pesantren Nurhadi menjelaskan komplek pendidikan yang berdiri berdiri di desa Perak sejak tahun 1952 terus berkembang. Saat ini telah memiliki 95 ustadz/guru dan 3960 santri, 1598 diantaranya tinggal di pondok. Ia juga menyebut sedang menuntaskan pembangunan Mesjid Luhur Nurhasan yang menurutnya salah satu mesjid terbesar untuk tingkat desa di seluruh Indonesia.

Inspiratif atau Indoktrinatif

Sementara itu pada saat berdialog dengan pimpinan dan staf pengajar Ponpes Wali Barokah, di Kediri, Jatim, Ketua DPR Marzuki Alie mengingatkan pentingnya para guru menjadi sumber inspirasi bagi para muridnya. “Saya merisaukan kondisi sekarang dimana para guru cendrung menjadi indoktrinatif,” tandasnya. Ini menurutnya terjadi karena guru tidak fokus mengajar karena harus mencari tambahan di tempat lain untuk menutupi kekurangan penghasilan. Kegiatan belajar mengajar hanya sekedar menjadi kegitan transfer ilmu.

Baginya indoktrinasi akan membuat murid takut terhadap guru, tidak akan ada penghormatan dan penghargaan pada guru. Pada akhirnya murid akan cendrung cepat melupakan. Sedang guru yang inspiratif adalah guru yang melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas dan mampu mempengaruhi murid dari hatinya. “Saya punya guru namanya Pak Ridwan, sampai sekarang saya masih ingat mukanya artinya saya terinspirasi. Dia mempengaruhi fikiran dan perasaan saya sampai sekarang,” imbuhnya.

Ketua DPR berkesempatan meninjau fasilitas perpustakaan pondok yang cukup representatif. Namun ia terlihat tertegun ketika mendapat penjelasan seluruh koleksi buku di perpustakaan tersebut adalah buku-buku agama. Ia meminta agar pimpinan ponpes membuka cakrawala para santri dengan menyediakan buku disiplin ilmu lain. “Ada 700 koleksi kitab agama tapi buku pengetahuan umum tidak ada. Santri perlu mengetahui perkembangan ilmu lain, agar pemahaman mereka lebih lengkap,” kata Marzuki.*

dprgoid

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Marzuki Alie: Santri Harus Berfikir untuk Menjadi Orang Kaya

Pondok Pesantren (Ponpes) diminta membekali para santri-nya untuk siap menjadi pengusaha yang kaya agar pada saatnya dapat menjadi orang yang banyak memberi bukan meminta-minta. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk berupaya menjadi orang kaya, tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi orang miskin. “Salah besar kalau pendidikan pesantren itu mengarahkan menjadi miskin. Saya keliling pesantren untuk menjelaskan ini. Rasul kita itu tidak miskin kok, dia pengusaha yang kaya karena mampu menyediakan mahar 40 unta saat menikah dengan Khadijah. Walaupun pengusaha kaya namun yang paling penting Nabi hidupnya sederhana, beliau kaya untuk memberi,” jelas Ketua DPR RI Marzuki Alie saat menyampaikan ceramah di Ponpes LDII Gading Mangu, Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12/11).

Orientasi pendidikan di pesantren jangan hanya mengarahkan santri untuk bisa berceramah saja, tapi perlu berikhtiar membangun ekonomi umat berbasis komunitas dan potensi di masyarakat. Sebagai perbandingan ia mengaku pernah meninjau satu lembaga keuangan mikro di Bali yang bisnisnya bisa mencapai triliunan rupiah. Ini menurutnya bisa mensejahterakan satu desa, sekaligus membangun dan menjaga budayanya. “Saya juga pernah mencoba memberdayakan ekonomi satu panti asuhan di Palembang dan berhasil. Warga panti diajarkan membuka toko sederhana, dilatih keterampilan menjahit, memasarkan. Akhirnya mereka mandiri kalau sebelumnya rutin datang meminta bantuan, setelah itu tidak pernah lagi,” paparnya. Baginya kalau bangsa ini berkomitmen membangun dan menjaga konsistensi, urusan negara tidak ada sulitnya. “Saya sudah sampaikan kepada Wapres bagaimana membangun ekonomi berdasarkan komunitas sesuai potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu apa sudah berjalan, yang penting sudah saya sampaikan.”

Ketua DPR-RI memotivasi santri untuk mulai dari sekarang berfikir bagaimana menjadi kaya dengan cara yang halal. Tuhan katanya sudah menunjukkan ini jalan yang baik dan itu tidak baik. “Menjadi kaya supaya bermanfaat, supaya bisa membantu umat yang lain. Berfikirlah jadi orang kaya, bagaimana caranya belajarlah dari sekarang, berfikir kedepan mau jadi apa, rencanakan dari sekarang. Dengan niat, usaha keras, keyakinan, doa dan tawakal insyaAllah tercapai,” demikian Marzuki.

Dalam kesempatan itu Ketua DPR meresmikan gedung baru TK dan SMP Ponpes Gading Mangu. Pimpinan pesantren Nurhadi menjelaskan komplek pendidikan yang berdiri berdiri di desa Perak sejak tahun 1952 terus berkembang. Saat ini telah memiliki 95 ustadz/guru dan 3960 santri, 1598 diantaranya tinggal di pondok. Ia juga menyebut sedang menuntaskan pembangunan Mesjid Luhur Nurhasan yang menurutnya salah satu mesjid terbesar untuk tingkat desa di seluruh Indonesia.

Inspiratif atau Indoktrinatif

Sementara itu pada saat berdialog dengan pimpinan dan staf pengajar Ponpes Wali Barokah, di Kediri, Jatim, Ketua DPR Marzuki Alie mengingatkan pentingnya para guru menjadi sumber inspirasi bagi para muridnya. “Saya merisaukan kondisi sekarang dimana para guru cendrung menjadi indoktrinatif,” tandasnya. Ini menurutnya terjadi karena guru tidak fokus mengajar karena harus mencari tambahan di tempat lain untuk menutupi kekurangan penghasilan. Kegiatan belajar mengajar hanya sekedar menjadi kegitan transfer ilmu.

Baginya indoktrinasi akan membuat murid takut terhadap guru, tidak akan ada penghormatan dan penghargaan pada guru. Pada akhirnya murid akan cendrung cepat melupakan. Sedang guru yang inspiratif adalah guru yang melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas dan mampu mempengaruhi murid dari hatinya. “Saya punya guru namanya Pak Ridwan, sampai sekarang saya masih ingat mukanya artinya saya terinspirasi. Dia mempengaruhi fikiran dan perasaan saya sampai sekarang,” imbuhnya.

Ketua DPR berkesempatan meninjau fasilitas perpustakaan pondok yang cukup representatif. Namun ia terlihat tertegun ketika mendapat penjelasan seluruh koleksi buku di perpustakaan tersebut adalah buku-buku agama. Ia meminta agar pimpinan ponpes membuka cakrawala para santri dengan menyediakan buku disiplin ilmu lain. “Ada 700 koleksi kitab agama tapi buku pengetahuan umum tidak ada. Santri perlu mengetahui perkembangan ilmu lain, agar pemahaman mereka lebih lengkap,” kata Marzuki.*

dprgoid