وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Kamis, 01 Desember 2011

Ilmu di Jakarta, Amal di Lamongan

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Suatu ketika saya mampir shalat maghrib berjamaah di masjid LDII yang sangat banyak jamahnya. Seperti biasanya setelah shalat saya berzikir dan berdoa, dan sebelum meninggalkan tempat, shalat sunah dua rekaat. Waktu keluar masjid, di teras saya lihat beberapa bapak-bapak sepuh berderet-deret dan ngobrol. Sambil lalu saya mendengarkan percakapan mereka. Subhanallah!, ternyata mereka membicarakan hal-hal yang sepele / lahan sekitar keduniawian. Saya hanya bisa mbatin, sayang sekali jamaah setua mereka masih suka ngobrol setelah shalat. Seandainya mereka tetap di masjid, shalat sunah, berdoa dan berzikir atau membaca Al-Quran sambil menunggu shalat isya' alangkah barokahnya.

Kemudahan hidup di akhir jaman yang ditunjang dengan berbagai fasilitas dan media hiburan yang berlimpah menjadikan manusia lalai pada Tuhannya. Termasuk jamaah kita ternyata kebanyakan tidak trampil untuk berdoa atau berzikir namun lebih condong pada perbuatan lahan yang menghabiskan waktu sia-sia. Berkendara adalah aktifitas setiap hari bagi setiap orang, ke kantor, ke sekolah, ke pasar dengan mengendarai mobil pribadi, sepeda motor atau kendaraan umum. Yakinkah kita bahwa separoh dari jumlah jamaah kita hafal doa naik kendaraan? Adakah yang pernah peduli untuk mengontrol ke sana? Di kelompok saya sekarang, desa Jumputrejo, ketika diadakan tes zikir, seorang bapak beranak dua yang sudah puluhan tahun mengaji ternyata masih belepotan melafadhkan tahlil "laa ilaaha illa Allah, wahdahu laa syarikalahu lahulmulku walahulhamdu wahua 'ala kulli syaiin khodiir". Saya jadi sedikit suudzon, apakah ini salah satu potret kegagalan pembinaan keimanan dalam LDII?

Seperti kita ketahui LDII memiliki program pertama MENGAJI QURAN HADIST dan kedua MENGAMALKAN QURAN HADIST. Dari dua program ini terlihat jelas ketimpangan dalam penerapannya di lapangan. LDII memiliki tidak kurang dari selusin program pengajian, mulai pengajian caberawit, pengajian muda-mudi, pengajian ibu-ibu, pengajian kelompok. pengajian umum, pengajian agniya' dan lain sebagainya namun tidak ada satupun forum yang bertujuan meningkatkan kinerja amalan ibadah jamaah. Bahkan para orang tua lanjut usia yang sudah mendekati ajal, yang semestinya ditingkatkan amalan ibadahnya dengan banyak berzikir, berdoa, shalat dan berbagai amalan lainnya masih diundang dalam PENGAJIAN MANULA, kenapa tidak ada forum PENGAMALAN MANULA?

Bila kita analogkan dengan pendidikan umum, seorang yang lulus jurusan arsitektur tidak serta merta ia menjadi seorang arsitek. Untuk menjadi seorang arsitek, sarjana arsitektur harus magang dulu, menerapkan ilmunya dan banyak menghasilkan karya desain secara nyata di lapangan. Begitu juga seseorang yang lulus jurusan manajeman tidak serta merta dia memegang predikat manajer yang handal, harus ia buktikan ilmunya di perusahaan dengan banyak latihan dan menghadapi ujian di kehidupan nyata.

LDII sebenarnya telah menyusun 15 kitab himpunan antara lain; Kitabu Sholah, Kitabu Da'awat, Kitabu Adab dan lain sebagainya. Pengelompokan kitab berdasarkan kategori amalannya ini dimaksudkan agar jamaah mudah mengamalkan. Akan tetapi kalau kita sudah khatam Kitabu Da'awat, misalnya, apakah otomatis kita akan menjadi ahli berdoa? Begitu juga kalau kita khatam Kitabu Adab apakah serta merta akan menjadi orang beradab atau berakhlakul karimah? Quran hadist adalah jalan masuk surga yang berisi tuntunan ibadah. Nah, kalau kita sudah menguasai ilmu Quran dan Hadist apakah dengan sendirinya kita langsung masuk surga? Jawabnya: T I D A K.

Bagaimanapun Quran Hadist adalah benda mati yang harus dihidupkan dalam perilaku kita sehari-hari. Untuk dapat menerapkan ajaran Quran Hadist dan sukses menjalankan ibadah kita harus banyak berlatih, banyak praktek di lapangan dan menghadapi ujian. Inilah tantangan para pendidik yang dimotori oleh PPG (Penggerak Pembina Generus) sekarang. Dengan tiga target keberhasilan pembinaan, yaitu: Generasi yang alim, berakhlakul karimah dan bisa hidup mandiri, para tokoh LDII banyak berharap akan lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang profesional, jujur, dan amanat dari dalam LDII. Apakah para pendidik kita sudah siap mewujudkan impian para sesepuh dan ulama tersebut?. Inilah yang harus diwaspadai, apakah kita yakin program yang disusun oleh korps PPG akan menghasilkan generasi yang alim, sekaligus berakhlak mulia dan profesional yang akan menopang kemandirian hidup mereka?

Alim, akhlakul karimah dan mandiri adalah tiga domain yang berbeda dan tidak berhubungan sebab akibat. Orang yang alim / banyak ilmu agamanya tidak serta merta menjadi orang yang berkepribadian unggul atau secara otomatis menjadi terampil dalam bekerja. Ketiganya harus disiapkan perangkat yang berbeda. Para mubaligh yang lulus dari pondok dengan menguasai Kutubusittah jangan keburu dikatakan sebagai kader yang berakhlakul karimah, jujur atau amanat sebelum mereka membuktikan diri dan teruji di lapangan. Kita tidak bisa menyebut juara pada orang yang tidak pernah bertanding. Fakta membuktikan banyak kader yang semula tampak alim, jujur dan tekun ibadahnya ternyata tidak sanggup menghadapi cobaan dan gagal memegang predikat umat yang jujur dan amanat. Watak jujur dan amanat perlu latihan, banyak praktek, dan harus lulus menghadapi ujian dalam kehidupan nyata.

Saya jadi teringat nasehat almahum KH. Umar Siraj, salah seorang kyai kota Surabaya era 1980-an; "Jamaah ini ilmunya sudah tiba di Jakarta namun amalannya baru sampai Lamongan". Begitu beliau menggambarkan betapa timpangnya unsur ilmu dengan pengamalan dalam jamaah ini. Ini bukan bentuk kegagalan pembinaan jamaah namun hanya kealpaan dalam mengaplikasikan program-program ibadah. Tanpa mengurangi faktor keilmuan, sudah waktunya LDII lebih memprioritaskan pada PROGRAM PENGAMALAN dengan banyak membuka forum latihan, forum pengamalan dan banyak melatih ketrampilan dan praktek K-E-J-U-J-U-R-A-N. Durasi pengajian yang ada saat ini sebagian bisa dialokasikan untuk ujian atau latihan praktek ibadah, seperti; hafalan  zikir dan doa, membaca Al-Quran, shalat dan berbagai amalan lainnya. وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ Demikian itu Surga diwariskan sebab apa-apa yang mengamal kamu sekalian
[Al-Quran surat Azuhruf ayat 72]

3 komentar :

Anonim mengatakan...

maaf pak..., lebih konkretnya / realnya / wujud forum pelatihan, forum pengamalan , praktek kejujuran itu apa saja, kalau bisa disebutkan contoh-contohnya.....ajk

LDII Sidoarjo mengatakan...

Beberapa sekolah umum menerapkan "kantin kejujuran", esensinya sama membentuk pribadi yang jujur. Yang menurut kami mendesak adalah dikembangkannya kurikulum kepribadian di setiap lembaga pendidikan dan keagamaan.

diyah mengatakan...

Assalamualaikum wrwb.

Kulo setuju Pak Budi...!
Mungkin bisa dimusyawarohkan-diagendakan untuk kegiatan praktek langsung cara mengamalkan quran hadis jamaah, prioritas bagi para manula....sbg. bekal sangu masuk surga...
AJKK.

Poskan Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Ilmu di Jakarta, Amal di Lamongan

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Suatu ketika saya mampir shalat maghrib berjamaah di masjid LDII yang sangat banyak jamahnya. Seperti biasanya setelah shalat saya berzikir dan berdoa, dan sebelum meninggalkan tempat, shalat sunah dua rekaat. Waktu keluar masjid, di teras saya lihat beberapa bapak-bapak sepuh berderet-deret dan ngobrol. Sambil lalu saya mendengarkan percakapan mereka. Subhanallah!, ternyata mereka membicarakan hal-hal yang sepele / lahan sekitar keduniawian. Saya hanya bisa mbatin, sayang sekali jamaah setua mereka masih suka ngobrol setelah shalat. Seandainya mereka tetap di masjid, shalat sunah, berdoa dan berzikir atau membaca Al-Quran sambil menunggu shalat isya' alangkah barokahnya.

Kemudahan hidup di akhir jaman yang ditunjang dengan berbagai fasilitas dan media hiburan yang berlimpah menjadikan manusia lalai pada Tuhannya. Termasuk jamaah kita ternyata kebanyakan tidak trampil untuk berdoa atau berzikir namun lebih condong pada perbuatan lahan yang menghabiskan waktu sia-sia. Berkendara adalah aktifitas setiap hari bagi setiap orang, ke kantor, ke sekolah, ke pasar dengan mengendarai mobil pribadi, sepeda motor atau kendaraan umum. Yakinkah kita bahwa separoh dari jumlah jamaah kita hafal doa naik kendaraan? Adakah yang pernah peduli untuk mengontrol ke sana? Di kelompok saya sekarang, desa Jumputrejo, ketika diadakan tes zikir, seorang bapak beranak dua yang sudah puluhan tahun mengaji ternyata masih belepotan melafadhkan tahlil "laa ilaaha illa Allah, wahdahu laa syarikalahu lahulmulku walahulhamdu wahua 'ala kulli syaiin khodiir". Saya jadi sedikit suudzon, apakah ini salah satu potret kegagalan pembinaan keimanan dalam LDII?

Seperti kita ketahui LDII memiliki program pertama MENGAJI QURAN HADIST dan kedua MENGAMALKAN QURAN HADIST. Dari dua program ini terlihat jelas ketimpangan dalam penerapannya di lapangan. LDII memiliki tidak kurang dari selusin program pengajian, mulai pengajian caberawit, pengajian muda-mudi, pengajian ibu-ibu, pengajian kelompok. pengajian umum, pengajian agniya' dan lain sebagainya namun tidak ada satupun forum yang bertujuan meningkatkan kinerja amalan ibadah jamaah. Bahkan para orang tua lanjut usia yang sudah mendekati ajal, yang semestinya ditingkatkan amalan ibadahnya dengan banyak berzikir, berdoa, shalat dan berbagai amalan lainnya masih diundang dalam PENGAJIAN MANULA, kenapa tidak ada forum PENGAMALAN MANULA?

Bila kita analogkan dengan pendidikan umum, seorang yang lulus jurusan arsitektur tidak serta merta ia menjadi seorang arsitek. Untuk menjadi seorang arsitek, sarjana arsitektur harus magang dulu, menerapkan ilmunya dan banyak menghasilkan karya desain secara nyata di lapangan. Begitu juga seseorang yang lulus jurusan manajeman tidak serta merta dia memegang predikat manajer yang handal, harus ia buktikan ilmunya di perusahaan dengan banyak latihan dan menghadapi ujian di kehidupan nyata.

LDII sebenarnya telah menyusun 15 kitab himpunan antara lain; Kitabu Sholah, Kitabu Da'awat, Kitabu Adab dan lain sebagainya. Pengelompokan kitab berdasarkan kategori amalannya ini dimaksudkan agar jamaah mudah mengamalkan. Akan tetapi kalau kita sudah khatam Kitabu Da'awat, misalnya, apakah otomatis kita akan menjadi ahli berdoa? Begitu juga kalau kita khatam Kitabu Adab apakah serta merta akan menjadi orang beradab atau berakhlakul karimah? Quran hadist adalah jalan masuk surga yang berisi tuntunan ibadah. Nah, kalau kita sudah menguasai ilmu Quran dan Hadist apakah dengan sendirinya kita langsung masuk surga? Jawabnya: T I D A K.

Bagaimanapun Quran Hadist adalah benda mati yang harus dihidupkan dalam perilaku kita sehari-hari. Untuk dapat menerapkan ajaran Quran Hadist dan sukses menjalankan ibadah kita harus banyak berlatih, banyak praktek di lapangan dan menghadapi ujian. Inilah tantangan para pendidik yang dimotori oleh PPG (Penggerak Pembina Generus) sekarang. Dengan tiga target keberhasilan pembinaan, yaitu: Generasi yang alim, berakhlakul karimah dan bisa hidup mandiri, para tokoh LDII banyak berharap akan lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang profesional, jujur, dan amanat dari dalam LDII. Apakah para pendidik kita sudah siap mewujudkan impian para sesepuh dan ulama tersebut?. Inilah yang harus diwaspadai, apakah kita yakin program yang disusun oleh korps PPG akan menghasilkan generasi yang alim, sekaligus berakhlak mulia dan profesional yang akan menopang kemandirian hidup mereka?

Alim, akhlakul karimah dan mandiri adalah tiga domain yang berbeda dan tidak berhubungan sebab akibat. Orang yang alim / banyak ilmu agamanya tidak serta merta menjadi orang yang berkepribadian unggul atau secara otomatis menjadi terampil dalam bekerja. Ketiganya harus disiapkan perangkat yang berbeda. Para mubaligh yang lulus dari pondok dengan menguasai Kutubusittah jangan keburu dikatakan sebagai kader yang berakhlakul karimah, jujur atau amanat sebelum mereka membuktikan diri dan teruji di lapangan. Kita tidak bisa menyebut juara pada orang yang tidak pernah bertanding. Fakta membuktikan banyak kader yang semula tampak alim, jujur dan tekun ibadahnya ternyata tidak sanggup menghadapi cobaan dan gagal memegang predikat umat yang jujur dan amanat. Watak jujur dan amanat perlu latihan, banyak praktek, dan harus lulus menghadapi ujian dalam kehidupan nyata.

Saya jadi teringat nasehat almahum KH. Umar Siraj, salah seorang kyai kota Surabaya era 1980-an; "Jamaah ini ilmunya sudah tiba di Jakarta namun amalannya baru sampai Lamongan". Begitu beliau menggambarkan betapa timpangnya unsur ilmu dengan pengamalan dalam jamaah ini. Ini bukan bentuk kegagalan pembinaan jamaah namun hanya kealpaan dalam mengaplikasikan program-program ibadah. Tanpa mengurangi faktor keilmuan, sudah waktunya LDII lebih memprioritaskan pada PROGRAM PENGAMALAN dengan banyak membuka forum latihan, forum pengamalan dan banyak melatih ketrampilan dan praktek K-E-J-U-J-U-R-A-N. Durasi pengajian yang ada saat ini sebagian bisa dialokasikan untuk ujian atau latihan praktek ibadah, seperti; hafalan  zikir dan doa, membaca Al-Quran, shalat dan berbagai amalan lainnya. وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ Demikian itu Surga diwariskan sebab apa-apa yang mengamal kamu sekalian
[Al-Quran surat Azuhruf ayat 72]