وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Sabtu, 01 Oktober 2011

Menjadikan Media Sebagai Alat Dakwah

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Sabtu, 4 Juni 2011 di Pondok Wali Barokah saya mendapat cerita teman saya, Yunus asal Bandung. Dalam perjalanan Bandung - Kediri ia berkenalan dengan seorang penumpang yang duduk di sampingnya. Kenalan barunya ini tiba-tiba berteriak histeris ketika mengetahui bahwa dia adalah orang LDII. "Hai penumpang di sini ada orang LDII membawa bom!". Sontak gerbong kereta menjadi ribut bahkan barang bawaan Yunus sempat digeledah. Syukurlah berkat kesabarannya gerbong kereta akhirnya tenang kembali dan tidak terjadi apa-apa.

Insiden yang dialami Yunus sungguh menggelikan sekaligus memprihatinkan. Kejadian tersebut merupakan salah satu bukti nyata salah persepsi dan ketidaktahuan masyarakat tentang LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Ini merupakan peluang amal sholih untuk lebih sungguh-sungguh dalam menerapkan budi luhur dan lebih inten lagi membangun citra organisasi di tengah masyarakat. Mereka yang salah persepsi terhadap LDII adalah orang yang tidak tahu sendiri tentang LDII namun telah termakan INFORMASI yang tidak benar.

Rasulullah SAW jauh hari sudah mengingatkan: إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا* تفسر القرتب
“Sesungguhnya sebagian dari keterangan itu merupakan sihir” [Tafsir Al-Kurtubi Surat Al-Bakarah ayat 102]
Pada jaman modern ini terbukti bahwa informasi memiliki kekuatan sungguh luar biasa. Tidak ada perubahan dan pergolakan di dunia ini yang tidak melibatkan media dan informasi.

Mas Chris, begitu saya biasa memanggil ketua LDII Jatim, Ir. H. Chriswanto Santoso MSc, pernah memaparkan bahwa LDII sedang membangun tiga pondasi organisasi yang kokoh yaitu: Legalitas, Legitimasi dan Kompetensi, dimana kompetensi organisasi terbagi dua yaitu kompetensi profesionalisme dan kompetensi dakwah. Dari sisi kompetensi dakwah jelas sampai saat ini masih jauh dari harapan. Ini setidaknya bisa dilihat dari beberapa indikasi, antara lain:
  1. LDII belum memiliki satu institusi yang bertugas khusus berdakwah amar ma’ruf nahi munkar kepada publik.
  2. LDII dalam pencitraannya belum membawa misi dakwah kepada masyarakat umum
  3. Selain Lantabur TV, belum ada media LDII yang menyuarakan konten-konten dakwah secara signifikan. Lantabur-pun hingga saat ini belum menyandang atribut “LDII”.
  4. Media-media yang berlabel LDII sebagian besar dimiliki dan dikelola oleh relawan secara pribadi belum terorganisasi secara kelembagaan.
  5. Salah persepsi yang berkembang selama ini adalah bukti lemahnya LDII dalam memberdayakan media untuk membangun persepsi masyarakat.

Lembaga Dakwah Islam Indoesia (LDII) sebenarnya memiliki departemen informasi, komunikasi dan media. Bidang ini ada di setiap level organisasi mulai pusat, provinsi sampai tingkat kota dan kabupaten. Akan tetapi apa peran dan fungsi bagian ini terhadap pengembangan dakwah Islam Quran Hadist belum bisa difahami. Bidang Pendidikan Agama dan Dakwah juga tidak terlihat melaksanakan tugas amar ma'ruf kepada publik.

Adanya gerakan internet sehat sebenarnya merupakan harapan baru akan lahirnya pendekar-pendekar dakwah lewat media informasi. Melalui GIS ini lahirlah tim-tim ICT di daerah-daerah, yang menghimpun skill dari berbagai kompetensi seperti programer, web master, teknisi multimedia dan jaringan. Namun sampai hari ini saya masih mengkhawatirkan bahwa nasib lembaga ICT ini akan sama dengan UB yang mati suri karena tidak adanya pembinaan dan pelatihan secara terstruktur dan berkesinambungan. Ibarat bermain sepakbola LDII saat ini mengambil strategi bertahan total dimana seluruh pemainnya adalah spesialis bertahan. Konsekuensi pola bertahan adalah tidak mungkin memenangkan pertandingan namun masih mungkin kebobolan dan kalah.

Di era banjir informasi sekarang ini, tanpa usaha amar ma’ruf yang masif kita akan kalah memperebutkan hati masyarakat dalam menanamkan kefahaman Islam yang benar berdasarkan Quran dan Hadist. Bila tidak memperkuat sektor informasi, Ormas Islam seperti LDII akan kalah bersaing dengan derasnya pengaruh buruk yang juga gencar menyerbu media-media komunikasi dan informasi. Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban mutlak setiap orang iman, dengan prinsip Sabda Nabi SAW: “Sampaikan yang dariku walaupun hanya satu ayat”.
بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ» : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ
...Rasulullah SAW bersabda,”Demi zat yang diriku ditanganNya niscaya ber-amar-ma’ruf-lah kalian dan mencegahlah dari kemungkaran, bila tidak, Allah pasti segera mengirim siksa padamu dari sisiNya kemudian kalian memohon padaNya namun tidak dikabulkan bagimu”. [Hadist Muslim No. 2169 Bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar]

Karena itu, berdakwah, menawarkan kebenaran Quran Hadist hendaknya menjadi naluri dan nafas sehari-hari setiap individu jamaah Muslim, sesuai falsafah lama yang sering didendangkan oleh para ulama perintis LDII:
“Brambang diombyoki, angger lawang dienggoki”,
“Gela-gelo, budal ijen mulih wong loro”.

Ketua MUI Jatim, KH. Abdushomad Bukhori, dalam tausiyahnya di Pondok Wali Barokah, Maret 2010 pernah mengingatkan pentingnya umat Islam menguasai teknologi informasi dan media, seperti; radio, televisi, surat kabar, dan internet, untuk mengimbangi pengaruh buruk dari media. Dengan memanfaatkan teknologi dan media informasi seperti internet yang menyajikan banyak platform: blog, facebook, twitter, email dan lain sebagainya maka kewajiban amar ma’ruf menjadi semakin mudah dan sangat murah untuk dilaksanakan. Tidak perlu mengetuk pintu setiap rumah namun konten-konten dakwah yang kita luncurkan dengan sendirinya akan masuk ke rumah-rumah, kantor-kantor, kafe-kafe dalam piranti digital setiap orang yang sedang mencari kebenaran agama Islam melalui media online.

Jadi sudah waktunya, organisasi LDII menjadikan kelengkapanya bidang Infokom dan bidang Pendidikan Agama dan Dakwah sebagai ujung tombak kembar pengembangan dakwah Islam, berdasarkan Kitabillah dan Sunah Nabi. Bila meremehkan dakwah amar ma'ruf, kita umat Islam akan terlambat membendung kemaksiatan yang siap menghancurkan keimanan dan moral generasi muda Muslim sehingga berakibat segera turunnya azab Tuhan.

1 komentar :

Area Muda mengatakan...

saya setuju dg isi tulisan tsb, semoga menjadi perhatian serius dan bisa diaplikasikan di lapangan, ajk

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Menjadikan Media Sebagai Alat Dakwah

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Sabtu, 4 Juni 2011 di Pondok Wali Barokah saya mendapat cerita teman saya, Yunus asal Bandung. Dalam perjalanan Bandung - Kediri ia berkenalan dengan seorang penumpang yang duduk di sampingnya. Kenalan barunya ini tiba-tiba berteriak histeris ketika mengetahui bahwa dia adalah orang LDII. "Hai penumpang di sini ada orang LDII membawa bom!". Sontak gerbong kereta menjadi ribut bahkan barang bawaan Yunus sempat digeledah. Syukurlah berkat kesabarannya gerbong kereta akhirnya tenang kembali dan tidak terjadi apa-apa.

Insiden yang dialami Yunus sungguh menggelikan sekaligus memprihatinkan. Kejadian tersebut merupakan salah satu bukti nyata salah persepsi dan ketidaktahuan masyarakat tentang LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Ini merupakan peluang amal sholih untuk lebih sungguh-sungguh dalam menerapkan budi luhur dan lebih inten lagi membangun citra organisasi di tengah masyarakat. Mereka yang salah persepsi terhadap LDII adalah orang yang tidak tahu sendiri tentang LDII namun telah termakan INFORMASI yang tidak benar.

Rasulullah SAW jauh hari sudah mengingatkan: إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا* تفسر القرتب
“Sesungguhnya sebagian dari keterangan itu merupakan sihir” [Tafsir Al-Kurtubi Surat Al-Bakarah ayat 102]
Pada jaman modern ini terbukti bahwa informasi memiliki kekuatan sungguh luar biasa. Tidak ada perubahan dan pergolakan di dunia ini yang tidak melibatkan media dan informasi.

Mas Chris, begitu saya biasa memanggil ketua LDII Jatim, Ir. H. Chriswanto Santoso MSc, pernah memaparkan bahwa LDII sedang membangun tiga pondasi organisasi yang kokoh yaitu: Legalitas, Legitimasi dan Kompetensi, dimana kompetensi organisasi terbagi dua yaitu kompetensi profesionalisme dan kompetensi dakwah. Dari sisi kompetensi dakwah jelas sampai saat ini masih jauh dari harapan. Ini setidaknya bisa dilihat dari beberapa indikasi, antara lain:
  1. LDII belum memiliki satu institusi yang bertugas khusus berdakwah amar ma’ruf nahi munkar kepada publik.
  2. LDII dalam pencitraannya belum membawa misi dakwah kepada masyarakat umum
  3. Selain Lantabur TV, belum ada media LDII yang menyuarakan konten-konten dakwah secara signifikan. Lantabur-pun hingga saat ini belum menyandang atribut “LDII”.
  4. Media-media yang berlabel LDII sebagian besar dimiliki dan dikelola oleh relawan secara pribadi belum terorganisasi secara kelembagaan.
  5. Salah persepsi yang berkembang selama ini adalah bukti lemahnya LDII dalam memberdayakan media untuk membangun persepsi masyarakat.

Lembaga Dakwah Islam Indoesia (LDII) sebenarnya memiliki departemen informasi, komunikasi dan media. Bidang ini ada di setiap level organisasi mulai pusat, provinsi sampai tingkat kota dan kabupaten. Akan tetapi apa peran dan fungsi bagian ini terhadap pengembangan dakwah Islam Quran Hadist belum bisa difahami. Bidang Pendidikan Agama dan Dakwah juga tidak terlihat melaksanakan tugas amar ma'ruf kepada publik.

Adanya gerakan internet sehat sebenarnya merupakan harapan baru akan lahirnya pendekar-pendekar dakwah lewat media informasi. Melalui GIS ini lahirlah tim-tim ICT di daerah-daerah, yang menghimpun skill dari berbagai kompetensi seperti programer, web master, teknisi multimedia dan jaringan. Namun sampai hari ini saya masih mengkhawatirkan bahwa nasib lembaga ICT ini akan sama dengan UB yang mati suri karena tidak adanya pembinaan dan pelatihan secara terstruktur dan berkesinambungan. Ibarat bermain sepakbola LDII saat ini mengambil strategi bertahan total dimana seluruh pemainnya adalah spesialis bertahan. Konsekuensi pola bertahan adalah tidak mungkin memenangkan pertandingan namun masih mungkin kebobolan dan kalah.

Di era banjir informasi sekarang ini, tanpa usaha amar ma’ruf yang masif kita akan kalah memperebutkan hati masyarakat dalam menanamkan kefahaman Islam yang benar berdasarkan Quran dan Hadist. Bila tidak memperkuat sektor informasi, Ormas Islam seperti LDII akan kalah bersaing dengan derasnya pengaruh buruk yang juga gencar menyerbu media-media komunikasi dan informasi. Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban mutlak setiap orang iman, dengan prinsip Sabda Nabi SAW: “Sampaikan yang dariku walaupun hanya satu ayat”.
بَابُ مَا جَاءَ فِي الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ» : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، بِهَذَا الإِسْنَادِ نَحْوَهُ
...Rasulullah SAW bersabda,”Demi zat yang diriku ditanganNya niscaya ber-amar-ma’ruf-lah kalian dan mencegahlah dari kemungkaran, bila tidak, Allah pasti segera mengirim siksa padamu dari sisiNya kemudian kalian memohon padaNya namun tidak dikabulkan bagimu”. [Hadist Muslim No. 2169 Bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar]

Karena itu, berdakwah, menawarkan kebenaran Quran Hadist hendaknya menjadi naluri dan nafas sehari-hari setiap individu jamaah Muslim, sesuai falsafah lama yang sering didendangkan oleh para ulama perintis LDII:
“Brambang diombyoki, angger lawang dienggoki”,
“Gela-gelo, budal ijen mulih wong loro”.

Ketua MUI Jatim, KH. Abdushomad Bukhori, dalam tausiyahnya di Pondok Wali Barokah, Maret 2010 pernah mengingatkan pentingnya umat Islam menguasai teknologi informasi dan media, seperti; radio, televisi, surat kabar, dan internet, untuk mengimbangi pengaruh buruk dari media. Dengan memanfaatkan teknologi dan media informasi seperti internet yang menyajikan banyak platform: blog, facebook, twitter, email dan lain sebagainya maka kewajiban amar ma’ruf menjadi semakin mudah dan sangat murah untuk dilaksanakan. Tidak perlu mengetuk pintu setiap rumah namun konten-konten dakwah yang kita luncurkan dengan sendirinya akan masuk ke rumah-rumah, kantor-kantor, kafe-kafe dalam piranti digital setiap orang yang sedang mencari kebenaran agama Islam melalui media online.

Jadi sudah waktunya, organisasi LDII menjadikan kelengkapanya bidang Infokom dan bidang Pendidikan Agama dan Dakwah sebagai ujung tombak kembar pengembangan dakwah Islam, berdasarkan Kitabillah dan Sunah Nabi. Bila meremehkan dakwah amar ma'ruf, kita umat Islam akan terlambat membendung kemaksiatan yang siap menghancurkan keimanan dan moral generasi muda Muslim sehingga berakibat segera turunnya azab Tuhan.