وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Senin, 08 Agustus 2011

Perang Salib (4)

ditulis: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam,
pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman "ya ‘Isa bin Maryam, betulkah’ kau pernah berkata pada manusia: Anggaplah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?". Dia menjawab ‘Maha Suci Engkau, hamba tidak berhak berkata yang bukan hak hamba. Kalau hamba pernah mengatakannya tentu Tuhan telah mengetahuinya. Tuhan tahu yang di dalam hatiku; sementara hamba tak tahu yang di dalam Diri-Mu. Sungguh Engkau Maha tahu barang-barang ghaib.” [Qs Al-Ma’idah 116].

Bagi orang awam merosotnya bahasa Arab ke bawah dan melambungnya bahasa Inggris adalah sesuatu yang tak perlu dipersoalkan. Padahal besar kemungkinan bahwa ini termasuk bagian dari jurus Perang Salib modern. Ini bukannya su’udl-dlan atau menyangka jelek, tetapi bisa dilogika. Dulu di saat Belanda menjajah Indonesia; saat itu mata uang Indonesia masih dihias dengan kaligrafi indah. Itu menunjukkan bahwa di saat itu bahasa Arab masih mengangkasa. Di saat itu istilah-istilah keren bagi Muslimiin adalah yang dari bahasa Arab. Setelah sekularisme menggurita istilah-istilah yang melambung-pun istilah-istilah yang dari bahasa Inggris. Ini tentu bukan karena terjadi dengan sendirinya, tetapi karena ada kekuatan yang mendorong kearah sana. Ada fihak yang beruntung jika umat Islam tidak tahu bahasa Arab, yaitu akan mudah dilumpuhkan dan dipengaruhi atau dibodohi hingga akhirnya akan mudah dimusnahkan.

Masih banyak umat Islam yang tidak tahu mengenai orang yang pertama-kali merusakkan agama ‘Isa. Qurthubi menjelaskan:
قَدْ قِيْلَ: إِنَّ النَّصاَرَى كاَنُوْا عَلَى دِيْنِ اْلاِسْلاَمِ إِحْدَى وَثَماَنِيْنَ سَنَة بَعْدَماَ رُفِعَ عِيْسَى، يُصَلُّوْنَ إِلَى اْلقِبْلَةِ، وَيَصُوْمُوْنَ شَهْرَ رَمَضاَنَ، حَتَّى وَقَعَ فِيْماَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اْليَهُوْدِ حَرْبٌ، وَكاَنَ فِي اْليَهُوْدِ رَجُلٌ شُجاعٌ يُقاَلُ لَهُ بُوْلُسُ، قَتَلَ جَماَعَةً مِنْ أَصْحاَبِ عِيْسَى فَقاَلَ: إِنْ كاَنَ الْحَقُّ مَعَ عِيْسَى فَقَدْ كَفَرْناَ وَجَحَدْناَ وَإِلَى الناَّرِ مَصِيْرُناَ، وَنَحْنُ مَغْبُوْنُوْنَ إِنْ دَخَلُوْا اْلجَنَّةَ وَدَخَلْناَ الناَّرَ، وَإِنِّي أَحْتاَلُ فِيْهِمْ فَأُضِلَّهُمْ فَيَدْخُلُوْنَ الناَّرَ، وَكاَنَ لَهُ فَرَسٌ يُقاَلُ لَهاَ الْعِقاَبُ، فَأَظْهَرَ النَّداَمَةَ وَوَضَعَ عَلَى رَأْسِهِ التُّرابَ َوَقاَلَ لِلنَّصاَرَى: أَناَ بُوْلُسُ عَدُوُّكُمْ قَدْ نُوْدِيْتُ مِنَ السَّماَءِ أَنْ لَيْسَتْ لَكَ تَوْبَةٌ إِلاَّ أَنْ تَتَنَصَّرَ، فَأَدْخَلُوْهُ فِي الْكَنِيْسَةِ بَيْتاً فَأَقاَمَ فِيْهِ سَنَة لاَ يَخْرُجُ لَيْلاً وَلاَ نَهاَراً حَتَّى تَعَلَّمَ اْلاِنْجِيْلَ، فَخَرَجَ وَقاَلَ: نُوْدِيْتُ مِنَ السَّماَءِ أَنَّ اللهَ قَدْ قَبِلَ تَوْبَتَكَ فَصَدَّقُوْهُ وَأَحَبُّوُهُ، ثُمَّ مَضَى إِلَى بَيْتِ اْلمَقْدِسِ وَاسْتَخْلَفَ عَلَيْهِمْ نَسْطُوْراً وَأَعْلَمَهُ أَنَّ عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ إِلَهٌ، ثُمَّ تَوَجَّهَ إِلَى الرُّوْمِ وَعَلَّمَهُمُ اللاَّهُوْتَ وَالناَّسُوْتَ وَقاَلَ: لَمْ يَكُنْ عِيْسَى بِإِنْسٍ فَتَأَنَّسَ وَلاَ بِجِسْمٍ فَتَجَسَّمَ وَلَكِنَّهُ ابْنُ اللهِ. وَعَلَّمَ رَجُلاً يُقاَلُ لَهُ يَعْقُوْبُ ذَلِكَ، ثُمَّ دَعاَ رَجُلاً يُقاَلُ لَهُ الْمِلْكُ فَقاَلَ لَهُ، إِنَّ اْلاِلَهَ لَمْ يَزَلْ وَلاَ يَزاَلُ عِيْسَى، فَلَمَّا اسْتَمْكَنَ مِنْهُمْ دَعاَ هَؤُلاَءِ الثَّلاَثَة وَاحِداً وَاحِداً وَقاَلَ لَهُ: أَنْتَ خاَلِصَتِيْ وَلَقَدْ رَأَيْتُ اْلمَسِيْحَ فِي النَّوْمِ وَرَضِيَ عَنِّي، وَقاَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ: إِنِّيْ غَداً أَذْبَحُ نَفْسِيْ وَأَتَقَرَّبُ بِهاَ، فَادْعُ الناَّسَ إِلَى نِحْلَتِكَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَذَْحَ َفَذَبَحَ نَفْسَهُ، فَلَماَّ كاَنَ يَوْمُ ثاَلِثِهِ دَعاَ كُلُّ واَحِدٍ مِنْهُمُ الناَّسَ إِلَى نِحَْتِهِ، فَتَبِعَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ طاَئِفَةٌ، فَاقْتَتَلُوْا وَاخْتَلَفُوْا إِلَى يَوْمِناَ هَذاَ، فَجَمِيْعُ النَّصاَرَى مِنَ الْفِرَقِ الثَّلاَثِ، فَهَذاَ كاَنَ سَبَبُ شِرْكِهِمْ فِيْماَ يُقاَلُ، وَاللهُ أَعْلَمُ.
Sungguh telah dilaporkan bahwa sungguh kaum Nashrani telah menetapi agama Islam selama 81 tahun, terhitung dari sejak diangkatnya ‘Isa ke langit. Saat itu mereka shalat menghadap qiblat, dan mengamalkan puasa Ramadhan. Akhirnya timbul peperangan antara mereka dan kaum Yahudi. Konon ada lelaki Yahudi pemberani bernama Paulus yang telah membunuh sejumlah sahabat ‘Isa. Namun akhirnya dia berkata “Kalau yang benar agama ’Isa berarti kami telah kafir dan telah jahat dan akan berakibat masuk neraka. Jika mereka nantinya masuk surga; sementara kita masuk neraka kita pasti hina. Jika begitu saya akan melancarkan makar untuk menyesatkan mereka.

Konon Paulus memiliki kuda kebanggaan bernama Iqab. Akhirnya Paulus berpura-pura menyesal dan meletakkan debu di atas kepalanya. Selanjutnya dia berkata pada kaum Nashrani “Sayalah Paulus musuh kalian. Sungguh saya telah diseru dari langit ‘taubatmu tak-kan diterima kecuali jika kau beragama Nashrani’.” Akhirnya kaum Nashrani mempersilahkan Paulus masuk ke ruangan Gereja. Dia ber-tempat di sana selama setahun penuh dan tak pernah keluar untuk yang tidak perlu baik siang maupun malam, hingga akhirnya dia berhasil mempelajari Injil. Setelah itu baru dia keluar dari Gereja. Dia berkata ”Saya telah diseru dari langit ‘sungguh Allah telah menerima taubatmu’.” Ternyata mereka mempercayai dan mencintainya. Akhir-nya dia pergi ke Baitil-Mqdis dan mengangkat Nasthur sebagai wakil yang meng-gantikan kedudukannya. Saat itu Paulus telah menjadi tokoh Nashrani. Dia mengajar-kan pada Nasthur “Sesungguhnya ‘Isa bin Maryam adalah Tuhan.” Selanjutnya dia pergi ke Roma dan mengajarkan paham Lahut wa Nasut[1] . Dia berkata “’Isa bukan-lah manusia, namun menjelma manusia, dan jasad sebenarnya tidak seperti itu. Kare-na sebetulnya Dia adalah Putra Allah.” Ajaran tersebut juga diajarkan pada Ya’qub. Selanjutnya dia mengundang lelaki bernama Milk untuk diajar “Sesungguhnya Tuhan belum dan takkan berubah sebagai ‘Isa.” Ketika dia telah merasa yakin terhadap muridnya bertiga, ia mengundang satu demi satu pada mereka bertiga. Semua diberi pesan “Kau murid khususku. Sungguh saya telah melihat ‘Isa di dalam mimpi, dan Dia telah ridha padaku.“ Dia juga berkata pada mereka satu demi satu “Besok pagi saya akan menyembelih diriku sebagai taqarrub (mendekatkan diri pada Tuhan). Pesanku ajaklah manusia menuju agamamu.” Akhirnya dia benar-benar memasuki ruang penyembelihan untuk menyembelih dirinya sendiri. Di hari ketiga dari peris-tiwa menggegerkan tersebut murid-murid khususnya berdakwah agar manusia me-masuki agama mereka. Dan tiap seorang dari mereka mendapatkan pengikut. Akhir-nya sekte-sekte tersebut berperang dan berselisih tak henti-henti hingga saat ini. Seluruh sekte Nashrani berasal dari tiga sekte tersebut. Inilah penyebab syirik mereka menurut sebuah sumber. Dan Allah lah yang lebih tahu.

Masih banyak yang tidak tahu pengertian firman Allah:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman ‘ya ‘Isa bin Maryam, betulkah’ kau pernah berkata pada manusia ‘anggaplah aku dan ibuku seba-gai dua Tuhan selain Allah?’. Dia menjawab ‘Maha Suci Engkau, hamba tidak berhak berkata yang bukan hak hamba. Kalau hamba pernah mengatakannya tentu Tuhan telah mengetahuinya. Tuhan tahu yang di dalam hatiku; sementara hamba tak tahu yang di dalam Diri-Mu. Sunguh Engkau Maha tahu barang-barang ghaib.” [Qs Al-Ma’idah 116].

Al-Baghawi menulis di dalam Tafsirnya:
قاَلَ أَبُوْ رَوْقٍ: وَإِذاَ سَمِعَ عِيْسَى عَلَيْهِ السّلَام هَذاَ الْخِطاَبَ ارْعَدَتْ مَفاَصِلُهُ وَانْفَجَرَتْ مِنْ أَصْلِ كُلِّ شَعْرةٍ فِيْ جَسَدِهِ عَيْنٌ مِنْ دَمٍ، ثُمَّ يَقُوْلُ مُجِيْباً ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ: { قَالَ سُبْحَانَكَ } تَنْزِيْهاً وَتَعْظِيْماً لَكَ { مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ }
Abu Rauq[2] berkata “Ketika ‘Isa عَلَيْهِ السّلَام mendengar ini firman sendi-sendinya ber-getar dan dari tiap pangkal bulu dari jasadnya menjadi sumber yang mengucurkan darah. Dia akan menjawab pada Allah {“Maha Suci Engkau,”} maksudnya “Kehebat-an dan keagungan[3] adalah hak-Mu,” {hamba tidak berhak mengatakan yang bukan hak hamba. Jika hamba pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya. Kau tahu yang di dalam hatiku; sementara hamba tidak tahu yang di dalam Diri-Mu}. [Juz 3 halaman 122].

[1]Dalam Tajul-‘Urus dijelaskan:
“وَفِرْقَةٌ أُخْرَى مِنَ النَّصاَرَى آلُ يَعْقُوْبَ الْبَرْداَعِيِّ وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ بِاتِّحَادِ اللاَّهُوْتِ وَالنَّاسُوْتِ وَهُمْ أََشَدُّ النَّصَارَى كُفْراً وَعِناَداً ذَكَرَهُ التَّقِيُّ اْلمُقْرِيْزِيُّ فِيْ بَعْضِ رَسَائِلِهِ
Sekte Nashrani lainnya ialah sekte Ya’qub Al-Barda’i. Mereka orang-orang yang mengucapkan faham Lahut dan Nasut, dan mereka-lah Nasharni paling kafir dan paling melampaui batas,” tutur At-Taqi Al-Muqrizi di dalam sebagian risalahnya. [Juz 1 halaman 790].
[2]Ahli Hadits yang bernama Abu Rauq ada dua: أبو روق أحمد بن محمد بن بكر (Abu Rauq Achmad bin Muhammad bin Bakr) dan أَبُو رَوْقٍ عَطِيَّةُ بْنُ الْحَارِثِ (Abu Rauq ‘Athiyyah bin Al-Charits).
[3]Subhanaka atau Maha Suci Engkau maksudnya kehebatan dan keagungan adalah hak-Mu.

1 komentar :

Putra Ahmadsyah Nasution mengatakan...

subhanallah.....
tulisan yg sangat bagus memiliki nilai sejarah keislaman.

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Perang Salib (4)

ditulis: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam,
pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman "ya ‘Isa bin Maryam, betulkah’ kau pernah berkata pada manusia: Anggaplah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?". Dia menjawab ‘Maha Suci Engkau, hamba tidak berhak berkata yang bukan hak hamba. Kalau hamba pernah mengatakannya tentu Tuhan telah mengetahuinya. Tuhan tahu yang di dalam hatiku; sementara hamba tak tahu yang di dalam Diri-Mu. Sungguh Engkau Maha tahu barang-barang ghaib.” [Qs Al-Ma’idah 116].

Bagi orang awam merosotnya bahasa Arab ke bawah dan melambungnya bahasa Inggris adalah sesuatu yang tak perlu dipersoalkan. Padahal besar kemungkinan bahwa ini termasuk bagian dari jurus Perang Salib modern. Ini bukannya su’udl-dlan atau menyangka jelek, tetapi bisa dilogika. Dulu di saat Belanda menjajah Indonesia; saat itu mata uang Indonesia masih dihias dengan kaligrafi indah. Itu menunjukkan bahwa di saat itu bahasa Arab masih mengangkasa. Di saat itu istilah-istilah keren bagi Muslimiin adalah yang dari bahasa Arab. Setelah sekularisme menggurita istilah-istilah yang melambung-pun istilah-istilah yang dari bahasa Inggris. Ini tentu bukan karena terjadi dengan sendirinya, tetapi karena ada kekuatan yang mendorong kearah sana. Ada fihak yang beruntung jika umat Islam tidak tahu bahasa Arab, yaitu akan mudah dilumpuhkan dan dipengaruhi atau dibodohi hingga akhirnya akan mudah dimusnahkan.

Masih banyak umat Islam yang tidak tahu mengenai orang yang pertama-kali merusakkan agama ‘Isa. Qurthubi menjelaskan:
قَدْ قِيْلَ: إِنَّ النَّصاَرَى كاَنُوْا عَلَى دِيْنِ اْلاِسْلاَمِ إِحْدَى وَثَماَنِيْنَ سَنَة بَعْدَماَ رُفِعَ عِيْسَى، يُصَلُّوْنَ إِلَى اْلقِبْلَةِ، وَيَصُوْمُوْنَ شَهْرَ رَمَضاَنَ، حَتَّى وَقَعَ فِيْماَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اْليَهُوْدِ حَرْبٌ، وَكاَنَ فِي اْليَهُوْدِ رَجُلٌ شُجاعٌ يُقاَلُ لَهُ بُوْلُسُ، قَتَلَ جَماَعَةً مِنْ أَصْحاَبِ عِيْسَى فَقاَلَ: إِنْ كاَنَ الْحَقُّ مَعَ عِيْسَى فَقَدْ كَفَرْناَ وَجَحَدْناَ وَإِلَى الناَّرِ مَصِيْرُناَ، وَنَحْنُ مَغْبُوْنُوْنَ إِنْ دَخَلُوْا اْلجَنَّةَ وَدَخَلْناَ الناَّرَ، وَإِنِّي أَحْتاَلُ فِيْهِمْ فَأُضِلَّهُمْ فَيَدْخُلُوْنَ الناَّرَ، وَكاَنَ لَهُ فَرَسٌ يُقاَلُ لَهاَ الْعِقاَبُ، فَأَظْهَرَ النَّداَمَةَ وَوَضَعَ عَلَى رَأْسِهِ التُّرابَ َوَقاَلَ لِلنَّصاَرَى: أَناَ بُوْلُسُ عَدُوُّكُمْ قَدْ نُوْدِيْتُ مِنَ السَّماَءِ أَنْ لَيْسَتْ لَكَ تَوْبَةٌ إِلاَّ أَنْ تَتَنَصَّرَ، فَأَدْخَلُوْهُ فِي الْكَنِيْسَةِ بَيْتاً فَأَقاَمَ فِيْهِ سَنَة لاَ يَخْرُجُ لَيْلاً وَلاَ نَهاَراً حَتَّى تَعَلَّمَ اْلاِنْجِيْلَ، فَخَرَجَ وَقاَلَ: نُوْدِيْتُ مِنَ السَّماَءِ أَنَّ اللهَ قَدْ قَبِلَ تَوْبَتَكَ فَصَدَّقُوْهُ وَأَحَبُّوُهُ، ثُمَّ مَضَى إِلَى بَيْتِ اْلمَقْدِسِ وَاسْتَخْلَفَ عَلَيْهِمْ نَسْطُوْراً وَأَعْلَمَهُ أَنَّ عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ إِلَهٌ، ثُمَّ تَوَجَّهَ إِلَى الرُّوْمِ وَعَلَّمَهُمُ اللاَّهُوْتَ وَالناَّسُوْتَ وَقاَلَ: لَمْ يَكُنْ عِيْسَى بِإِنْسٍ فَتَأَنَّسَ وَلاَ بِجِسْمٍ فَتَجَسَّمَ وَلَكِنَّهُ ابْنُ اللهِ. وَعَلَّمَ رَجُلاً يُقاَلُ لَهُ يَعْقُوْبُ ذَلِكَ، ثُمَّ دَعاَ رَجُلاً يُقاَلُ لَهُ الْمِلْكُ فَقاَلَ لَهُ، إِنَّ اْلاِلَهَ لَمْ يَزَلْ وَلاَ يَزاَلُ عِيْسَى، فَلَمَّا اسْتَمْكَنَ مِنْهُمْ دَعاَ هَؤُلاَءِ الثَّلاَثَة وَاحِداً وَاحِداً وَقاَلَ لَهُ: أَنْتَ خاَلِصَتِيْ وَلَقَدْ رَأَيْتُ اْلمَسِيْحَ فِي النَّوْمِ وَرَضِيَ عَنِّي، وَقاَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ: إِنِّيْ غَداً أَذْبَحُ نَفْسِيْ وَأَتَقَرَّبُ بِهاَ، فَادْعُ الناَّسَ إِلَى نِحْلَتِكَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَذَْحَ َفَذَبَحَ نَفْسَهُ، فَلَماَّ كاَنَ يَوْمُ ثاَلِثِهِ دَعاَ كُلُّ واَحِدٍ مِنْهُمُ الناَّسَ إِلَى نِحَْتِهِ، فَتَبِعَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ طاَئِفَةٌ، فَاقْتَتَلُوْا وَاخْتَلَفُوْا إِلَى يَوْمِناَ هَذاَ، فَجَمِيْعُ النَّصاَرَى مِنَ الْفِرَقِ الثَّلاَثِ، فَهَذاَ كاَنَ سَبَبُ شِرْكِهِمْ فِيْماَ يُقاَلُ، وَاللهُ أَعْلَمُ.
Sungguh telah dilaporkan bahwa sungguh kaum Nashrani telah menetapi agama Islam selama 81 tahun, terhitung dari sejak diangkatnya ‘Isa ke langit. Saat itu mereka shalat menghadap qiblat, dan mengamalkan puasa Ramadhan. Akhirnya timbul peperangan antara mereka dan kaum Yahudi. Konon ada lelaki Yahudi pemberani bernama Paulus yang telah membunuh sejumlah sahabat ‘Isa. Namun akhirnya dia berkata “Kalau yang benar agama ’Isa berarti kami telah kafir dan telah jahat dan akan berakibat masuk neraka. Jika mereka nantinya masuk surga; sementara kita masuk neraka kita pasti hina. Jika begitu saya akan melancarkan makar untuk menyesatkan mereka.

Konon Paulus memiliki kuda kebanggaan bernama Iqab. Akhirnya Paulus berpura-pura menyesal dan meletakkan debu di atas kepalanya. Selanjutnya dia berkata pada kaum Nashrani “Sayalah Paulus musuh kalian. Sungguh saya telah diseru dari langit ‘taubatmu tak-kan diterima kecuali jika kau beragama Nashrani’.” Akhirnya kaum Nashrani mempersilahkan Paulus masuk ke ruangan Gereja. Dia ber-tempat di sana selama setahun penuh dan tak pernah keluar untuk yang tidak perlu baik siang maupun malam, hingga akhirnya dia berhasil mempelajari Injil. Setelah itu baru dia keluar dari Gereja. Dia berkata ”Saya telah diseru dari langit ‘sungguh Allah telah menerima taubatmu’.” Ternyata mereka mempercayai dan mencintainya. Akhir-nya dia pergi ke Baitil-Mqdis dan mengangkat Nasthur sebagai wakil yang meng-gantikan kedudukannya. Saat itu Paulus telah menjadi tokoh Nashrani. Dia mengajar-kan pada Nasthur “Sesungguhnya ‘Isa bin Maryam adalah Tuhan.” Selanjutnya dia pergi ke Roma dan mengajarkan paham Lahut wa Nasut[1] . Dia berkata “’Isa bukan-lah manusia, namun menjelma manusia, dan jasad sebenarnya tidak seperti itu. Kare-na sebetulnya Dia adalah Putra Allah.” Ajaran tersebut juga diajarkan pada Ya’qub. Selanjutnya dia mengundang lelaki bernama Milk untuk diajar “Sesungguhnya Tuhan belum dan takkan berubah sebagai ‘Isa.” Ketika dia telah merasa yakin terhadap muridnya bertiga, ia mengundang satu demi satu pada mereka bertiga. Semua diberi pesan “Kau murid khususku. Sungguh saya telah melihat ‘Isa di dalam mimpi, dan Dia telah ridha padaku.“ Dia juga berkata pada mereka satu demi satu “Besok pagi saya akan menyembelih diriku sebagai taqarrub (mendekatkan diri pada Tuhan). Pesanku ajaklah manusia menuju agamamu.” Akhirnya dia benar-benar memasuki ruang penyembelihan untuk menyembelih dirinya sendiri. Di hari ketiga dari peris-tiwa menggegerkan tersebut murid-murid khususnya berdakwah agar manusia me-masuki agama mereka. Dan tiap seorang dari mereka mendapatkan pengikut. Akhir-nya sekte-sekte tersebut berperang dan berselisih tak henti-henti hingga saat ini. Seluruh sekte Nashrani berasal dari tiga sekte tersebut. Inilah penyebab syirik mereka menurut sebuah sumber. Dan Allah lah yang lebih tahu.

Masih banyak yang tidak tahu pengertian firman Allah:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman ‘ya ‘Isa bin Maryam, betulkah’ kau pernah berkata pada manusia ‘anggaplah aku dan ibuku seba-gai dua Tuhan selain Allah?’. Dia menjawab ‘Maha Suci Engkau, hamba tidak berhak berkata yang bukan hak hamba. Kalau hamba pernah mengatakannya tentu Tuhan telah mengetahuinya. Tuhan tahu yang di dalam hatiku; sementara hamba tak tahu yang di dalam Diri-Mu. Sunguh Engkau Maha tahu barang-barang ghaib.” [Qs Al-Ma’idah 116].

Al-Baghawi menulis di dalam Tafsirnya:
قاَلَ أَبُوْ رَوْقٍ: وَإِذاَ سَمِعَ عِيْسَى عَلَيْهِ السّلَام هَذاَ الْخِطاَبَ ارْعَدَتْ مَفاَصِلُهُ وَانْفَجَرَتْ مِنْ أَصْلِ كُلِّ شَعْرةٍ فِيْ جَسَدِهِ عَيْنٌ مِنْ دَمٍ، ثُمَّ يَقُوْلُ مُجِيْباً ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ: { قَالَ سُبْحَانَكَ } تَنْزِيْهاً وَتَعْظِيْماً لَكَ { مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ }
Abu Rauq[2] berkata “Ketika ‘Isa عَلَيْهِ السّلَام mendengar ini firman sendi-sendinya ber-getar dan dari tiap pangkal bulu dari jasadnya menjadi sumber yang mengucurkan darah. Dia akan menjawab pada Allah {“Maha Suci Engkau,”} maksudnya “Kehebat-an dan keagungan[3] adalah hak-Mu,” {hamba tidak berhak mengatakan yang bukan hak hamba. Jika hamba pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya. Kau tahu yang di dalam hatiku; sementara hamba tidak tahu yang di dalam Diri-Mu}. [Juz 3 halaman 122].

[1]Dalam Tajul-‘Urus dijelaskan:
“وَفِرْقَةٌ أُخْرَى مِنَ النَّصاَرَى آلُ يَعْقُوْبَ الْبَرْداَعِيِّ وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ بِاتِّحَادِ اللاَّهُوْتِ وَالنَّاسُوْتِ وَهُمْ أََشَدُّ النَّصَارَى كُفْراً وَعِناَداً ذَكَرَهُ التَّقِيُّ اْلمُقْرِيْزِيُّ فِيْ بَعْضِ رَسَائِلِهِ
Sekte Nashrani lainnya ialah sekte Ya’qub Al-Barda’i. Mereka orang-orang yang mengucapkan faham Lahut dan Nasut, dan mereka-lah Nasharni paling kafir dan paling melampaui batas,” tutur At-Taqi Al-Muqrizi di dalam sebagian risalahnya. [Juz 1 halaman 790].
[2]Ahli Hadits yang bernama Abu Rauq ada dua: أبو روق أحمد بن محمد بن بكر (Abu Rauq Achmad bin Muhammad bin Bakr) dan أَبُو رَوْقٍ عَطِيَّةُ بْنُ الْحَارِثِ (Abu Rauq ‘Athiyyah bin Al-Charits).
[3]Subhanaka atau Maha Suci Engkau maksudnya kehebatan dan keagungan adalah hak-Mu.