وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Jumat, 01 Juli 2011

Mbah Man

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Bpk. Ngatemin (68 thn) dan istrinya Ibu Warsiyem asal Sragen, dua dari 4 orang pahlawan penyangga dapur Mbah Man pada periode1960-an sampai 1990-an. Keduanya saat ini memiliki 14 anak dan tinggal di desa Kademangan Kecamatan Mojoagung Jombang.
Pagi hari ketika baru keluar gerbang bandara Soekarno-Hatta saya kebingungan untuk mendapatkan angkutan umum ke hotel Ciputra. Taksi yang lewat depan loby kedatangan-pun tidak mau berhenti. Beberapa kali ke Jakarta saya masih tidak tahu caranya melanjutkan ke tempat tujuan dengan angkutan umum. Bahkan saya juga belum bisa membedakan antara  Bandara 1 dengan Bandara 2. Yang saya tahu bahwa bandara satu adalah untuk penerbangan swasta domestik sedang bandara dua milik Garuda dan penerbangan internasional.

Di tengah kebingungan sendiri tiba-tiba seseorang menyapa saya dari belakang, "mbah man!, mbah man!". Sontak saya kaget seraya tersenyum dalam hati. Setelah membalikkan badan saya lihat seorang laki-laki yang belum pernah saya kenal, bahkan namanya-pun sekarang saya sudah lupa, dan kami langsung bersalaman, berkenalan dan berbincang-bincang. Saya bersukur di tengah kesulitan ternyata ada "orang asing" yang datang membantu. Walau belum kenal, namun naluri saya yakin jelas dia adalah orang LDII, sebagaimana dia yakin bahwa saya juga "mbah Man". Kata mbah man begitu populer dan telah menjadi konsesus sekaligus identitas jamaah LDII. "Mbah Man" telah menjadi pengikat persaudaraan antara jamaah LDII sekalipun tidak saling kenal sebelumnya. Di manapun, di seluruh dunia!.

Namun siapakah Mbah Man, yang namanya sangat melegenda itu?

Mbah Man, nama aslinya adalah Sukiman kelahiran Magetan 1925. Sejak belia Sukiman telah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan menjadi pejuang gerilya, tentara rakyat sebelum akhirnya pada tahun 1957 mendapat musibah terkena ranjau ketika berdinas. Pada usia sangat muda Sukiman harus kehilangan kedua kakinya hingga lutut akibat ranjau darat yang menimpanya. Selepas pensiun dari dinas militer tahun 1961 Sukiman mengabdikan seluruh sisa hidupnya ke Sabilillah dan mendapat amal sholih memimpin dapur Pondok Burengan Kediri, yang hingga sekarang dikenal dengan dapur Mbah Man. Seluruh mubaligh dan mubalighot lulusan Pondok Burengan pasti mengenal Mbah Man karena mbah Man-lah yang "memberi makan" mereka.

Dapur adalah komponen vital dalam Pondok. Dapur adalah hidupnya Pondok Pesantren. Dengan kondisi cacat tubuh, Mbah Sukiman bersama tiga rekannya (Alm) H. Sabar, Bpk Ngatemin dan istrinya Ibu Warsiyem, dengan setia melayani dan menyediakan makan bagi ribuan santri dan puluhan tamu pondok. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan saat itu, mereka berempat harus berjuang menghidupkan tungku dapur mereka untuk terus menghidupi ribuan santri pondok. Saat ini tidak kurang dari delapan kwintal beras setiap hari dimasak di dapur Mbah Man dengan tungku raksasa, dalam tong menggunakan sekrop sebagai pengaduknya.

Suatu pagi di bulan Agustus 1988 ribuan santri Pondok Burengan meneteskan air mata mengantar kepergian Mbah Sukiman menghadap Sang Maha Pencipta. Mbah Sukiman kini telah tiada, namun "spirit Mbah Man" tidak ikut mati bahkan terus hidup berkobar menyala sampai hari ini. Mbah Man adalah sosok manusia beriman, pekerja keras yang ulet dan sabar. Mbah Man juga simbol kejujuran yang andap asor namun pemberani.

Kerjakanlah segala sesuatu secara"mbah man"-an, artinya kerjakanlah setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh, penuh kesabaran, secara jujur dan jangan pernah takut pada manusia karena hanya Allah-lah yang pantas ditakuti. Jiwa dan semangat Mbah Man inilah yang menurun pada ribuan santri Pondok LDII dan menjadi inspirasi bagi jutaan jamaah LDII di seluruh dunia.

Perkembangan Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang mencengangkan banyak orang saat ini, dengan para mubaligh dan mubalighot sebagai ujung tombak penyebaran ilmu Quran Hadist, tidak terlepas dari jasa amal sholih dan jiwa perjuangan yang diwariskan oleh 4 orang pahlawan dapur Pondok Burengan termasuk seorang serdadu buntung bernama "Mbah Man".

11 komentar :

Anonim mengatakan...

Semoga semangat Mbah Man tetap terjaga di kalangan generus LDII. Sabar, ulet, jujur dan hanya takut kepada Alloh.

Anonim mengatakan...

Apa benar LDII mengamalkan Qur'an Hadist secara murni berdasarkan Qur'an Hadist yang sebenarnya ? Ir. Norman, MS

Anonim mengatakan...

MBAH MAN Tetep oke BROOOOOOOOOO.


Rizki Ababil Tarakan............

Anonim mengatakan...

MBAH MAN...contoh yang baik pekerja uleet semoga menjadi contoh GENERUUUUS.


NEZA...Tarakan CITY..

Anonim mengatakan...

mbah man contoh yang baik untuk semangat generus nya.

Mahmud Cliquers mengatakan...

mbah man JAYA

Anonim mengatakan...

aku bannga jadi seperti sekarang.mbah man enkau semangat ku

Anonim mengatakan...

spirit mbah man yes !
Sharusnya gnerasi muda skarng mncerminkan jw mbah man ..
Alumnus wali barokah

geyboy mengatakan...

nice share :) hidup mbah man !

Anonim mengatakan...

pengin seperti mbahman

Anonim mengatakan...

fotonya mbah man lurrr...amshol

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Mbah Man

ditulis oleh : Budi Waluyo, ST*
Bpk. Ngatemin (68 thn) dan istrinya Ibu Warsiyem asal Sragen, dua dari 4 orang pahlawan penyangga dapur Mbah Man pada periode1960-an sampai 1990-an. Keduanya saat ini memiliki 14 anak dan tinggal di desa Kademangan Kecamatan Mojoagung Jombang.
Pagi hari ketika baru keluar gerbang bandara Soekarno-Hatta saya kebingungan untuk mendapatkan angkutan umum ke hotel Ciputra. Taksi yang lewat depan loby kedatangan-pun tidak mau berhenti. Beberapa kali ke Jakarta saya masih tidak tahu caranya melanjutkan ke tempat tujuan dengan angkutan umum. Bahkan saya juga belum bisa membedakan antara  Bandara 1 dengan Bandara 2. Yang saya tahu bahwa bandara satu adalah untuk penerbangan swasta domestik sedang bandara dua milik Garuda dan penerbangan internasional.

Di tengah kebingungan sendiri tiba-tiba seseorang menyapa saya dari belakang, "mbah man!, mbah man!". Sontak saya kaget seraya tersenyum dalam hati. Setelah membalikkan badan saya lihat seorang laki-laki yang belum pernah saya kenal, bahkan namanya-pun sekarang saya sudah lupa, dan kami langsung bersalaman, berkenalan dan berbincang-bincang. Saya bersukur di tengah kesulitan ternyata ada "orang asing" yang datang membantu. Walau belum kenal, namun naluri saya yakin jelas dia adalah orang LDII, sebagaimana dia yakin bahwa saya juga "mbah Man". Kata mbah man begitu populer dan telah menjadi konsesus sekaligus identitas jamaah LDII. "Mbah Man" telah menjadi pengikat persaudaraan antara jamaah LDII sekalipun tidak saling kenal sebelumnya. Di manapun, di seluruh dunia!.

Namun siapakah Mbah Man, yang namanya sangat melegenda itu?

Mbah Man, nama aslinya adalah Sukiman kelahiran Magetan 1925. Sejak belia Sukiman telah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan menjadi pejuang gerilya, tentara rakyat sebelum akhirnya pada tahun 1957 mendapat musibah terkena ranjau ketika berdinas. Pada usia sangat muda Sukiman harus kehilangan kedua kakinya hingga lutut akibat ranjau darat yang menimpanya. Selepas pensiun dari dinas militer tahun 1961 Sukiman mengabdikan seluruh sisa hidupnya ke Sabilillah dan mendapat amal sholih memimpin dapur Pondok Burengan Kediri, yang hingga sekarang dikenal dengan dapur Mbah Man. Seluruh mubaligh dan mubalighot lulusan Pondok Burengan pasti mengenal Mbah Man karena mbah Man-lah yang "memberi makan" mereka.

Dapur adalah komponen vital dalam Pondok. Dapur adalah hidupnya Pondok Pesantren. Dengan kondisi cacat tubuh, Mbah Sukiman bersama tiga rekannya (Alm) H. Sabar, Bpk Ngatemin dan istrinya Ibu Warsiyem, dengan setia melayani dan menyediakan makan bagi ribuan santri dan puluhan tamu pondok. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan saat itu, mereka berempat harus berjuang menghidupkan tungku dapur mereka untuk terus menghidupi ribuan santri pondok. Saat ini tidak kurang dari delapan kwintal beras setiap hari dimasak di dapur Mbah Man dengan tungku raksasa, dalam tong menggunakan sekrop sebagai pengaduknya.

Suatu pagi di bulan Agustus 1988 ribuan santri Pondok Burengan meneteskan air mata mengantar kepergian Mbah Sukiman menghadap Sang Maha Pencipta. Mbah Sukiman kini telah tiada, namun "spirit Mbah Man" tidak ikut mati bahkan terus hidup berkobar menyala sampai hari ini. Mbah Man adalah sosok manusia beriman, pekerja keras yang ulet dan sabar. Mbah Man juga simbol kejujuran yang andap asor namun pemberani.

Kerjakanlah segala sesuatu secara"mbah man"-an, artinya kerjakanlah setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh, penuh kesabaran, secara jujur dan jangan pernah takut pada manusia karena hanya Allah-lah yang pantas ditakuti. Jiwa dan semangat Mbah Man inilah yang menurun pada ribuan santri Pondok LDII dan menjadi inspirasi bagi jutaan jamaah LDII di seluruh dunia.

Perkembangan Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang mencengangkan banyak orang saat ini, dengan para mubaligh dan mubalighot sebagai ujung tombak penyebaran ilmu Quran Hadist, tidak terlepas dari jasa amal sholih dan jiwa perjuangan yang diwariskan oleh 4 orang pahlawan dapur Pondok Burengan termasuk seorang serdadu buntung bernama "Mbah Man".