وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Minggu, 17 Juli 2011

KH. Irsyad Nurhasan



Mengangkat harkat kaum dhuafa dengan pendidikan Agama gratis

Perkembangan LDII di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah tidak dapat dipisahkan dari peran KH. Irsyad Nurhasan, yaitu salah seorang tokoh yang ikut merasakan pahit getirnya mengemban dakwah Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah satunya adalah ketika tahun 1968 beliau harus kehilangan jabatan dan pekerjaan di lingkungan Departemen Agama hanya karena ia seorang anggota Yakari, cikal bakal LDII saat itu. Satu kebijakan pimpinan yang tidak mencerminkan budaya masyarakat moderen yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman, dimana tugas negara terhalang oleh perbedaan keyakinan.

Namun ketika ia ceritakan musibah yang dihadapinya justru ditanggapi dengan tertawa gembira oleh rekan-rekannya seraya berseru,”Itu artinya dagangannmu laku dan tanda-tanda akan berkembangnya Quran Hadist di tempatmu”. COBAAN, satu terminologi yang sangat familier mengiringi setiap langkah perjuangan dakwah pengembangan Agama Allah. Justru bila hidup kita adem ayem tidak pernah bersinggungan dengan musibah dan penderitaan, kita harus waspada dan mengoreksi diri. Apakah amalan kita sudah tidak murni lagi? Apakah kita tidak sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah? Demikian ia mengenang nasehat rekan-rekannya di Kediri dan Kertosono.

Sesepuh LDII kelahiran 15 Agustus 1943 itu mulai mengenal pengajian Quran Hadist sejak tahun 1965 ketika ia menempuh pendidikan PPUPAN di Gringging kota Kediri Jawa Timur. Masuknya keluarga KH. Irsyad Nurhasan dalam Yakari cukup menggegerkan masyarakat karena sangat langka orang terpandang yang berpendidikan tinggi mengikuti pengajian yang dianggap asing saat itu.

Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Muhammad 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Dengan semboyan para ulama “SERIBU RINTANGAN - JUTAAN PERTOLONGAN - SURGA PASTI” KH. Irsyad Nurhasan pada tahun 1983 berhasil mendapatkan jabatannya kembali dan kini menjadi salah satu sesepuh yang dihormati di lingkungan Kementrian Agama Kabupaten Karanganyar. Salah satu buktinya adalah kader LDII lulusan IAIN Walisongo Semarang ini dipercaya melaksanakan program Wajib Belajar tingkat Ula dan Wustha, program pemerintah setara dengan Paket A dan Paket B Diknas yang digagas oleh Kementrian Agama. Bahkan mulai tahun 2007 hingga kini pensiunan Pengawas Pendidikan Agama ini dipercaya sebagai ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Pada usia 68 tahun saat ini komitmen pengembangan dakwah Kyai yang menjabat Ketua Dewan Pembina LDII Kabupaten Karanganyar ini tidak surut. Di era reformasi ini ia curahkan tenaga dan pikirannya untuk pendidikan generasi muda di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Berdirinya Ponpes Al-Muchlisin di desa Tegalgede tahun 2003 adalah bukti kepedulian KH. Irsyad terhadap masa depan pendidikan kaum dhuafa. Berkat lobi dan usaha keras, ulama yang bernama asli H. Ngadiman ini berhasil mendapatkan dukungan para aghniya, pengusaha dan birokrat, termasuk Bupati Karanganyar, menjadikan Pondok Al-Muchlisin satu-satunya Pondok Pesantren dengan biaya gratis di Kabupaten Karanganyar.

Profil KH. Irsyad Nurhasan

Nama:KH. Irsyad Nurhasan alias KH. Ngadiman A. Ma.
Alamat :Jongke, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah
Kelahiran:Karanganyar, 15 Agustrus 1943
Istri:Hj. Sumiatun
Anak:1. Mochamad Wachid Hasyim5. Achmad Hasan Ngadisaputro
  2. Mochamad Zaenal Fanani6. Ali Muhsan
  3. Arif Achmadi7. Abdul Salim
  4. Walid Khomsanudin 
Pendidikan:1950 - 1956 SR di Jongke Kab. Karanganyar
  1962 - 1965 PPUPAN (Pendidikan Pegawai Urusan dan Pengadilan Agama Negeri) Gringging, Kediri
  1969 - 1972 PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas) di Kabupaten Boyolali
  1996 - 1998 D2 IAIN Walisongo di Semarang
Pekerjaan:1968 Pegawai Departemen Agama Kab. Karanganyar
  1968 - 1983 Guru Agama Madrasah Ibtidaiyah di Ngemplak Boyolali
  1983 - 2000 Guru Agama Madrasah Ibtidaiyah di Tanjungsari Kab. Karanganyar
  2000 - 2005 Pengawas Pendidikan Agama Islam Kab. Karanganyar
Organisasi:1990 - Sekarang Dewan Penasehat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Karanganyar
  2000 - 2005 Pengurus Majelis Ulama (MUI) Kab. Karanganyar
2003 - Sekarang Ketua Pondok Pesantren Al-Muchlishin Tegalgede Kab. Karanganyar
  2007 - Sekarang Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Karanganyar

2 komentar :

Andry mengatakan...

Nice Post . . . :)

Anonim mengatakan...

Perlu banyal lagi tokoh washilatulhidayah yang di espos agar para generus selanjutnya memahami betapa pentingnya upaya pelestarian ilmu agama

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

KH. Irsyad Nurhasan



Mengangkat harkat kaum dhuafa dengan pendidikan Agama gratis

Perkembangan LDII di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah tidak dapat dipisahkan dari peran KH. Irsyad Nurhasan, yaitu salah seorang tokoh yang ikut merasakan pahit getirnya mengemban dakwah Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah satunya adalah ketika tahun 1968 beliau harus kehilangan jabatan dan pekerjaan di lingkungan Departemen Agama hanya karena ia seorang anggota Yakari, cikal bakal LDII saat itu. Satu kebijakan pimpinan yang tidak mencerminkan budaya masyarakat moderen yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman, dimana tugas negara terhalang oleh perbedaan keyakinan.

Namun ketika ia ceritakan musibah yang dihadapinya justru ditanggapi dengan tertawa gembira oleh rekan-rekannya seraya berseru,”Itu artinya dagangannmu laku dan tanda-tanda akan berkembangnya Quran Hadist di tempatmu”. COBAAN, satu terminologi yang sangat familier mengiringi setiap langkah perjuangan dakwah pengembangan Agama Allah. Justru bila hidup kita adem ayem tidak pernah bersinggungan dengan musibah dan penderitaan, kita harus waspada dan mengoreksi diri. Apakah amalan kita sudah tidak murni lagi? Apakah kita tidak sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah? Demikian ia mengenang nasehat rekan-rekannya di Kediri dan Kertosono.

Sesepuh LDII kelahiran 15 Agustus 1943 itu mulai mengenal pengajian Quran Hadist sejak tahun 1965 ketika ia menempuh pendidikan PPUPAN di Gringging kota Kediri Jawa Timur. Masuknya keluarga KH. Irsyad Nurhasan dalam Yakari cukup menggegerkan masyarakat karena sangat langka orang terpandang yang berpendidikan tinggi mengikuti pengajian yang dianggap asing saat itu.

Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Muhammad 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Dengan semboyan para ulama “SERIBU RINTANGAN - JUTAAN PERTOLONGAN - SURGA PASTI” KH. Irsyad Nurhasan pada tahun 1983 berhasil mendapatkan jabatannya kembali dan kini menjadi salah satu sesepuh yang dihormati di lingkungan Kementrian Agama Kabupaten Karanganyar. Salah satu buktinya adalah kader LDII lulusan IAIN Walisongo Semarang ini dipercaya melaksanakan program Wajib Belajar tingkat Ula dan Wustha, program pemerintah setara dengan Paket A dan Paket B Diknas yang digagas oleh Kementrian Agama. Bahkan mulai tahun 2007 hingga kini pensiunan Pengawas Pendidikan Agama ini dipercaya sebagai ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Pada usia 68 tahun saat ini komitmen pengembangan dakwah Kyai yang menjabat Ketua Dewan Pembina LDII Kabupaten Karanganyar ini tidak surut. Di era reformasi ini ia curahkan tenaga dan pikirannya untuk pendidikan generasi muda di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Berdirinya Ponpes Al-Muchlisin di desa Tegalgede tahun 2003 adalah bukti kepedulian KH. Irsyad terhadap masa depan pendidikan kaum dhuafa. Berkat lobi dan usaha keras, ulama yang bernama asli H. Ngadiman ini berhasil mendapatkan dukungan para aghniya, pengusaha dan birokrat, termasuk Bupati Karanganyar, menjadikan Pondok Al-Muchlisin satu-satunya Pondok Pesantren dengan biaya gratis di Kabupaten Karanganyar.

Profil KH. Irsyad Nurhasan

Nama:KH. Irsyad Nurhasan alias KH. Ngadiman A. Ma.
Alamat :Jongke, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah
Kelahiran:Karanganyar, 15 Agustrus 1943
Istri:Hj. Sumiatun
Anak:1. Mochamad Wachid Hasyim5. Achmad Hasan Ngadisaputro
  2. Mochamad Zaenal Fanani6. Ali Muhsan
  3. Arif Achmadi7. Abdul Salim
  4. Walid Khomsanudin 
Pendidikan:1950 - 1956 SR di Jongke Kab. Karanganyar
  1962 - 1965 PPUPAN (Pendidikan Pegawai Urusan dan Pengadilan Agama Negeri) Gringging, Kediri
  1969 - 1972 PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas) di Kabupaten Boyolali
  1996 - 1998 D2 IAIN Walisongo di Semarang
Pekerjaan:1968 Pegawai Departemen Agama Kab. Karanganyar
  1968 - 1983 Guru Agama Madrasah Ibtidaiyah di Ngemplak Boyolali
  1983 - 2000 Guru Agama Madrasah Ibtidaiyah di Tanjungsari Kab. Karanganyar
  2000 - 2005 Pengawas Pendidikan Agama Islam Kab. Karanganyar
Organisasi:1990 - Sekarang Dewan Penasehat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Karanganyar
  2000 - 2005 Pengurus Majelis Ulama (MUI) Kab. Karanganyar
2003 - Sekarang Ketua Pondok Pesantren Al-Muchlishin Tegalgede Kab. Karanganyar
  2007 - Sekarang Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Karanganyar