وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Sabtu, 16 Juli 2011

Hijrah Sebagai Strategi Dakwah

Oleh
Dr. H. Asrorun Niam, MA
Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Secara umum, tipologi kepemimpinan, dilihat dari aspek legitimasinya dapat dibedakan menjadi dua macam, kepemimpinan yang berproses secara alamiah dan tradisional (traditional leadership) yang melahirkan sosok pemimpin tradisional, dan kepemimpinan yang berproses secara formal dan fungsional (functional leadership) yang melahirkan sosok pemimpin formal.

Pemimpin yang berproses secara fungsional pada umumnya memperoleh legitimasi formal dengan batas-batas teritori yang jelas, dengan “mandat” khusus dari yang dipimpinnya.

Sementara itu, pemimpin yang berproses secara alamiah biasanya bersifat informal dan tidak memiliki batas teritorial maupun tanggung jawab kepemimpinan secara jelas, seperti keberadaan ulama, tokoh masyarakat maupun tokoh adat. Jenis pemimpin seperti ini memiliki karakteristik di mana kepemimpinannya tidak bisa dilihat secara jelas, tapi pengaruhnya secara psikologis amat terasa dalam menentukan keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam pembahasan singkat ini, perbincangan tentang maslah kepemimpinan akan lebih difokuskan pada tipologi kepemimpinan tradisional, yang mempunyai relevansi dan keterkaitan langsung dengan kepemimpinan dakwah.


Basis Kepemimpinan Nabi


Jiwa kepemimpinan Nabi SAW terasah sejak usianya masih belia. Sang kakek, Abdul Mutholib adalah seorang figur bangsawan Quraisy yang mempunyai karisma luar biasa, dan sifat tersebut dapat terekam secara baik pada pribadi Muhammad. Sepeninggal kakekknya, ia diasuh oleh pamanda Abu Tholib, yang juga tokoh yang sangat disegani di kalangan Quraiys.

Lewat pamannyalah naluri kepemimpinan Muhammad SAW terus memperoleh penajamannya. Dimulai dari belajar menggembalakan kambing, belajar menjalankan amanah dengan membantu pamannya berdagang hingga beliau mencetak sejarah sangat menakjubkan dalam menangani perselisihan orang-orang Quraisy saat renovasi Ka’bah. Muhammad, yang ketika itu masih remaja, berhasil memberikan rasa puas kepada seluruh suku dengan keputusannya yang sangat “elegan” mengenai hak peletakan batu al-hajar al-aswad. Atas prestasinya tersebut lantas beliau memperoleh gelar al-amin (yang terpercaya).

Aktivitas menggembalakan ternak yang dilakukan Muhammad SAW ketika usia belia merupakan wahana “latihan kepemimpinan” yang sangat efektif. Dalam proses penggembalaan tersebut, setidaknya dibutuhkan lima prasyarat yang harus dipenuhi agar memperoleh kesuksesan.

Pertama, mempunyai kepribadian yang kuat. Seorang penggembala, —demikian juga seorang pemimpin masyarakat, harus mempunyai kepribadian yang kuat, keimanan yang kokoh, tidak mudah terombang-ambing oleh adanya perubahan situasi di luar dirinya.

Kedua, mempunyai kesabaran dan ketekunan. Tanpa kesabaran dan ketekunan, kita, sebagai gembala akan terus menerus larut dalam emosi yang justru merugikan diri sendiri. Apalagi hal ini berhadapan dengan sekelompok binatang yang tidak mempunyai rasio. Dalam medan dakwah, pasti ditemui individu atau kelompok masyarakat yang tidak senang, bahkan menghambat. Nah, di saat seperti inilah nilai-nilai kesabaran dan ketekunan akan mampu meredamnya.

Ketiga, mampu menjalin harmoni di antara seluruh komponen. Sebagai pemimpin, kita dituntut untuk mampu membaca potensi dari masing-masing “gembala”, dan membuat situasi yang harmoni di antara mereka, dengan senantiasa merangsang untuk terus berlomba mengembangkan potensinya masing-masing secara benar. Dengan kemampuan ini, maka situasi masyarakat akan bergerak dinamis dengan kompetisi yang sehat (al-istibaq fi al-khairat). Di sinilah relevansi filosofi kepemimpinan Ing Madya Mangun Karso (Di tengah masyarakat membangun karya) yang pernah dikenalkan oleh tokoh pergerakan nasional Ki Hajar Dewantoro.

Keempat, mempunyai kejujuran dan integritas moral. Seorang pemimpin, sebagai suri tauladan bagi “gembala” harus senantiasa mengedepankan nilai-nilai kejujuran, meskipun kepada hewan piaraan. Seorang pemimpin juga harus mempunyai integritas moral yang tinggi sebagai “garansi” bagi kepercayaan masyarakat.

Kelima, kreatif dan tak kenal menyerah. Seorang pemimpin dituntut untuk secara kreatif mampu melakukan terobosan strategis guna menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi. Dalam proses kepemimpinan selalu ada masalah yang harus diselesaikan secara cepat dan akurat. Nah, tugas seorang pemimpin adalah menemukan solusi guna mencari jalan pemecahan atas masalah yang terjadi, dengan melibatkan seluruh anggota masyarakat tersebut.

Setidaknya, dengan kelima syarat kepemimpinan tersebut di atas, langgam kepemimpinan akan dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Makna Hijrah


Setelah Muhammad SAW diangkat menjadi nabi, setelah turun wahyu pertama QS. Al-‘Alaq 1 – 5, tantangan dari kaum kafir Quraiys sangat besar, sehingga proses dakwah Islam berjalan dengan tertatih tatih dan mengalami ujian yang sangat berat.

Di tengah himpitan dan tekanan kaum Quraisy kepada proses dakwah yang dilakukan Nabi SAW, muncul gagasan untuk melakukan hijrah ke yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinatur Rasul (Kota Rasul) tersebut.

Dipilihnya kota Madinah sebagai basis dakwah menunjukkan kepiawaian strategi dakwah Nabi. Hal ini setidaknya karena dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, pertama, adanya komunitas muslimin yang siap membantu aktifitas dakwah, sebagai tulang punggung. Kedua, adanya tokoh-tokoh berpengaruh dari Bani Aus dan Khazraj, yang memungkinkan diterimanya ajakan dakwah secara luas dan cepat. Ketiga, adanya basis ekonomi pertanian dan perdagangan yang kuat di masyarakat Madinah, sehingga dapat mengembangkan kemandirin ekonomi, dan bahkan menandingi hegemoni kaum Quraisy.

Di tambah lagi adanya dua kekuatan ekonomi masyarakat, dari kaum Muhajirin dan Anshar, yang saling bersinergi dan saling melengkapi. Yang pertama sebagai penggarap dan yang kedua sebagai penyedia lahan. Kerja sama ekonomi ini tercermin dalam konsep mudharabah, syirkah, dan sejenisnya dalam terminologi fikih Islam.

Dengan membangun komunikasi di bidang ekonomi, Nabi SAW berhasil mempersatukan dua komunitas yang berbeda, dalam bingkai persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyah) yang kemudian menjadi tulang punggung keberhasilan dakwah Islam. Dari sinilah akar kejayaan Islam tersemai, yang akhirnya mampu melahirkan sebuah peradaban yang mencengangkan dunia.

Dalam perspektif Islam, seorang pemimpin mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai khalifatullah (wakil Tuhan) di bumi yang mempunyai tugas merealisasikan misi kenabian sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Seluruh kreativitas kepemimpinan harus diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk mewujudkan kesejahteraan, menuju masyarakat yang berkeadaban. Selain itu, ia juga menyandang tugas dan fungsi sebagai Abdullah (hamba Tuhan) yang harus patuh dan tunduk pada setiap ketentuan yang digariskan-Nya, dengan senantiasa mengabdikan segenap dedikasi kita untuk mencapai keridhaan Allah.

Di sinilah letak perbedaan konsepsi kepemimpinan antara Islam, yang mempunyai dua dimensi, dengan kepemimpinan Barat yang hanya mengenal satu aspek. Selebihnya, mari kita tiru gaya kepemimpinan Nabi SAW.
Sumber: Majelis Ulama Indonesia

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Hijrah Sebagai Strategi Dakwah

Oleh
Dr. H. Asrorun Niam, MA
Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Secara umum, tipologi kepemimpinan, dilihat dari aspek legitimasinya dapat dibedakan menjadi dua macam, kepemimpinan yang berproses secara alamiah dan tradisional (traditional leadership) yang melahirkan sosok pemimpin tradisional, dan kepemimpinan yang berproses secara formal dan fungsional (functional leadership) yang melahirkan sosok pemimpin formal.

Pemimpin yang berproses secara fungsional pada umumnya memperoleh legitimasi formal dengan batas-batas teritori yang jelas, dengan “mandat” khusus dari yang dipimpinnya.

Sementara itu, pemimpin yang berproses secara alamiah biasanya bersifat informal dan tidak memiliki batas teritorial maupun tanggung jawab kepemimpinan secara jelas, seperti keberadaan ulama, tokoh masyarakat maupun tokoh adat. Jenis pemimpin seperti ini memiliki karakteristik di mana kepemimpinannya tidak bisa dilihat secara jelas, tapi pengaruhnya secara psikologis amat terasa dalam menentukan keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam pembahasan singkat ini, perbincangan tentang maslah kepemimpinan akan lebih difokuskan pada tipologi kepemimpinan tradisional, yang mempunyai relevansi dan keterkaitan langsung dengan kepemimpinan dakwah.


Basis Kepemimpinan Nabi


Jiwa kepemimpinan Nabi SAW terasah sejak usianya masih belia. Sang kakek, Abdul Mutholib adalah seorang figur bangsawan Quraisy yang mempunyai karisma luar biasa, dan sifat tersebut dapat terekam secara baik pada pribadi Muhammad. Sepeninggal kakekknya, ia diasuh oleh pamanda Abu Tholib, yang juga tokoh yang sangat disegani di kalangan Quraiys.

Lewat pamannyalah naluri kepemimpinan Muhammad SAW terus memperoleh penajamannya. Dimulai dari belajar menggembalakan kambing, belajar menjalankan amanah dengan membantu pamannya berdagang hingga beliau mencetak sejarah sangat menakjubkan dalam menangani perselisihan orang-orang Quraisy saat renovasi Ka’bah. Muhammad, yang ketika itu masih remaja, berhasil memberikan rasa puas kepada seluruh suku dengan keputusannya yang sangat “elegan” mengenai hak peletakan batu al-hajar al-aswad. Atas prestasinya tersebut lantas beliau memperoleh gelar al-amin (yang terpercaya).

Aktivitas menggembalakan ternak yang dilakukan Muhammad SAW ketika usia belia merupakan wahana “latihan kepemimpinan” yang sangat efektif. Dalam proses penggembalaan tersebut, setidaknya dibutuhkan lima prasyarat yang harus dipenuhi agar memperoleh kesuksesan.

Pertama, mempunyai kepribadian yang kuat. Seorang penggembala, —demikian juga seorang pemimpin masyarakat, harus mempunyai kepribadian yang kuat, keimanan yang kokoh, tidak mudah terombang-ambing oleh adanya perubahan situasi di luar dirinya.

Kedua, mempunyai kesabaran dan ketekunan. Tanpa kesabaran dan ketekunan, kita, sebagai gembala akan terus menerus larut dalam emosi yang justru merugikan diri sendiri. Apalagi hal ini berhadapan dengan sekelompok binatang yang tidak mempunyai rasio. Dalam medan dakwah, pasti ditemui individu atau kelompok masyarakat yang tidak senang, bahkan menghambat. Nah, di saat seperti inilah nilai-nilai kesabaran dan ketekunan akan mampu meredamnya.

Ketiga, mampu menjalin harmoni di antara seluruh komponen. Sebagai pemimpin, kita dituntut untuk mampu membaca potensi dari masing-masing “gembala”, dan membuat situasi yang harmoni di antara mereka, dengan senantiasa merangsang untuk terus berlomba mengembangkan potensinya masing-masing secara benar. Dengan kemampuan ini, maka situasi masyarakat akan bergerak dinamis dengan kompetisi yang sehat (al-istibaq fi al-khairat). Di sinilah relevansi filosofi kepemimpinan Ing Madya Mangun Karso (Di tengah masyarakat membangun karya) yang pernah dikenalkan oleh tokoh pergerakan nasional Ki Hajar Dewantoro.

Keempat, mempunyai kejujuran dan integritas moral. Seorang pemimpin, sebagai suri tauladan bagi “gembala” harus senantiasa mengedepankan nilai-nilai kejujuran, meskipun kepada hewan piaraan. Seorang pemimpin juga harus mempunyai integritas moral yang tinggi sebagai “garansi” bagi kepercayaan masyarakat.

Kelima, kreatif dan tak kenal menyerah. Seorang pemimpin dituntut untuk secara kreatif mampu melakukan terobosan strategis guna menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi. Dalam proses kepemimpinan selalu ada masalah yang harus diselesaikan secara cepat dan akurat. Nah, tugas seorang pemimpin adalah menemukan solusi guna mencari jalan pemecahan atas masalah yang terjadi, dengan melibatkan seluruh anggota masyarakat tersebut.

Setidaknya, dengan kelima syarat kepemimpinan tersebut di atas, langgam kepemimpinan akan dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Makna Hijrah


Setelah Muhammad SAW diangkat menjadi nabi, setelah turun wahyu pertama QS. Al-‘Alaq 1 – 5, tantangan dari kaum kafir Quraiys sangat besar, sehingga proses dakwah Islam berjalan dengan tertatih tatih dan mengalami ujian yang sangat berat.

Di tengah himpitan dan tekanan kaum Quraisy kepada proses dakwah yang dilakukan Nabi SAW, muncul gagasan untuk melakukan hijrah ke yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinatur Rasul (Kota Rasul) tersebut.

Dipilihnya kota Madinah sebagai basis dakwah menunjukkan kepiawaian strategi dakwah Nabi. Hal ini setidaknya karena dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, pertama, adanya komunitas muslimin yang siap membantu aktifitas dakwah, sebagai tulang punggung. Kedua, adanya tokoh-tokoh berpengaruh dari Bani Aus dan Khazraj, yang memungkinkan diterimanya ajakan dakwah secara luas dan cepat. Ketiga, adanya basis ekonomi pertanian dan perdagangan yang kuat di masyarakat Madinah, sehingga dapat mengembangkan kemandirin ekonomi, dan bahkan menandingi hegemoni kaum Quraisy.

Di tambah lagi adanya dua kekuatan ekonomi masyarakat, dari kaum Muhajirin dan Anshar, yang saling bersinergi dan saling melengkapi. Yang pertama sebagai penggarap dan yang kedua sebagai penyedia lahan. Kerja sama ekonomi ini tercermin dalam konsep mudharabah, syirkah, dan sejenisnya dalam terminologi fikih Islam.

Dengan membangun komunikasi di bidang ekonomi, Nabi SAW berhasil mempersatukan dua komunitas yang berbeda, dalam bingkai persaudaraan Islam (ukhuwwah Islamiyah) yang kemudian menjadi tulang punggung keberhasilan dakwah Islam. Dari sinilah akar kejayaan Islam tersemai, yang akhirnya mampu melahirkan sebuah peradaban yang mencengangkan dunia.

Dalam perspektif Islam, seorang pemimpin mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai khalifatullah (wakil Tuhan) di bumi yang mempunyai tugas merealisasikan misi kenabian sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Seluruh kreativitas kepemimpinan harus diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk mewujudkan kesejahteraan, menuju masyarakat yang berkeadaban. Selain itu, ia juga menyandang tugas dan fungsi sebagai Abdullah (hamba Tuhan) yang harus patuh dan tunduk pada setiap ketentuan yang digariskan-Nya, dengan senantiasa mengabdikan segenap dedikasi kita untuk mencapai keridhaan Allah.

Di sinilah letak perbedaan konsepsi kepemimpinan antara Islam, yang mempunyai dua dimensi, dengan kepemimpinan Barat yang hanya mengenal satu aspek. Selebihnya, mari kita tiru gaya kepemimpinan Nabi SAW.
Sumber: Majelis Ulama Indonesia