وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Rabu, 09 Maret 2011

LDII : Islam Tidak Mengenal Radikalisme

Prof. DR. Ir. K.H. Abdullah Syam, M.Sc. Ketua Umum DPP LDII
TEMPO Interaktif, Surabaya - Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tegaskan, Islam yang dia anut bukanlah Islam yang radikal. "Kita harus tunjukan, Islam tidak radikal, Islam sejuk dan damai," kata Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam, ketika membuka Munas LDII ke-VII di Shangri-la Hotel Surabaya, Selasa (8/3).

Sebagai Ketua Umum LDII, Abdullah mengaku beberapa kali ditanya oleh atase pertahanan beberapa negara tetangga mengenai Islam ala LDII. "Saya jelaskan ke mereka, semua yang dialamatkan ke Islam salah, Islam tidak radikal," tegasnya.

Untuk mewujudkan Islam yang ramah, LDII telah merumuskan sistem Green Dakwah yang berisi tujuh prinsip yaitu berpedoman terhadap Al-Quran dan Hadist, kemudian Islam yang shaleh, lantas Islam yang santun dan sejuk. Selanjutnya adalah Islam yang menjunjung kemaslahatan umat, selalu menjaga lingkungan, menjaga pola hidup sehat serta prinsip terkhir, adalah Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang.

LDII saat ini juga terus menjalin hubungan dengan pemerintahan di antaranya kerjasama dengan Menteri Kesehatan dalam membangun 49 Posko Kesehatan Pesantren dengan anggaran Rp 56 juta untuk tiap pesantren.

Di tempat yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Ukwah, Umar Shihab berharap, LDII bisa meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan dengan prinsip Islam yang benar.

Pada prinsipnya, tambah Umar, umat Islam terpecah karena dua perbedaan. Perbedaan pertama, terkait perbedaan prinsip Islam. "Seperti Ahmadiyah, pinsip Islamnya berbeda," tambah dia.

Sedangkan Perbedaan kedua adalah menyangkut perbedaan furuiah atau perbedaan madzhab. "Perbedaan madzhab sah saja, tapi seyogyanya perbedaan ini jangan menjadikan kita terpecah," ujarnya.

FATKHURROHMAN TAUFIQ

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/03/08/brk,20110308-318389,id.html

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

LDII : Islam Tidak Mengenal Radikalisme

Prof. DR. Ir. K.H. Abdullah Syam, M.Sc. Ketua Umum DPP LDII
TEMPO Interaktif, Surabaya - Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tegaskan, Islam yang dia anut bukanlah Islam yang radikal. "Kita harus tunjukan, Islam tidak radikal, Islam sejuk dan damai," kata Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam, ketika membuka Munas LDII ke-VII di Shangri-la Hotel Surabaya, Selasa (8/3).

Sebagai Ketua Umum LDII, Abdullah mengaku beberapa kali ditanya oleh atase pertahanan beberapa negara tetangga mengenai Islam ala LDII. "Saya jelaskan ke mereka, semua yang dialamatkan ke Islam salah, Islam tidak radikal," tegasnya.

Untuk mewujudkan Islam yang ramah, LDII telah merumuskan sistem Green Dakwah yang berisi tujuh prinsip yaitu berpedoman terhadap Al-Quran dan Hadist, kemudian Islam yang shaleh, lantas Islam yang santun dan sejuk. Selanjutnya adalah Islam yang menjunjung kemaslahatan umat, selalu menjaga lingkungan, menjaga pola hidup sehat serta prinsip terkhir, adalah Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang.

LDII saat ini juga terus menjalin hubungan dengan pemerintahan di antaranya kerjasama dengan Menteri Kesehatan dalam membangun 49 Posko Kesehatan Pesantren dengan anggaran Rp 56 juta untuk tiap pesantren.

Di tempat yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Ukwah, Umar Shihab berharap, LDII bisa meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan dengan prinsip Islam yang benar.

Pada prinsipnya, tambah Umar, umat Islam terpecah karena dua perbedaan. Perbedaan pertama, terkait perbedaan prinsip Islam. "Seperti Ahmadiyah, pinsip Islamnya berbeda," tambah dia.

Sedangkan Perbedaan kedua adalah menyangkut perbedaan furuiah atau perbedaan madzhab. "Perbedaan madzhab sah saja, tapi seyogyanya perbedaan ini jangan menjadikan kita terpecah," ujarnya.

FATKHURROHMAN TAUFIQ

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/03/08/brk,20110308-318389,id.html