وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Senin, 04 April 2011

Imam Al-Ghazali Pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (bagian 5)

“Semua penyembah suatu tuhan bergerak bersama tuhan-tuhan mereka. Akhirnya yang tersisa hanyalah orang yang menyembah Allah yang baik maupun yang jelek, dan sisa-sisa ahli kitab”.
Terlalu banyak persoalan serius dalam Islam yang tidak disadari oleh umatnya, karena mereka cenderung cinta dunia, sebagaimana firman Allah:
“بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Bahkan kalian memilih kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih baqa.”

Dan tulisan Al-Ghazali[1] yang akhirnya menjadi rujukan Ahlus-Sunnah sebaiknya jangan dijadikan rujukan paling utama. Sebaiknya kajian mereka ditingkatkan pada kitab-kitab yang lebih berbobot seperti Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, Muwattha’. Selain itu sebaiknya janganlah mempermasalah-kan perbedaan madzhab atau organisasi. Karena sebetulnya para Imam Madzhab tidak pernah mewajibkan pengikutnya agar mengikuti Madzhab mereka. Tetapi para peng-ikut mereka lah yang mengangkat mereka menjadi Imam Madzhab mereka.

Mengkaji kitab Bukhari[2] yang nilainya lebih shahih dari pada kitab Al-Ghazali lebih penting dan lebih banyak manfaatnya. Di sana diriwayatkan:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ « هَلْ تُضَارُونَ فِى رُؤْيَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إِذَا كَانَتْ صَحْوًا » . قُلْنَا لاَ . قَالَ « فَإِنَّكُمْ لاَ تُضَارُونَ فِى رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ يَوْمَئِذٍ ، إِلاَّ كَمَا تُضَارُونَ فِى رُؤْيَتِهِمَا - ثُمَّ قَالَ - يُنَادِى مُنَادٍ لِيَذْهَبْ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ . فَيَذْهَبُ أَصْحَابُ الصَّلِيبِ مَعَ صَلِيبِهِمْ ، وَأَصْحَابُ الأَوْثَانِ مَعَ أَوْثَانِهِمْ ، وَأَصْحَابُ كُلِّ آلِهَةٍ مَعَ آلِهَتِهِمْ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ ، وَغُبَّرَاتٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، ثُمَّ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ تُعْرَضُ كَأَنَّهَا سَرَابٌ فَيُقَالُ لِلْيَهُودِ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ . فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ قَالُوا نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا ، فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِى جَهَنَّمَ ثُمَّ يُقَالُ لِلنَّصَارَى مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ فَيَقُولُونَ كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ . فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَدٌ ، فَمَا تُرِيدُونَ فَيَقُولُونَ نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا . فَيُقَالُ اشْرَبُوا . فَيَتَسَاقَطُونَ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ فَيَقُولُونَ فَارَقْنَاهُمْ وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِ الْيَوْمَ وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ . وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا - قَالَ - فَيَأْتِيهِمُ الْجَبَّارُ . فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ . فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا . فَلاَ يُكَلِّمُهُ إِلاَّ الأَنْبِيَاءُ فَيَقُولُ هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ السَّاقُ . فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ ، وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً ، فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا ، ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَىْ جَهَنَّمَ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ « مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ ، عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ ، لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ ، الْمُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ وَمَكْدُوسٌ فِى نَارِ جَهَنَّمَ ، حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا ، فَمَا أَنْتُمْ بِأَشَدَّ لِى مُنَاشَدَةً فِى الْحَقِّ ، قَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِ يَوْمَئِذٍ لِلْجَبَّارِ ، وَإِذَا رَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ نَجَوْا فِى إِخْوَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا وَيَصُومُونَ مَعَنَا وَيَعْمَلُونَ مَعَنَا . فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ . وَيُحَرِّمُ اللَّهُ صُوَرَهُمْ عَلَى النَّارِ ، فَيَأْتُونَهُمْ وَبَعْضُهُمْ قَدْ غَابَ فِى النَّارِ إِلَى قَدَمِهِ وَإِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ ، فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا ، ثُمَّ يَعُودُونَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا ، ثُمَّ يَعُودُونَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا » . قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَإِنْ لَمْ تُصَدِّقُونِى فَاقْرَءُوا ( إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا ) « فَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ فَيَقُولُ الْجَبَّارُ بَقِيَتْ شَفَاعَتِى . فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا قَدِ امْتُحِشُوا ، فَيُلْقَوْنَ فِى نَهَرٍ بِأَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ مَاءُ الْحَيَاةِ ، فَيَنْبُتُونَ فِى حَافَتَيْهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِى حَمِيلِ السَّيْلِ ، قَدْ رَأَيْتُمُوهَا إِلَى جَانِبِ الصَّخْرَةِ إِلَى جَانِبِ الشَّجَرَةِ ، فَمَا كَانَ إِلَى الشَّمْسِ مِنْهَا كَانَ أَخْضَرَ ، وَمَا كَانَ مِنْهَا إِلَى الظِّلِّ كَانَ أَبْيَضَ ، فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ اللُّؤْلُؤُ ، فَيُجْعَلُ فِى رِقَابِهِمُ الْخَوَاتِيمُ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ أَهْلُ الْجَنَّةِ هَؤُلاَءِ عُتَقَاءُ الرَّحْمَنِ أَدْخَلَهُمُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلاَ خَيْرٍ قَدَّمُوهُ . فَيُقَالُ لَهُمْ لَكُمْ مَا رَأَيْتُمْ وَمِثْلُهُ مَعَهُ »
- Dari Abi Sa’id “Kami pernah berkata ‘ya Rasulallah, bukankah di hari kiamat nanti kita akan melihat Tuhan kita?’. Nabi bersabda ‘apakah kalian merasa kesulitan meli-hat matahari dan bulan ketika terang benderang?’. Kami menjawab ‘tidak’. Nabi ber-sabda ‘sungguh kalian di hari itu takkan kesulitan melihat Tuhan kalian kecuali hanya bagaikan kalian kesulitan menyaksikan keduanya’, lalu besabda lagi ‘akan ada penyeru yang menyerukan semua kaum agar datang menuju yang dulunya mereka sembah!’. Tak lama kemu-dian para penyembah Salib bergerak bersama Salib me-reka. Para penyembah berhala bergerak bersama berhala mereka. Semua penyembah suatu tuhan bergerak bersama tuhan-tuhan mereka. Akhirnya yang tersisa hanyalah orang yang menyembah Allah yang baik maupun yang jelek, dan sisa-sisa ahli kitab. Lalu Jahanam akan didatangkan, bentuknya mirip sekali fatamorgana. Selanjutnya di-katakan pada umat Yahudi ‘apa yang dulu kalian sembah?’. Mereka menjawab ‘kami dulu menyembah Uzair Putra Allah’. Akan dilontarkan jawaban ‘kalian telah bohong. Allah mutlak tidak beristri maupun berputra. Lalu apa yang kalian inginkan?’. Mereka berkata ‘kami ingin Tuhan memberi minum kami’. Ada jawaban yang dilontarkan ‘minumlah!’. Sontak mereka berguguran ke Jahanam. Selanjutnya di-katakan pada umat Nashrani ‘apa yang dulu kalian sembah?’. Mereka berkata ‘kami dulu menyembah Al-Masih Putra Allah’. Ada jawaban yang dilontarkan ‘kalian telah bohong, Allah mutlak tak beristri dan tak berputra. Lalu apa yang kalian inginkan?’. Mereka berkata ‘kami ingin Tuhan memberi minum kami’. Ada jawaban yang di-lontarkan ‘minumlah!’. Sontak mereka berguguran (ke Jahanam), hingga akhirnya tak tersisa kecuali orang yang dulu menyembah Allah yang baik maupun yang jelek. Se-buah pertanyaan dilontarkan pada mereka ‘apa yang menghalang-halangi kalian di sini?’; padahal orang-orang sudah pergi?’. Mereka berkata ‘dulu kami memang memisahi mereka, sementara di hari ini kami lebih membutuhkan Allah. Sungguh kami telah mendengar penyeru menyerukan ‘semua kaum agar bergabung pada yang dulu mereka sembah!. Sungguh kami menunggu Tuhan kami’. Akhirnya Al-Jabbar[3] datang pada mereka untuk berfirman ‘Aku-lah Tuhan kalian’. Tak lama kemudian mereka berkata ‘Engkau-lah Tuhan kami’. Yang berani berbicara pada Allah hanya para Nabi. Allah berfirman ‘apakah ada tanda antara kalian dan Dia untuk mengenali Dia?’. Mereka berkata ‘Betis’. Akhirnya Allah menyingsingkan Betis-Nya; sontak semua orang iman bersujud pada-Nya. Yang ketinggalan bersujud hanya orang yang dulunya ber-sujud dengan riya’ atau pamer dan sum’ah atau ingin disebut-sebut. Mereka ber-usaha bersujud namun punggung mereka kembli tegak lagi bagaikan kayu-elastis tunggal. Lalu Jembatan didatangkan untuk dipasang di antara dua pung-gung Jahanam. Kami bertanya ‘ya Rasulallah, apakah Jembatan tersebut?’. Nabi ber-sabda ‘licin menggelincirkan’. Di jembatan tersebut ada beberapa penyambar dan pengait dan Chasakah[4] yang panjang dan lebar. Pengait bermata tajam lumayan besar. Di kota Najed duri demikian itu disebut duri Sa’dan. Orang iman ada yang ber-jalan di atas Jembatan cepat bagaikan kedipan mata. Ada yang cepat bagaikan kilat. Ada yang cepat bagaikan angin menyambar. Ada yang cepat bagaikan kuda dan kendaraan pilihan. Ada yang selamat tak terkena sambaran pengait, ada yang selamat namun tergores pengait, ada yang selamat namun akhirnya terlempar kedalam Jahanam. Akhirnya ada juga yang harus ditarik dengan paksa. Di hari itu kalian bu-kan yang lebih sangat memohon padaku ihwal hak yang jelas untuk kalian pada Al-Jabbar dari-pada seorang iman, demikian pula ketika mereka telah menyaksikan diri mereka selamat: yakni tentang hak mereka mengenai sudara-saudara mereka. Mereka berkata ‘wahai Tuhan kami, saudara-saudara kami dulu shalat berpuasa dan beramal bersama kami’. Allah Ta’ala berfirman ‘pergilah!, orang yang di dalam hatinya kalian jumpai ada keimanannya sedinar keluarkanlah!’. Allah mengharamkan api neraka membakar wajah mereka. Akhirnya mereka mendatangi saudara-saudara mereka di neraka yang saat itu ada yang telah terbenam hingga telapak kaki di neraka. Ada juga yang teng-gelam hingga pertengahan dua betisnya. Orang-orang iman mengeluarkan saudara-saudara mereka yang mereka kenali di dalam neraka. Lalu kembali lagi menghadap Allah. Allah berfirman ‘berangkatlah!. Orang yang dalam hatinya kalian jumpai keimanan seberat dzarrah, keluarkanlah!’. Akhirnya mereka mengeluarkan saudara-saudara mereka dari neraka.” Abu Sa’id berkata “Kalau kalian tidak mem-percayaiku bacalah:
‘إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا
Sungguh Allah takkan menganiaya sebobot dzarrah pun. Jika berupa kebaikan Dia akan melipatkannya’.
[Qs An-Nisa’ 40]

Akhirnya para nabi dan para malaikat dan orang-orang iman sama memberi syafa’at orang-orang iman yang di dalam neraka. Hinggga akhirnya Al-Jabbar berfirman ‘yang tersisa tinggal syafa’at-Ku’. Selanjutnya Allah menggenggam dari neraka satu gengaman untuk mengeluarkan kaum-kaum yang benar-benar telah hangus. Mereka diletakkan di sungai bernama air kehidupan yang berada di mulut-mulut surga. Selanjutnya mereka tumbuh di dua pinggirannya bagaikan biji-bijian yang tumbuh di dalam bawaan banjir. Kalian pasti pernah menyaksikan hal tersebut di sisi batu besar di sisi sebuah pohon. Yang condong ke arah mata-hari menjadi hijau; sementara yang condong ke arah teduh memutih. Akhirnya mereka keluar dari kawasan tersebut dalam keadaan indah mirip sekali mutiara. Ada cap-cap yang dicap-kan di pundak-pundak mereka. Akhirnya mereka masuk surga. Di saat itu orang-orang surga berkata ‘mereka ini orang-orang yang dimerdekakan oleh Rahman. Rahman telah memasukkan mereka ke surga dengan tanpa amalan maupun kebaikan. Akkhirnya dilontarkan perkatan ‘apa yang telah kalian saksikan dan yang semisal itu adalah hak kalian’.” [Juz 24 halaman 290].

[1]Dalam Zadul-Ma’ad dijelaskan:
قَوْلُهُ فَتَطّلِعُونَ عَلَى حَوْضِ نَبِيّكُمْ ظَاهِرُ هَذَا أَنّ الْحَوْضَ مِنْ وَرَاءِ الْجِسْرِ فَكَأَنّهُمْ لَا يَصِلُونَ إلَيْهِ حَتّى يَقْطَعُوا الْجِسْرَ وَلِلسّلَفِ فِي ذَلِكَ قَوْلَانِ حَكَاهُمَا الْقُرْطُبِيّ فِي " تَذْكِرَتِهِ " وَالْغَزَالِيّ وَغَلّطَا مَنْ قَالَ إنّهُ بَعْدَ الْجِسْرِ وَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيّ : عَنْ أبِي هُرَيْرَة . أَنّ رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ عَلَى الْحَوْضِ إذَا زُمْرَةٌ حَتّى إذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ فَقَالَ لَهُمْ هَلُمّ فَقُلْتُ إلَى أَيْنَ ؟ فَقَالَ إلَى النّارِ وَاَللّهِ قُلْتُ مَا شَأْنُهُمْ ؟ قَالَ إنّهُمْ ارْتَدّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ فَلَا أَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إلّا مِثْلُ هَمَلِ النّعَمِ قَالَ فَهَذَا الْحَدِيثُ مَعَ صِحّتِهِ أَدَلّ دَلِيلٍ عَلَى أَنّ الْحَوْضَ يَكُونُ فِي الْمَوْقِفِ قَبْلَ الصّرَاطِ لِأَنّ الصّرَاطَ إنّمَا هُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى جَهَنّمَ فَمَنْ جَازَهُ سَلِمَ مِنْ النّارِ
– Sabda dia “Lalu kalian akan melihat telaga Nabi kalian.” Secara lahiriyah berdasarkan Hadits ini sunguh telaga Al-Kautsar berada di balik Jembatan. Sepertinya mereka dipastikan takkan sampai telaga Al-Kautsar sebelum melewati Jembatan. “Menurut ulama salaf memang ada dua pendapat,’ tutur Qurthubi dalam Tadzkirah-nya. Al-Ghazali juga menuturkan demikian. Mereka berdua menyalahkan orang yang berkata “Sungguh telaga Al-Kautsr terletak pada setelah Jembatan.”

Sungguh Bukhari sendiri telah meriwayatkan dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bersabda “Suatu hari saya berdiri di pinggir telaga; tiba-tiba ada sekelompok orang datang. Hingga ketika saya telah mengenali mereka ; tiba-tiba ada seorang lelaki yang keluar di antara saya dan mereka untuk berkata pada mereka “Ayo!.” Saya berkata “Kemana?.” Dia mejawab “Ke neraka demi Allah.” Saya bertanya “Ada apa mereka?.” Dia berkata “Sungguh mereka telah murtad kebelakang mereka.” Ternyata tak seorang pun dari mereka yang selamat kecuali seperti binatang hilang. Ini Hadits shahih merupakan dalil yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa telaga Kautsar berada di tempat-berhenti sebelum Jembatan. Hakikinya Jembatan terletak memanjang di atas Jahanam. Yang berhasil melewatinya maka selamat dari neraka.

Yang tak kalah menarik penulis kitab tersebut berkata:
“قُلْتُ وَلَيْسَ بَيْنَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ تَعَارُضٌ وَلَا تَنَاقُضٌ وَلَا اخْتِلَافٌ وَحَدِيثُهُ كُلّهُ يُصَدّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا
– Saya berkata ‘sejak dulu tidak ada pertentangan, tabrakan, ataupun perselisihan di antara Hadits-Hadits. Semua Hadits saling membenarkan sebagian pada sebagian’.”

[2]Pada saat ini ada orang yang merendahkan kitab Bukhari “Haditsnya banyak yang dha’if,” katanya. Padahal Muslim saja merendah padanya. Ibnu Chajar menulis:
أَخْبَرَناَ أَبُوْ حاَمِدٍ اْلأَعْمَشُ الْحاَفِظُ قاَلَ كُناَّ يَوْماً عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْماَعِيْلَ الْبُخاَرِيُّ بِنَيْساَبُوْرَ فَجاَءَ مُسْلِمُ بْنُ اْلحَجاَّجِ فَسَأَلَهُ عَنْ حَدِيْثِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جاَبِرٍ قاَلَ بَعَثَناَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي سَرِيَّةٍ وَمَعَناَ أَبُوْ عُبَيْدَةَ اْلحَدِيْثَ بِطُوْلِهِ فَقاَلَ اْلبُخاَرِيُّ حَدَّثَناَ بْنُ أَبِيْ أُوَيْسٍ حَدَّثَنِيْ أَخِيْ عَنْ سُلَيْماَنَ بْنِ بِلاَلٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ فَذَكَرَ اْلحَدِيْثَ بِتَماَمِهِ قاَلَ فَقَرَأَ عَلَيْهِ إِنْساَنٌ حَدِيْثَ حَجاَّجِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صاَلِحٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قاَلَ كَفاَّرَةُ اْلمَجْلِسِ إِذاَ قاَمَ الْعَبْدُ أَنْ يَقُوْلَ سُبْحَانَكَ اللّهُمّ وَبِحَمْدِك أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ فَقاَلَ لَهُ مُسْلِمٌ فِي الدُّنْياَ أحَسَنُ مِنْ هَذاَ الْحَدِيْثِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صاَلِحٍ تَعْرِفُ بِهَذاَ اْلإِسْناَدِ فِي الدُّنْياَ حَدِيْثاً فَقاَلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْماَعِيْلَ إِلاَّ أَنَّهُ مَعْلُوْلٌ فَقاَلَ مُسْلِمٌ لَا إلَهَ إلاَّ اللهُ وَارْتَعَدَ أَخْبِرْنِي بِهِ فَقاَلَ اسْتُرْ ماَ سَتَرَ اللهُ هَذاَ حَدِيْثٌ جَلِيْلٌ رَواَهُ الناَّسُ عَنْ حَجاَّجِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ بْنِ جُرَيْجٍ فَأَلَحَّ عَلَيْهِ وَقَبَّلَ رَأْسَهُ وَكاَدَ أَنْ يَبْكِيْ فَقاَلَ اكْتُبْ إِنْ كاَنَ ولاَ بُدَّ حَدَّثَناَ مُوْسَى بْنُ إِسْماَعِيْلَ حَدَّثَناَ وُهَيْبٌ حَدَّثَناَ مُوْسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قاَلَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ كَفاَّرَةُ اْلمَجْلِسِ فَقاَلَ لَهُ مُسْلِمٌ لاَ يُبْغِضُكَ إِلاَّ حاَسِدٌ وَأَشْهَدُ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الدُّنْياَ مِثْلُكَ وَهَكَذاَ رَوَى اْلحَاكِمُ هَذِهِ الْقِصَّةِ فِي تاَرِيْخِ نَيْساَبُوْرَ عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ اْلمَخْلَدِيْ وَرَواَهاَ الْبَيْهًَقِيُّ فِي اْلمَدْخَلِ عَنِ اْلحاَكِمِ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ
– Abu Chamid Al-A’masy memberi kabar kami “Pada suatu hari kami pernah berada di sisi Muhammad bin Isma’il (Bukhari) di Naisabur. Tiba-tiba Muslim bin Al-Chajjaj datang untuk menanyakan tentang Haditsnya Ubaidillah bin Umar dari Abiz-Zubair dari Jabir ‘Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ pernah mengutus kami. Saat itu Abu Ubaidah berada di kalangan kami’,” dan seterusnya. Tak lama kemudian ada insan membacakan Haditsnya Chajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Musa bin Uqbah dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abi Hurairah dari Nabi صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ: ‘kafarahnya majlis ialah jika seorang hamba telah berdiri berkataسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ – Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu hamba bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau hamba minta ampun dan bertaubat pada-Mu’. Muslim berkata ‘di dunia ada yang lebih baik dari pada ini Haditsnya Ibni Juraij dari Musa bin Uqbah dari Suhail bin Abi Shalih. Kau tahu Hadits di dunia yang menggunakan isnad ini?’. Sontak Muhammad bin Isma’il (Bukhari) berkata ‘hanya saja sungguh Hadits itu ma’lul’, yakni dinilai cacat. Tak lama kemudian Muslim berkata ‘لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ;” sambil bergetar. Dia meneruskan ‘kabari saya tentang hal tersebut’. Bukhari berkata ‘tutupilah yang ditutup Allah!. Ini Hadits sangat agung yang diriwayatkan orang-orang dari Chajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij’. Tak lama kemudian Muslim memohon-mohon penjelasan pada Bukhari sambil mencium rambut Bukhari, hampir saja menangis. Tak lama kemudian Bukhari berkata ‘tulislah jika tidak mau dicegah!. Musa bin Isma’il telah menyempaikan Hadits dari Wuhaib dari Musa bin Uqbah dari Aun bin Abdillah pada kami Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bersabda kafarah majlis ialah’, dan seterusnya. Tak lama kemudian Muslim berkata ‘tak ada orang yang mem-bencimu kecuali orang dengki dan saya bersaksi bahwa di dunia tidak ada orang yang semisalmu’. Al-Chakim juga meriwayatkan kisah seperti ini dari Abi Muhammad Al-Makhladi di dalam Tarikh Naisabur. Baihaqi juga meriwayatkan riwayat tersebut dari Al-Chakim Abi Abdillah di dalam Al-Madkhal. [Muqadimah Ibnu Chajar juz 1 halaman 489].
[3]Al-Jabbar adalah Allah yang Maha pemaksa.
[4]Chasakah dalam bahasa Jawa semacam ri kemarung atau ri pring ori.
__________________________________________________________________
Kontributor: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam, pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta

1 komentar :

zahrah mengatakan...

amin
semoga barokah ^_^
Pak Insyaallah kalau ditambah forum pertanyaan akan menjadi lebih barokah... Hehe

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Imam Al-Ghazali Pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (bagian 5)

“Semua penyembah suatu tuhan bergerak bersama tuhan-tuhan mereka. Akhirnya yang tersisa hanyalah orang yang menyembah Allah yang baik maupun yang jelek, dan sisa-sisa ahli kitab”.
Terlalu banyak persoalan serius dalam Islam yang tidak disadari oleh umatnya, karena mereka cenderung cinta dunia, sebagaimana firman Allah:
“بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Bahkan kalian memilih kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih baqa.”

Dan tulisan Al-Ghazali[1] yang akhirnya menjadi rujukan Ahlus-Sunnah sebaiknya jangan dijadikan rujukan paling utama. Sebaiknya kajian mereka ditingkatkan pada kitab-kitab yang lebih berbobot seperti Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, Muwattha’. Selain itu sebaiknya janganlah mempermasalah-kan perbedaan madzhab atau organisasi. Karena sebetulnya para Imam Madzhab tidak pernah mewajibkan pengikutnya agar mengikuti Madzhab mereka. Tetapi para peng-ikut mereka lah yang mengangkat mereka menjadi Imam Madzhab mereka.

Mengkaji kitab Bukhari[2] yang nilainya lebih shahih dari pada kitab Al-Ghazali lebih penting dan lebih banyak manfaatnya. Di sana diriwayatkan:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ « هَلْ تُضَارُونَ فِى رُؤْيَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إِذَا كَانَتْ صَحْوًا » . قُلْنَا لاَ . قَالَ « فَإِنَّكُمْ لاَ تُضَارُونَ فِى رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ يَوْمَئِذٍ ، إِلاَّ كَمَا تُضَارُونَ فِى رُؤْيَتِهِمَا - ثُمَّ قَالَ - يُنَادِى مُنَادٍ لِيَذْهَبْ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ . فَيَذْهَبُ أَصْحَابُ الصَّلِيبِ مَعَ صَلِيبِهِمْ ، وَأَصْحَابُ الأَوْثَانِ مَعَ أَوْثَانِهِمْ ، وَأَصْحَابُ كُلِّ آلِهَةٍ مَعَ آلِهَتِهِمْ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ ، وَغُبَّرَاتٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، ثُمَّ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ تُعْرَضُ كَأَنَّهَا سَرَابٌ فَيُقَالُ لِلْيَهُودِ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ . فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ قَالُوا نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا ، فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِى جَهَنَّمَ ثُمَّ يُقَالُ لِلنَّصَارَى مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ فَيَقُولُونَ كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ . فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَدٌ ، فَمَا تُرِيدُونَ فَيَقُولُونَ نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا . فَيُقَالُ اشْرَبُوا . فَيَتَسَاقَطُونَ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ فَيَقُولُونَ فَارَقْنَاهُمْ وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِ الْيَوْمَ وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ . وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا - قَالَ - فَيَأْتِيهِمُ الْجَبَّارُ . فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ . فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا . فَلاَ يُكَلِّمُهُ إِلاَّ الأَنْبِيَاءُ فَيَقُولُ هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ السَّاقُ . فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ ، وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً ، فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا ، ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَىْ جَهَنَّمَ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ « مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ ، عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ ، لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ ، الْمُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ وَمَكْدُوسٌ فِى نَارِ جَهَنَّمَ ، حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا ، فَمَا أَنْتُمْ بِأَشَدَّ لِى مُنَاشَدَةً فِى الْحَقِّ ، قَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِ يَوْمَئِذٍ لِلْجَبَّارِ ، وَإِذَا رَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ نَجَوْا فِى إِخْوَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا وَيَصُومُونَ مَعَنَا وَيَعْمَلُونَ مَعَنَا . فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ . وَيُحَرِّمُ اللَّهُ صُوَرَهُمْ عَلَى النَّارِ ، فَيَأْتُونَهُمْ وَبَعْضُهُمْ قَدْ غَابَ فِى النَّارِ إِلَى قَدَمِهِ وَإِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ ، فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا ، ثُمَّ يَعُودُونَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا ، ثُمَّ يَعُودُونَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا » . قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَإِنْ لَمْ تُصَدِّقُونِى فَاقْرَءُوا ( إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا ) « فَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ فَيَقُولُ الْجَبَّارُ بَقِيَتْ شَفَاعَتِى . فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا قَدِ امْتُحِشُوا ، فَيُلْقَوْنَ فِى نَهَرٍ بِأَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ مَاءُ الْحَيَاةِ ، فَيَنْبُتُونَ فِى حَافَتَيْهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِى حَمِيلِ السَّيْلِ ، قَدْ رَأَيْتُمُوهَا إِلَى جَانِبِ الصَّخْرَةِ إِلَى جَانِبِ الشَّجَرَةِ ، فَمَا كَانَ إِلَى الشَّمْسِ مِنْهَا كَانَ أَخْضَرَ ، وَمَا كَانَ مِنْهَا إِلَى الظِّلِّ كَانَ أَبْيَضَ ، فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ اللُّؤْلُؤُ ، فَيُجْعَلُ فِى رِقَابِهِمُ الْخَوَاتِيمُ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ أَهْلُ الْجَنَّةِ هَؤُلاَءِ عُتَقَاءُ الرَّحْمَنِ أَدْخَلَهُمُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلاَ خَيْرٍ قَدَّمُوهُ . فَيُقَالُ لَهُمْ لَكُمْ مَا رَأَيْتُمْ وَمِثْلُهُ مَعَهُ »
- Dari Abi Sa’id “Kami pernah berkata ‘ya Rasulallah, bukankah di hari kiamat nanti kita akan melihat Tuhan kita?’. Nabi bersabda ‘apakah kalian merasa kesulitan meli-hat matahari dan bulan ketika terang benderang?’. Kami menjawab ‘tidak’. Nabi ber-sabda ‘sungguh kalian di hari itu takkan kesulitan melihat Tuhan kalian kecuali hanya bagaikan kalian kesulitan menyaksikan keduanya’, lalu besabda lagi ‘akan ada penyeru yang menyerukan semua kaum agar datang menuju yang dulunya mereka sembah!’. Tak lama kemu-dian para penyembah Salib bergerak bersama Salib me-reka. Para penyembah berhala bergerak bersama berhala mereka. Semua penyembah suatu tuhan bergerak bersama tuhan-tuhan mereka. Akhirnya yang tersisa hanyalah orang yang menyembah Allah yang baik maupun yang jelek, dan sisa-sisa ahli kitab. Lalu Jahanam akan didatangkan, bentuknya mirip sekali fatamorgana. Selanjutnya di-katakan pada umat Yahudi ‘apa yang dulu kalian sembah?’. Mereka menjawab ‘kami dulu menyembah Uzair Putra Allah’. Akan dilontarkan jawaban ‘kalian telah bohong. Allah mutlak tidak beristri maupun berputra. Lalu apa yang kalian inginkan?’. Mereka berkata ‘kami ingin Tuhan memberi minum kami’. Ada jawaban yang dilontarkan ‘minumlah!’. Sontak mereka berguguran ke Jahanam. Selanjutnya di-katakan pada umat Nashrani ‘apa yang dulu kalian sembah?’. Mereka berkata ‘kami dulu menyembah Al-Masih Putra Allah’. Ada jawaban yang dilontarkan ‘kalian telah bohong, Allah mutlak tak beristri dan tak berputra. Lalu apa yang kalian inginkan?’. Mereka berkata ‘kami ingin Tuhan memberi minum kami’. Ada jawaban yang di-lontarkan ‘minumlah!’. Sontak mereka berguguran (ke Jahanam), hingga akhirnya tak tersisa kecuali orang yang dulu menyembah Allah yang baik maupun yang jelek. Se-buah pertanyaan dilontarkan pada mereka ‘apa yang menghalang-halangi kalian di sini?’; padahal orang-orang sudah pergi?’. Mereka berkata ‘dulu kami memang memisahi mereka, sementara di hari ini kami lebih membutuhkan Allah. Sungguh kami telah mendengar penyeru menyerukan ‘semua kaum agar bergabung pada yang dulu mereka sembah!. Sungguh kami menunggu Tuhan kami’. Akhirnya Al-Jabbar[3] datang pada mereka untuk berfirman ‘Aku-lah Tuhan kalian’. Tak lama kemudian mereka berkata ‘Engkau-lah Tuhan kami’. Yang berani berbicara pada Allah hanya para Nabi. Allah berfirman ‘apakah ada tanda antara kalian dan Dia untuk mengenali Dia?’. Mereka berkata ‘Betis’. Akhirnya Allah menyingsingkan Betis-Nya; sontak semua orang iman bersujud pada-Nya. Yang ketinggalan bersujud hanya orang yang dulunya ber-sujud dengan riya’ atau pamer dan sum’ah atau ingin disebut-sebut. Mereka ber-usaha bersujud namun punggung mereka kembli tegak lagi bagaikan kayu-elastis tunggal. Lalu Jembatan didatangkan untuk dipasang di antara dua pung-gung Jahanam. Kami bertanya ‘ya Rasulallah, apakah Jembatan tersebut?’. Nabi ber-sabda ‘licin menggelincirkan’. Di jembatan tersebut ada beberapa penyambar dan pengait dan Chasakah[4] yang panjang dan lebar. Pengait bermata tajam lumayan besar. Di kota Najed duri demikian itu disebut duri Sa’dan. Orang iman ada yang ber-jalan di atas Jembatan cepat bagaikan kedipan mata. Ada yang cepat bagaikan kilat. Ada yang cepat bagaikan angin menyambar. Ada yang cepat bagaikan kuda dan kendaraan pilihan. Ada yang selamat tak terkena sambaran pengait, ada yang selamat namun tergores pengait, ada yang selamat namun akhirnya terlempar kedalam Jahanam. Akhirnya ada juga yang harus ditarik dengan paksa. Di hari itu kalian bu-kan yang lebih sangat memohon padaku ihwal hak yang jelas untuk kalian pada Al-Jabbar dari-pada seorang iman, demikian pula ketika mereka telah menyaksikan diri mereka selamat: yakni tentang hak mereka mengenai sudara-saudara mereka. Mereka berkata ‘wahai Tuhan kami, saudara-saudara kami dulu shalat berpuasa dan beramal bersama kami’. Allah Ta’ala berfirman ‘pergilah!, orang yang di dalam hatinya kalian jumpai ada keimanannya sedinar keluarkanlah!’. Allah mengharamkan api neraka membakar wajah mereka. Akhirnya mereka mendatangi saudara-saudara mereka di neraka yang saat itu ada yang telah terbenam hingga telapak kaki di neraka. Ada juga yang teng-gelam hingga pertengahan dua betisnya. Orang-orang iman mengeluarkan saudara-saudara mereka yang mereka kenali di dalam neraka. Lalu kembali lagi menghadap Allah. Allah berfirman ‘berangkatlah!. Orang yang dalam hatinya kalian jumpai keimanan seberat dzarrah, keluarkanlah!’. Akhirnya mereka mengeluarkan saudara-saudara mereka dari neraka.” Abu Sa’id berkata “Kalau kalian tidak mem-percayaiku bacalah:
‘إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا
Sungguh Allah takkan menganiaya sebobot dzarrah pun. Jika berupa kebaikan Dia akan melipatkannya’.
[Qs An-Nisa’ 40]

Akhirnya para nabi dan para malaikat dan orang-orang iman sama memberi syafa’at orang-orang iman yang di dalam neraka. Hinggga akhirnya Al-Jabbar berfirman ‘yang tersisa tinggal syafa’at-Ku’. Selanjutnya Allah menggenggam dari neraka satu gengaman untuk mengeluarkan kaum-kaum yang benar-benar telah hangus. Mereka diletakkan di sungai bernama air kehidupan yang berada di mulut-mulut surga. Selanjutnya mereka tumbuh di dua pinggirannya bagaikan biji-bijian yang tumbuh di dalam bawaan banjir. Kalian pasti pernah menyaksikan hal tersebut di sisi batu besar di sisi sebuah pohon. Yang condong ke arah mata-hari menjadi hijau; sementara yang condong ke arah teduh memutih. Akhirnya mereka keluar dari kawasan tersebut dalam keadaan indah mirip sekali mutiara. Ada cap-cap yang dicap-kan di pundak-pundak mereka. Akhirnya mereka masuk surga. Di saat itu orang-orang surga berkata ‘mereka ini orang-orang yang dimerdekakan oleh Rahman. Rahman telah memasukkan mereka ke surga dengan tanpa amalan maupun kebaikan. Akkhirnya dilontarkan perkatan ‘apa yang telah kalian saksikan dan yang semisal itu adalah hak kalian’.” [Juz 24 halaman 290].

[1]Dalam Zadul-Ma’ad dijelaskan:
قَوْلُهُ فَتَطّلِعُونَ عَلَى حَوْضِ نَبِيّكُمْ ظَاهِرُ هَذَا أَنّ الْحَوْضَ مِنْ وَرَاءِ الْجِسْرِ فَكَأَنّهُمْ لَا يَصِلُونَ إلَيْهِ حَتّى يَقْطَعُوا الْجِسْرَ وَلِلسّلَفِ فِي ذَلِكَ قَوْلَانِ حَكَاهُمَا الْقُرْطُبِيّ فِي " تَذْكِرَتِهِ " وَالْغَزَالِيّ وَغَلّطَا مَنْ قَالَ إنّهُ بَعْدَ الْجِسْرِ وَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيّ : عَنْ أبِي هُرَيْرَة . أَنّ رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ عَلَى الْحَوْضِ إذَا زُمْرَةٌ حَتّى إذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ فَقَالَ لَهُمْ هَلُمّ فَقُلْتُ إلَى أَيْنَ ؟ فَقَالَ إلَى النّارِ وَاَللّهِ قُلْتُ مَا شَأْنُهُمْ ؟ قَالَ إنّهُمْ ارْتَدّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ فَلَا أَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إلّا مِثْلُ هَمَلِ النّعَمِ قَالَ فَهَذَا الْحَدِيثُ مَعَ صِحّتِهِ أَدَلّ دَلِيلٍ عَلَى أَنّ الْحَوْضَ يَكُونُ فِي الْمَوْقِفِ قَبْلَ الصّرَاطِ لِأَنّ الصّرَاطَ إنّمَا هُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى جَهَنّمَ فَمَنْ جَازَهُ سَلِمَ مِنْ النّارِ
– Sabda dia “Lalu kalian akan melihat telaga Nabi kalian.” Secara lahiriyah berdasarkan Hadits ini sunguh telaga Al-Kautsar berada di balik Jembatan. Sepertinya mereka dipastikan takkan sampai telaga Al-Kautsar sebelum melewati Jembatan. “Menurut ulama salaf memang ada dua pendapat,’ tutur Qurthubi dalam Tadzkirah-nya. Al-Ghazali juga menuturkan demikian. Mereka berdua menyalahkan orang yang berkata “Sungguh telaga Al-Kautsr terletak pada setelah Jembatan.”

Sungguh Bukhari sendiri telah meriwayatkan dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bersabda “Suatu hari saya berdiri di pinggir telaga; tiba-tiba ada sekelompok orang datang. Hingga ketika saya telah mengenali mereka ; tiba-tiba ada seorang lelaki yang keluar di antara saya dan mereka untuk berkata pada mereka “Ayo!.” Saya berkata “Kemana?.” Dia mejawab “Ke neraka demi Allah.” Saya bertanya “Ada apa mereka?.” Dia berkata “Sungguh mereka telah murtad kebelakang mereka.” Ternyata tak seorang pun dari mereka yang selamat kecuali seperti binatang hilang. Ini Hadits shahih merupakan dalil yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa telaga Kautsar berada di tempat-berhenti sebelum Jembatan. Hakikinya Jembatan terletak memanjang di atas Jahanam. Yang berhasil melewatinya maka selamat dari neraka.

Yang tak kalah menarik penulis kitab tersebut berkata:
“قُلْتُ وَلَيْسَ بَيْنَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ تَعَارُضٌ وَلَا تَنَاقُضٌ وَلَا اخْتِلَافٌ وَحَدِيثُهُ كُلّهُ يُصَدّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا
– Saya berkata ‘sejak dulu tidak ada pertentangan, tabrakan, ataupun perselisihan di antara Hadits-Hadits. Semua Hadits saling membenarkan sebagian pada sebagian’.”

[2]Pada saat ini ada orang yang merendahkan kitab Bukhari “Haditsnya banyak yang dha’if,” katanya. Padahal Muslim saja merendah padanya. Ibnu Chajar menulis:
أَخْبَرَناَ أَبُوْ حاَمِدٍ اْلأَعْمَشُ الْحاَفِظُ قاَلَ كُناَّ يَوْماً عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْماَعِيْلَ الْبُخاَرِيُّ بِنَيْساَبُوْرَ فَجاَءَ مُسْلِمُ بْنُ اْلحَجاَّجِ فَسَأَلَهُ عَنْ حَدِيْثِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جاَبِرٍ قاَلَ بَعَثَناَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي سَرِيَّةٍ وَمَعَناَ أَبُوْ عُبَيْدَةَ اْلحَدِيْثَ بِطُوْلِهِ فَقاَلَ اْلبُخاَرِيُّ حَدَّثَناَ بْنُ أَبِيْ أُوَيْسٍ حَدَّثَنِيْ أَخِيْ عَنْ سُلَيْماَنَ بْنِ بِلاَلٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ فَذَكَرَ اْلحَدِيْثَ بِتَماَمِهِ قاَلَ فَقَرَأَ عَلَيْهِ إِنْساَنٌ حَدِيْثَ حَجاَّجِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صاَلِحٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قاَلَ كَفاَّرَةُ اْلمَجْلِسِ إِذاَ قاَمَ الْعَبْدُ أَنْ يَقُوْلَ سُبْحَانَكَ اللّهُمّ وَبِحَمْدِك أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ فَقاَلَ لَهُ مُسْلِمٌ فِي الدُّنْياَ أحَسَنُ مِنْ هَذاَ الْحَدِيْثِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ مُوْسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صاَلِحٍ تَعْرِفُ بِهَذاَ اْلإِسْناَدِ فِي الدُّنْياَ حَدِيْثاً فَقاَلَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْماَعِيْلَ إِلاَّ أَنَّهُ مَعْلُوْلٌ فَقاَلَ مُسْلِمٌ لَا إلَهَ إلاَّ اللهُ وَارْتَعَدَ أَخْبِرْنِي بِهِ فَقاَلَ اسْتُرْ ماَ سَتَرَ اللهُ هَذاَ حَدِيْثٌ جَلِيْلٌ رَواَهُ الناَّسُ عَنْ حَجاَّجِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ بْنِ جُرَيْجٍ فَأَلَحَّ عَلَيْهِ وَقَبَّلَ رَأْسَهُ وَكاَدَ أَنْ يَبْكِيْ فَقاَلَ اكْتُبْ إِنْ كاَنَ ولاَ بُدَّ حَدَّثَناَ مُوْسَى بْنُ إِسْماَعِيْلَ حَدَّثَناَ وُهَيْبٌ حَدَّثَناَ مُوْسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قاَلَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ كَفاَّرَةُ اْلمَجْلِسِ فَقاَلَ لَهُ مُسْلِمٌ لاَ يُبْغِضُكَ إِلاَّ حاَسِدٌ وَأَشْهَدُ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الدُّنْياَ مِثْلُكَ وَهَكَذاَ رَوَى اْلحَاكِمُ هَذِهِ الْقِصَّةِ فِي تاَرِيْخِ نَيْساَبُوْرَ عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ اْلمَخْلَدِيْ وَرَواَهاَ الْبَيْهًَقِيُّ فِي اْلمَدْخَلِ عَنِ اْلحاَكِمِ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ
– Abu Chamid Al-A’masy memberi kabar kami “Pada suatu hari kami pernah berada di sisi Muhammad bin Isma’il (Bukhari) di Naisabur. Tiba-tiba Muslim bin Al-Chajjaj datang untuk menanyakan tentang Haditsnya Ubaidillah bin Umar dari Abiz-Zubair dari Jabir ‘Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ pernah mengutus kami. Saat itu Abu Ubaidah berada di kalangan kami’,” dan seterusnya. Tak lama kemudian ada insan membacakan Haditsnya Chajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Musa bin Uqbah dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abi Hurairah dari Nabi صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ: ‘kafarahnya majlis ialah jika seorang hamba telah berdiri berkataسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ – Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan pujian-Mu hamba bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau hamba minta ampun dan bertaubat pada-Mu’. Muslim berkata ‘di dunia ada yang lebih baik dari pada ini Haditsnya Ibni Juraij dari Musa bin Uqbah dari Suhail bin Abi Shalih. Kau tahu Hadits di dunia yang menggunakan isnad ini?’. Sontak Muhammad bin Isma’il (Bukhari) berkata ‘hanya saja sungguh Hadits itu ma’lul’, yakni dinilai cacat. Tak lama kemudian Muslim berkata ‘لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ;” sambil bergetar. Dia meneruskan ‘kabari saya tentang hal tersebut’. Bukhari berkata ‘tutupilah yang ditutup Allah!. Ini Hadits sangat agung yang diriwayatkan orang-orang dari Chajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij’. Tak lama kemudian Muslim memohon-mohon penjelasan pada Bukhari sambil mencium rambut Bukhari, hampir saja menangis. Tak lama kemudian Bukhari berkata ‘tulislah jika tidak mau dicegah!. Musa bin Isma’il telah menyempaikan Hadits dari Wuhaib dari Musa bin Uqbah dari Aun bin Abdillah pada kami Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ bersabda kafarah majlis ialah’, dan seterusnya. Tak lama kemudian Muslim berkata ‘tak ada orang yang mem-bencimu kecuali orang dengki dan saya bersaksi bahwa di dunia tidak ada orang yang semisalmu’. Al-Chakim juga meriwayatkan kisah seperti ini dari Abi Muhammad Al-Makhladi di dalam Tarikh Naisabur. Baihaqi juga meriwayatkan riwayat tersebut dari Al-Chakim Abi Abdillah di dalam Al-Madkhal. [Muqadimah Ibnu Chajar juz 1 halaman 489].
[3]Al-Jabbar adalah Allah yang Maha pemaksa.
[4]Chasakah dalam bahasa Jawa semacam ri kemarung atau ri pring ori.
__________________________________________________________________
Kontributor: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam, pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta