وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Selasa, 15 Februari 2011

Terorisme, Jangan Salahkan Islam

ldii-sidoarjo.org - Kekerasan atas nama agama terjadi kembali di tanah air berturut-turut selama satu tahun terakhir, setelah kita agak lupa kasus bom Bali oleh Amrozi cs pada tahun 2002 dan 2005. Mulai dari pelatihan milisi di Aceh, perampokan bank di Medan dengan motif jihad, penyerangan atas jemaat Ahmadiyah di Cikeusik sampai terjadinya perusakan atas beberapa Gereja di Tumenggung makin menambah daftar panjang kasus-kasus kekerasan agama di Indonesia. Islam Indonesia terus menjadi sorotan. Label teroris untuk umat Islam tambah lengket.

Tampaknya semakin hari terjadi deviasi pemahaman terhadap aplikasi ajaran Islam di masyarakat. Apabila dikaji secara mendalam, semua tindakan anarkis yang memaksakan kehendak dan keyakinan terhadap umat lain adalah bukan ajaran Islam karena tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW, yang tercantum dalam Al-Quran dan Al-Hadist.

Firman Allah surat Ali Imron ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)
Maka sebab rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Al-Quran surat al-Bakarah ayat 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) )
Tidak ada paksaan untuk (masuk) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Islam sebenarnya adalah agama rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Kekerasan yang kejam dan membabibuta sangat dilarang dalam Islam. Walaupun dalam awal perkembangan Islam dilakukan dengan peperangan namun tidak dilakukan dengan cara teror, merusak, menghancurkan dan membunuh secara diam-diam dalam situasi damai, dengan korban yang acak mulai anak-anak, wanita dan bahkan umat Islam sendiri. Termasuk taktik bom bunuh diri sungguh dikutuk oleh Islam. Dengan demikian semua bentuk kekerasan dan terorisme yang terjadi selama ini tidak tepat bila disematkan pada Islam, lebih-lebih dengan label jihad.

Terorisme terbesar dilakukan oleh Non-Islam

Paul Wilkinson, dalam tesisnya berjudul Contemporary Research on Terrorism, menitikberatkan studi terorisme pada kontek ideologi dan keyakinan para pelaku teror. Untuk memahami terorisme secara mendalam perlu menggali motivasi pelaku dan mengkaitkannya dengan kondisi politik, histori, dan budaya tertentu serta ideology dan tujuan dari kelompok teroris yang terlibat. Diagram di samping menunjukkan hasil survei terhadap latar belakang ideologi insiden terorisme yang pernah terjadi antara tahun 1968-2004.

Diagram hasil survei tersebut menunjukan bahwa ternyata pelaku terorisme terbesar di dunia bukan karena motif agama atau Islam tapi justru extrimist komunis (20%) dan separatis nasionalis (31%) yang lebih dulu berbuat terorisme dengan volume yang jauh lebih besar daripada terorisme dengan latar belakang agama atau Islam. Terorisme / kekerasan dengan motif agama tidak lebih dari 14% di seluruh dunia.

Jasad PM Aldo Moro ditemukan dalam mobil setelah 54 hari diculik dan disekap kelompok radikal Red Brigades
Salah satu contoh adalah Italian Red Brigades, organisasi militan sayap kiri, Marxist-Leninist, berbasis di Italia, yang mulai dikenal 1970 dengan berbagai aksi penculikan, pembunuhan dan sabotase. Kelompok radikal ini didirikan oleh Renato Curcio yang pada tahun 1967 membentuk kelompok studi kiri di University of Trento dan mengagungkan tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Mao Zedong, dan Che Guevara. Meskipun pada tahun 1976 ratusan anggota kelompok ini termasuk Curcio sendiri telah ditangkap dan dipenjarakan namun aksi maut mereka terus berlanjut. Termasuk korban penculikan dan pembunuhan militan Red Brigades adalah komandan anti teror kota Turin (1974) dan Perdana Menteri Aldo Moro (1978). Sumber: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/494142/Red-Brigades, http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Brigades, http://www.rnw.nl/english/article/italy-arrests-members-new-red-brigades

Perdana Menteri Spanyol, Admiral Luis Carrero Blanco, tewas dalam serangan bom mobil di Madrid pada tahun 1973
Anarkisme non-Islam lain yang tidak kalah keji dilakukan oleh ETA atau Euskadi Ta Askatasuna, kelompok bersenjata nasionalis separatis Basque. ETA adalah bagian terbesar dari Gerakan Nasional Pembebasan Basque dan dalang utama konflik Basque. Sejak tahun 1968 ETA bertanggung jawab atas 829 pembunuhan, ribuan korban cidera dan puluhan penculikan, termasuk pembunuhan terhadap perdana menteri Admiral Luis Carrero Blanco, pada 1973. Kelompok ETA telah dianggap sebagai organisasi terorisme berbahaya tidak hanya oleh pemerintah Spanyol dan Perancis, namun juga Uni Eropa secara keseluruhan dan Amerika Serikat. Organisasi ini mulai aktif sejak 1959 dan masih eksis hingga saat ini.
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/ETA, http://news.bbc.co.uk/onthisday/hi/dates/stories/december/20/newsid_2539000/2539129.stm.

Terorisme Islam tidak bersifat ideologis.

Apabila ditelaah secara teliti, terorisme oleh oknum-oknum Islam terutama di Indonesia tidak bersifat ideologis agamis. Pelaku teror tidak hendak memaksakan keyakinan pada umat lain untuk memeluk Islam. Aksi teror yang mereka kembangkan hanya merupakan ekspresi kebencian terhadap eksploitasi budaya barat yang jelas-jelas menentang peraturan Allah dan menginjak-injak norma-norma agama atas nama liberalisasi, seperti; pergaulan bebas (free sex), minuman keras, narkoba, perkawinan sesama jenis, pamer aurat, dan riba yang merajalela.



Sebagian bukti kekejian oleh non-Islam
Perbuatan teror juga tidak dipicu oleh faktor ekonomi atau kemiskinan. Sosok oknum yang berhasil ditangkap jelas-jelas menunjukkan mereka adalah orang-orang intelek dengan sokongan dana yang cukup. Secara logikapun orang miskin tidak mungkin melakukan operasi mahal itu. Perbuatan berani seperti itu hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keyakinan kuat dan berjiwa jihad, walaupun sesungguhnya mereka telah keliru menerapkan ayat jihad secara tepat. Perbuatan nekat para teroris lebih didorong oleh rasa ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini. Beberapa studi telah menyimpulkan adanya korelasi kuat antara ketidakadilan dengan konflik bersenjata.

Aksi teror, vandalisme dan penghancuran lainnya oleh oknum-oknum Islam juga tidak berorientasi politik kekuasaan yang memaksakan ideologi Islam dalam ketatanegaraan. Karenanya aksi mereka ibarat percikan api kecil yang mudah dipadamkan dan tidak berpengaruh pada sejarah kebangsaan. Bandingkan dengan peristiwa G30S yang didalangi oleh komunis Indonesia, insiden yang menjadi lembaran hitam sejarah bangsa Indonesia untuk selamanya. Pembunuhan sepihak yang dilakukan oleh intelektual golongan besar secara sistematis dan terencana, yang jelas-jelas bertujuan merebut kekuasaan, dengan korban banyak nyawa pahlawan bangsa yang sangat berharga.

Manusia memang pendek ingatan. Saat ini banyak orang mengutuk Islam. Islam sebagai biang kerusakan. Organisasi jaringan teroris oleh segolongan Islam dianggap sangat berbahaya. Agama Islam sebagai momok yang menakutkan. Orang lebih mempertanyakan berapa korban teror WTC 11/9/2001. Berapa kerugian materi Bom Bali, dan seterusnya. Tapi mereka lupa berapa juta jiwa yang mati sia-sia dalam perang dunia ke satu dan kedua. Berapa ratus ribu manusia mati dan menderita secara mengerikan akibat pengeboman Nagasaki dan Heroshima. Juga apakah kita sudah lupa kepedihan seluruh bangsa ini akibat kejamnya penjajahan Jepang dan pahitnya ratusan tahun diperbudak oleh bangsa Belanda? Yang semua itu dilakukan oleh orang-orang BUKAN ISLAM.

Jelas bahwa penderitaan terbesar dan kerusakan fisik maupun moral paling dahsyat di muka bumi ini justru diciptakan oleh golongan-golongan non-Islam, orang-orang yang tidak pernah mempercayai ke-Esa-an Allah dan dengan arogan melecehkan kebenaran Rasulullah SAW dan kitab suci yang dibawanya, Al-Quran.

Referensi:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Terorisme, Jangan Salahkan Islam

ldii-sidoarjo.org - Kekerasan atas nama agama terjadi kembali di tanah air berturut-turut selama satu tahun terakhir, setelah kita agak lupa kasus bom Bali oleh Amrozi cs pada tahun 2002 dan 2005. Mulai dari pelatihan milisi di Aceh, perampokan bank di Medan dengan motif jihad, penyerangan atas jemaat Ahmadiyah di Cikeusik sampai terjadinya perusakan atas beberapa Gereja di Tumenggung makin menambah daftar panjang kasus-kasus kekerasan agama di Indonesia. Islam Indonesia terus menjadi sorotan. Label teroris untuk umat Islam tambah lengket.

Tampaknya semakin hari terjadi deviasi pemahaman terhadap aplikasi ajaran Islam di masyarakat. Apabila dikaji secara mendalam, semua tindakan anarkis yang memaksakan kehendak dan keyakinan terhadap umat lain adalah bukan ajaran Islam karena tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW, yang tercantum dalam Al-Quran dan Al-Hadist.

Firman Allah surat Ali Imron ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)
Maka sebab rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Al-Quran surat al-Bakarah ayat 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) )
Tidak ada paksaan untuk (masuk) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Islam sebenarnya adalah agama rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Kekerasan yang kejam dan membabibuta sangat dilarang dalam Islam. Walaupun dalam awal perkembangan Islam dilakukan dengan peperangan namun tidak dilakukan dengan cara teror, merusak, menghancurkan dan membunuh secara diam-diam dalam situasi damai, dengan korban yang acak mulai anak-anak, wanita dan bahkan umat Islam sendiri. Termasuk taktik bom bunuh diri sungguh dikutuk oleh Islam. Dengan demikian semua bentuk kekerasan dan terorisme yang terjadi selama ini tidak tepat bila disematkan pada Islam, lebih-lebih dengan label jihad.

Terorisme terbesar dilakukan oleh Non-Islam

Paul Wilkinson, dalam tesisnya berjudul Contemporary Research on Terrorism, menitikberatkan studi terorisme pada kontek ideologi dan keyakinan para pelaku teror. Untuk memahami terorisme secara mendalam perlu menggali motivasi pelaku dan mengkaitkannya dengan kondisi politik, histori, dan budaya tertentu serta ideology dan tujuan dari kelompok teroris yang terlibat. Diagram di samping menunjukkan hasil survei terhadap latar belakang ideologi insiden terorisme yang pernah terjadi antara tahun 1968-2004.

Diagram hasil survei tersebut menunjukan bahwa ternyata pelaku terorisme terbesar di dunia bukan karena motif agama atau Islam tapi justru extrimist komunis (20%) dan separatis nasionalis (31%) yang lebih dulu berbuat terorisme dengan volume yang jauh lebih besar daripada terorisme dengan latar belakang agama atau Islam. Terorisme / kekerasan dengan motif agama tidak lebih dari 14% di seluruh dunia.

Jasad PM Aldo Moro ditemukan dalam mobil setelah 54 hari diculik dan disekap kelompok radikal Red Brigades
Salah satu contoh adalah Italian Red Brigades, organisasi militan sayap kiri, Marxist-Leninist, berbasis di Italia, yang mulai dikenal 1970 dengan berbagai aksi penculikan, pembunuhan dan sabotase. Kelompok radikal ini didirikan oleh Renato Curcio yang pada tahun 1967 membentuk kelompok studi kiri di University of Trento dan mengagungkan tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Mao Zedong, dan Che Guevara. Meskipun pada tahun 1976 ratusan anggota kelompok ini termasuk Curcio sendiri telah ditangkap dan dipenjarakan namun aksi maut mereka terus berlanjut. Termasuk korban penculikan dan pembunuhan militan Red Brigades adalah komandan anti teror kota Turin (1974) dan Perdana Menteri Aldo Moro (1978). Sumber: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/494142/Red-Brigades, http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Brigades, http://www.rnw.nl/english/article/italy-arrests-members-new-red-brigades

Perdana Menteri Spanyol, Admiral Luis Carrero Blanco, tewas dalam serangan bom mobil di Madrid pada tahun 1973
Anarkisme non-Islam lain yang tidak kalah keji dilakukan oleh ETA atau Euskadi Ta Askatasuna, kelompok bersenjata nasionalis separatis Basque. ETA adalah bagian terbesar dari Gerakan Nasional Pembebasan Basque dan dalang utama konflik Basque. Sejak tahun 1968 ETA bertanggung jawab atas 829 pembunuhan, ribuan korban cidera dan puluhan penculikan, termasuk pembunuhan terhadap perdana menteri Admiral Luis Carrero Blanco, pada 1973. Kelompok ETA telah dianggap sebagai organisasi terorisme berbahaya tidak hanya oleh pemerintah Spanyol dan Perancis, namun juga Uni Eropa secara keseluruhan dan Amerika Serikat. Organisasi ini mulai aktif sejak 1959 dan masih eksis hingga saat ini.
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/ETA, http://news.bbc.co.uk/onthisday/hi/dates/stories/december/20/newsid_2539000/2539129.stm.

Terorisme Islam tidak bersifat ideologis.

Apabila ditelaah secara teliti, terorisme oleh oknum-oknum Islam terutama di Indonesia tidak bersifat ideologis agamis. Pelaku teror tidak hendak memaksakan keyakinan pada umat lain untuk memeluk Islam. Aksi teror yang mereka kembangkan hanya merupakan ekspresi kebencian terhadap eksploitasi budaya barat yang jelas-jelas menentang peraturan Allah dan menginjak-injak norma-norma agama atas nama liberalisasi, seperti; pergaulan bebas (free sex), minuman keras, narkoba, perkawinan sesama jenis, pamer aurat, dan riba yang merajalela.



Sebagian bukti kekejian oleh non-Islam
Perbuatan teror juga tidak dipicu oleh faktor ekonomi atau kemiskinan. Sosok oknum yang berhasil ditangkap jelas-jelas menunjukkan mereka adalah orang-orang intelek dengan sokongan dana yang cukup. Secara logikapun orang miskin tidak mungkin melakukan operasi mahal itu. Perbuatan berani seperti itu hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keyakinan kuat dan berjiwa jihad, walaupun sesungguhnya mereka telah keliru menerapkan ayat jihad secara tepat. Perbuatan nekat para teroris lebih didorong oleh rasa ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini. Beberapa studi telah menyimpulkan adanya korelasi kuat antara ketidakadilan dengan konflik bersenjata.

Aksi teror, vandalisme dan penghancuran lainnya oleh oknum-oknum Islam juga tidak berorientasi politik kekuasaan yang memaksakan ideologi Islam dalam ketatanegaraan. Karenanya aksi mereka ibarat percikan api kecil yang mudah dipadamkan dan tidak berpengaruh pada sejarah kebangsaan. Bandingkan dengan peristiwa G30S yang didalangi oleh komunis Indonesia, insiden yang menjadi lembaran hitam sejarah bangsa Indonesia untuk selamanya. Pembunuhan sepihak yang dilakukan oleh intelektual golongan besar secara sistematis dan terencana, yang jelas-jelas bertujuan merebut kekuasaan, dengan korban banyak nyawa pahlawan bangsa yang sangat berharga.

Manusia memang pendek ingatan. Saat ini banyak orang mengutuk Islam. Islam sebagai biang kerusakan. Organisasi jaringan teroris oleh segolongan Islam dianggap sangat berbahaya. Agama Islam sebagai momok yang menakutkan. Orang lebih mempertanyakan berapa korban teror WTC 11/9/2001. Berapa kerugian materi Bom Bali, dan seterusnya. Tapi mereka lupa berapa juta jiwa yang mati sia-sia dalam perang dunia ke satu dan kedua. Berapa ratus ribu manusia mati dan menderita secara mengerikan akibat pengeboman Nagasaki dan Heroshima. Juga apakah kita sudah lupa kepedihan seluruh bangsa ini akibat kejamnya penjajahan Jepang dan pahitnya ratusan tahun diperbudak oleh bangsa Belanda? Yang semua itu dilakukan oleh orang-orang BUKAN ISLAM.

Jelas bahwa penderitaan terbesar dan kerusakan fisik maupun moral paling dahsyat di muka bumi ini justru diciptakan oleh golongan-golongan non-Islam, orang-orang yang tidak pernah mempercayai ke-Esa-an Allah dan dengan arogan melecehkan kebenaran Rasulullah SAW dan kitab suci yang dibawanya, Al-Quran.

Referensi: