وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Senin, 13 Desember 2010

Imam Al-Ghazali, Pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (bagian 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّين
Seorang alim(1) yang sangat masyhur ini namanya makin harum, sampai-sampai penyarah(2) Hadits Nasa’i yang bernama Imam Suyuthi menukil fatwanya:
“خُسُوْفُ الْقَمَرِ عِباَرَةٌ عَنِ انْمِحاَءِ ضَوْئِهِ بِتَوَسُّطِ اْلأَرْضِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّمْسِ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ يَقْتَبِسُ نُوْرُهُ مِنَ الشَّمْسِ وَاْلأَرْضِ كَرَّةً وَالسَّماَءُ مُحِيْطَةٌ بِهاَ مِنَ الْجَواَنِبِ فَإِذاَ وَقَعَ الْقَمَرُ فِي ظِلِّ اْلأَرْضِ انْقَطَعَ عَنْهُ نُوْرُ الشَّمْسِ
Gerhana bulan adalah ibarat mengenai hilangnya sinar-pantulan-bulan karena bumi bergerak ke garis lurus antara bulan dan matahari. Karena sinar bulan adalah pantulan dari sinar matahari, kadang juga pantulan sinar matahari kebumi lalu kebulan. Sementara langit meliputi (matahari bumi dan bulan) dari berbagai arah. Ketika bulan bergeser ketempat naungan bumi maka cahaya matahari terputus dari bulan.”

Bahkan penyarah Hadits Bukhari yang sangat masyhur bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani(3) juga menukil ucapannya:
“حَرَكَة اللِّسَان بِالذِّكْرِ مَعَ الْغَفْلَة عَنْهُ تُحَصِّل الثَّوَاب ؛ لِأَنَّهُ خَيْر مِنْ حَرَكَة اللِّسَان بِالْغِيبَةِ ، بَلْ هُوَ خَيْر مِنْ السُّكُوت مُطْلَقًا ، أَيْ الْمُجَرَّد عَنْ التَّفَكُّر
Menggerakkan lisan untuk berdzikir namun lupa Allah akan berhasil mendapat pahala karena nilainya lebih baik dari pada menggerakkan lisan untuk menggunjing, bahkan lebih baik dari pada diam sama sekali yang tidak melakukan tafakkur.” Kalau dilihat dari zaman hidup dan tulisannya sepertinya Imam Al-Ghazali pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.
Dia menulis di dalam Ihya’:
فِي تُرْجُمَةِ عَقِيْدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي كَلِمَتَيْ الشَّهاَدَةِ الَّتِيْ هِيَ أَحَدُ مَباَنِي اْلإِسْلاَمِ فَنَقُوْلُ وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ: الْحَمْدُ للهِ الْمُبْدِىءِ الْمُعِيْدِ الْفَعاَّلِ لِماَ يُرِيْدُ ذِي الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ وَالْبَطْشِ الشَّدِيْدِ الْهاَدِيْ صَفْوَةِ الْعَبِيْدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيْدِ وَالْمَسْلَكِ السَّدِيْدِ الْمُنْعِمِ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَهاَدَةِ التَّوْحِيْدِ بِحِراَسَةِ عَقاَئِدهمْ عَنْ ظُلُماَتِ التَّشْكِيْكِ وَالتَّرْدِيْدِ السَّالِكِ بِهِمْ إِلَى إِتْبَاعِ رَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى وَاِقْتِفاَءِ آثاَرِ صَحْبِهِ اْلأَكْرَمِيْنَ الْمُكْرَمِيْنَ بِالتَّأْيِيْدِ وَالتَّسْدِيْدِ الْمُتَجَلِّيْ لَهُمْ فِي ذاَتِهِ وَأَفْعاَلِهِ بِمَحَاسِنِ أَوْصاَفِهِ الَّتِيْ لاَ يُدْرِكُهاَ إِلاَّ مَنْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ الْمُعَرَّفُ إِياَّهُمْ أَنَّهُ فِي ذاَتِهِ واَحِدٌ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فَرْدٌ لاَ مَثِيْلَ لَهُ صَمَدٌ لاَ ضِدَّ لَهُ مُنْفَرِدٌ لاَ نِدَّ لَهُ وَأَنَّهُ وَاحِدٌ قَدِيْمٌ لاَ أَوَّلَ لَهُ أَزَلِيٌّ لاَ بِداَيَةَ لَهُ مُسْتَمِرُّ الْوُجُوْدِ لاَ آخِرَ لَهُ أَبَدِي لاَ نِهاَيَةَ لَهُ قَيُّوْمٌ لاَ انْقِطاَعَ لَهُ لَمْ يَزَلْ وَلاَ يَزاَلُ مَوْصُوْفاً بِنُعُوْتِ الْجَلاَلِ لاَ يُقْضَى عَلَيْهِ بِاْلاِنْقِضاَءِ وَاْلاِنْفِصاَلِ بِتَصَرُّمِ اْلآباَدِ وَانْقِراَضِ اْلآجاَلِ بَلْ "هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ".
Tulisan ini membahas mengenai keterangan aqidah Ahlus-Sunnah khususnya mengenai dua kalimat syahadat yang merupakan salah satu dari rukun Islam. Kami yang berkata dan semoga Allah memberi Taufiq 'segala puji bagi Allah yang memulai dan yang mengulang, yang selalu melakukan apa yang Dia kehendaki, Pemilk Arasy sangat agung dan pukulan yang sangat dahsyat, Pembimbing hamba-hamba pilihan ke arah yang tepat dan jalan yang benar, yang memberi nikmat mereka setelah mereka bersyahadat tauhid dengan menjaga kaidah-kaidah dari kegelapan-kegelapan yang meragukan dan membuat murtad, yang menggerakkan mereka agar mengikuti Rasul Al-Mushthafa (Pilihan) dan agar mengikuti langkah-langkah para sahabatnya yang lebih mulia yang dimuliakan dengan bukti mereka diperkuat dan diarahkan (oleh Allah) pada benar. Yang berusaha menampakkan diri pada mereka melalui Dzat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan cara memperindah sifat-sifat-Nya yang tak mungikin bisa ditangkap kecuali oleh orang yang أَلْقَى السَّمْعَ alqas-sam’a (istilah dalam Al-Qur’an Surat Qaf 37 yang arti lughat-nya meletakkan pendengaran, namun maksud-nya mempergunakan pendengarannya), namun ia bersaksi (bahwa Allah Esa). Yang mengenalkan pada mereka bahwa Dia Esa di dalam Dzat-Nya, tak memiliki sekutu. Tunggal, mutlak tak ada yang membandingi. Maha segala-gala-nya, tak ada yang menyamai-Nya. Sendirian, tak ada yang membandingi-Nya. Yang Esa lagi terdahulu, tidak ada yang mengawali-Nya. Yang Azali: telah dan akan selalu ada, selalu wujud takkan pernah berakhir, abadi yang tiada batas. Yang قَيُّوْمٌ Maha merumat yang tak putus, belum dan takkan berhenti dijelas-jelaskan bahwa sifat Dia Maha Agung. Dia takkan dihukumi atau dituntut oleh siapapun karena Dialah yang bisa memotong keabadian dan yang menghabisi ajal. Bahkan Dialah yang dalam Al-Qur’an ditulis “هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.” Yang artinya “Dialah yang Awal dan Akhir, dan Lahir, dan Bathin. Dan Dia Maha Tahu pada segala sesuatu’.”

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah Islam yang diamalkan oleh Rasulillah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabat dan umat Islam setelah mereka.
  • Ahlus-Sunnah artinya ahli menetapi sunnah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan sunnah para Khalifahnya yang rasyidiin. Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
    “أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    Aku wasiat pada kalian agar bertaqwa pada Allah, mendengar dan taat!. Meskipun pada hamba-sahaya dari Habasyi (yang menjadi pimpinan). Sungguh barang siapa dari kalian hidup setelahku, maka akan melihat per-selisihan yang banyak. Maka amalkanlah sunnahku dan sunnah para Khalifah Al-Mahdiyyiin (yang mendapat petunjuk dari Allah) Ar-Rasyidiin (yang benar). Pegang-teguh dan gigitlah dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah barunya perkara (tentang agama), sebab semua yang diperbaharui adalah bid’ah, dan semua bid’ah sesat.”
  • Wal-Jama’ah artinya dan juga ahli menetapi jamaah, sebagai mengamalkan perintah Allah:
    “وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ...
    Dan berpegang teguhlah pada tali Allah dengan berjama'ah, jangan berpecah belah...
    Al Quran surat Ali Imron 103
(1) Dia memiliki beberapa gelar:
  • Syaikh.
  • Imam.
  • Alim.
  • Allamah.
  • Chujjatul-Islam.
  • Yaitu orang yang menguasai kebanyakan sunnah atau Hadits, hanya sedikit yang tidak diketahui. Chafidl ialah orang yang menguasai 100. 000 Hadits. Sedangkan Chakim ialah orang yang menguasai 3.000 Hadits, ada yang menjelaskan Chakim ialah orang yang menguasai sunnah. Nama panjang beliau Zainuddin Abu Chamid Muhammad bin Muhammad. Beliau dilahirkan di daerah Thusi pada tahun 450 Hijriyyah, dan diwafatkan di sana pada hari Senin pagi tanggal 14 Jumadayil-Akhir tahun 505 Hijriyyah dalam umur 55 tahun. Pendahulu dia guru Imam Bukhari, Imam Nasa’i dan Imam Abu Dawud yang berasal dari kota tersebut مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِىُّ (Muhammad bin Manshur At-Thusi). Ada lagi guru besar pendahulu beliau yang bernama عَلِىُّ بْنُ مُسْلِمٍ الطُّوسِىُّ (Ali bin Muslim At-Thusi) yang dilahirkan pada tahun 160 Hijriyyah di kota yang sama yang juga guru Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i.
  • Barakatul-Anam. [Al-Bidayah wan-Nihayah juz 1 halaman 1].
(2) Berasal dari kata syarah yang artinya lebar atau lapang, namun maksudnya PEMBAHAS atau PENGULAS.
(3) Walau begitu Ibnu Hajar menganggap Kitab paling shahih setelah Al-Qur’an adalah Bukhari dan Muslim. Dia menulis:
أَوَّلُ مَنْ صَنَفَ فِي الصَّحِيْحِ الْبُخاَرِيُّ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْماَعِيْلَ وَتَلاَهُ أَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجاَّجِ الْقُشَيْرِيُّ وَمُسْلِمٌ مَعَ أَنَّهُ أَخَذَ عَنِ الْبُخاَرِيِّ وَاسْتَفاَدَ مِنْهُ فَإِنَّهُ يُشاَرِكُ الْبُخاَرِيَّ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ شُيُوْخِهِ وَكِتاَباَهُماَ أَصَحُّ الْكُتُبِ بَعْدَ كِتاَبِ اللهِ الْعَزِيْزِ وَأَماَّ ماَ رَوَيْناَهُ عَنِ الشاَّفِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قاَلَ مَا أَعْلَمُ فِي اْلأَرْضِ كِتاَباً فِي الْعِلْمِ أَكْثَرَ صَوَابًا مِنْ كِتَابِ ماَلِكٍ قاَلَ وَمِنْهُمْ مَنْ رَواَهُ بِغَيْرِ هَذاَ اللَّفْظِ يَعْنِيْ بِلَفْظِ أَصَحَّ مِنَ الْمُوَطَّأِ فَإِنَّماَ قاَلَ ذَلِكَ قَبْلَ وُجُوْدِ كِتاَبَيْ الْبُخاَرِيِّ وَمُسْلِمٍ ثُمَّ اِنَّ كِتاَبَ الْبُخاَرِيِّ أَصَحُّ الْكِتاَبَيْنِ صَحِيْحاً وَاَكْثَرُهُماَ فَواَئِدَ وَأَماَّ ماَ رَوَيْناَهُ عَنْ أَبِيْ عَلِى الْحاَفِظِ النَّيْساَبُوْرِيِّ أُسْتاَذِ اْلحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللهِ الْحاَفِظِ مِنْ أَنَّهُ قاَلَ ماَ تَحْتَ أَدِيْمِ الَّسمَاءِ كِتاَبٌ أَصَحُّ مِنْ كِتاَبِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجاَّجِ فَهَذاَ وَقَوْلُ مَنْ فَضَّلَ مِنْ شُيُوْخِ الْمَغْرِبِ كِتاَبَ مُسْلِمٍ عَلَى كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ إِنْ كَانَ اْلمُراَدُ بِهِ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ يَتَرَجَّحُ بِأَنَّهُ لَمْ يُماَزِجُهُ غَيْرُ الصَّحِيْحِفَإِنَّهُ لَيْسَ فِيْهِ بَعْدَ خُطْبَتِهِ اِلاَّ اْلحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ مَسْرُوْداً غَيْرَ مَمْزُوْجٍ بِمِثْلِ ماَ فِي كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ فِي تَرَاجِمِ أَبْواَبِهِ مِنَ اْلأَشْياَءِ الَّتِيْ لَمْ يُسْنِدْهاَ عَلَى الْوَصْفِ اْلمَشْرُوْطِ فِي الصَّحِيْحِ فَهَذاَ لاَ بَأْسَ بِهِ وَلَيْسَ يَلْزَمُ مِنْهُ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ أَرْجَحُ فِيْماَ يَرْجِعُ إِلَى نَفْسِ الصَّحِيْحِ عَلَى كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ وَإِنْ كاَنَ الْمُراَدُ بِهِ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ أَصَحُّ صَحِيْحاً فَهَذَا مَرْدُوْدٌ عَلَى مَنْ يَقُوْلُهُ وَاللهُ أَعْلَمُ
– Awalnya orang yang menyusun tentang Hadits shahih adalah Al-Bukhari yang nama panjangnya Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il. Abul-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi telah membaca kitab tersebut. Di-samping Muslim yang nama panjangnya Abul-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi tersebut telah berguru dan menerima faidah dari Bukhari, dia juga menyamai Bukhari di dalam memilih Syaikh-Syaiknya. Kitab mereka berdua adalah lebih shahihnya kitab setelah Kitab Allah yang mulia. Adapun yang kami riwayatkan dari Syafi’i رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ “Saya tidak mengetahui kitab di dalam bumi yang lebih banyak benarnya dari pada kitab Imam Maliki.” Sebagian ulama meriwayatkan dengan selain ini lafadl, yakni dengan lafadl “Saya (Syafi’i) tidak mengetahui kitab di dalam bumi yang lebih banyak benarnya dari pada kitab Al-Muwattha’.” Sungguh Imam Syafi’i mengatakan demikian itu karena belum ter-wujudnya dua kitab: Bukhari dan Muslim. Setelah itu kitab Bukhari-lah lebih shahihnya dan lebih banyaknya faidahnya dua kitab tersebut. Adapun yang kami riwayatkan dari Abi Ya’la Al-Hafidl An-Naisaburi, Ustadznya Al-Hakim yang panggilannya Abi Abdillah Al-Hafidl: “Di bawah langit tidak ada kitab yang lebih shahih dari pada kitabnya Muslim bin Hajjaj (kitab Muslim).” Perkataan ini dan perkataan para Syaikh dari Al-Maghribi yang menilai kitab Muslim lebih utama mengungguli kitab Bukhari, jika yang dimaksud:
“Kitab Muslim lebih berbobot karena tidak tercampur Hadits yang tidak shahih, setelah khuthbah muqaddimah Muslim tidak ada lagi Hadits kecuali shahih yang terus-menerus yang tidak keruh semisal yang di dalam Bukhari, di dalam menjelaskan bab-bab Bukhari terdapat riwayat-riwayat yang tidak diisnadkan dengan persyaratan shahih",
maka tidak apa-apa.
Namun dalam hal ini seharusnya dia tidak melazimkan bahwa kitab Muslim lebih ber-bobot mengungguli kitab Bukhari sepenuhnya. Kalau yang dimaksud “Kitab Muslim lebih shahih secara nyata,” jelas ditolak (kebenaran ucapan tersebut). Sementara Allah lebih tahu.
Kontributor: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam, pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta.

Artikel Sejenis

  1. IMAM AL-GHAZALI, PENGIKUT AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH (BAGIAN 2)
  2. IMAM AL-GHAZALI, PENGIKUT AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH (bagian 3)
  3. Imam Al-Ghazali, Pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (bagian 4)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Imam Al-Ghazali, Pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (bagian 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّين
Seorang alim(1) yang sangat masyhur ini namanya makin harum, sampai-sampai penyarah(2) Hadits Nasa’i yang bernama Imam Suyuthi menukil fatwanya:
“خُسُوْفُ الْقَمَرِ عِباَرَةٌ عَنِ انْمِحاَءِ ضَوْئِهِ بِتَوَسُّطِ اْلأَرْضِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّمْسِ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ يَقْتَبِسُ نُوْرُهُ مِنَ الشَّمْسِ وَاْلأَرْضِ كَرَّةً وَالسَّماَءُ مُحِيْطَةٌ بِهاَ مِنَ الْجَواَنِبِ فَإِذاَ وَقَعَ الْقَمَرُ فِي ظِلِّ اْلأَرْضِ انْقَطَعَ عَنْهُ نُوْرُ الشَّمْسِ
Gerhana bulan adalah ibarat mengenai hilangnya sinar-pantulan-bulan karena bumi bergerak ke garis lurus antara bulan dan matahari. Karena sinar bulan adalah pantulan dari sinar matahari, kadang juga pantulan sinar matahari kebumi lalu kebulan. Sementara langit meliputi (matahari bumi dan bulan) dari berbagai arah. Ketika bulan bergeser ketempat naungan bumi maka cahaya matahari terputus dari bulan.”

Bahkan penyarah Hadits Bukhari yang sangat masyhur bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani(3) juga menukil ucapannya:
“حَرَكَة اللِّسَان بِالذِّكْرِ مَعَ الْغَفْلَة عَنْهُ تُحَصِّل الثَّوَاب ؛ لِأَنَّهُ خَيْر مِنْ حَرَكَة اللِّسَان بِالْغِيبَةِ ، بَلْ هُوَ خَيْر مِنْ السُّكُوت مُطْلَقًا ، أَيْ الْمُجَرَّد عَنْ التَّفَكُّر
Menggerakkan lisan untuk berdzikir namun lupa Allah akan berhasil mendapat pahala karena nilainya lebih baik dari pada menggerakkan lisan untuk menggunjing, bahkan lebih baik dari pada diam sama sekali yang tidak melakukan tafakkur.” Kalau dilihat dari zaman hidup dan tulisannya sepertinya Imam Al-Ghazali pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.
Dia menulis di dalam Ihya’:
فِي تُرْجُمَةِ عَقِيْدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي كَلِمَتَيْ الشَّهاَدَةِ الَّتِيْ هِيَ أَحَدُ مَباَنِي اْلإِسْلاَمِ فَنَقُوْلُ وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ: الْحَمْدُ للهِ الْمُبْدِىءِ الْمُعِيْدِ الْفَعاَّلِ لِماَ يُرِيْدُ ذِي الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ وَالْبَطْشِ الشَّدِيْدِ الْهاَدِيْ صَفْوَةِ الْعَبِيْدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيْدِ وَالْمَسْلَكِ السَّدِيْدِ الْمُنْعِمِ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَهاَدَةِ التَّوْحِيْدِ بِحِراَسَةِ عَقاَئِدهمْ عَنْ ظُلُماَتِ التَّشْكِيْكِ وَالتَّرْدِيْدِ السَّالِكِ بِهِمْ إِلَى إِتْبَاعِ رَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى وَاِقْتِفاَءِ آثاَرِ صَحْبِهِ اْلأَكْرَمِيْنَ الْمُكْرَمِيْنَ بِالتَّأْيِيْدِ وَالتَّسْدِيْدِ الْمُتَجَلِّيْ لَهُمْ فِي ذاَتِهِ وَأَفْعاَلِهِ بِمَحَاسِنِ أَوْصاَفِهِ الَّتِيْ لاَ يُدْرِكُهاَ إِلاَّ مَنْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ الْمُعَرَّفُ إِياَّهُمْ أَنَّهُ فِي ذاَتِهِ واَحِدٌ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فَرْدٌ لاَ مَثِيْلَ لَهُ صَمَدٌ لاَ ضِدَّ لَهُ مُنْفَرِدٌ لاَ نِدَّ لَهُ وَأَنَّهُ وَاحِدٌ قَدِيْمٌ لاَ أَوَّلَ لَهُ أَزَلِيٌّ لاَ بِداَيَةَ لَهُ مُسْتَمِرُّ الْوُجُوْدِ لاَ آخِرَ لَهُ أَبَدِي لاَ نِهاَيَةَ لَهُ قَيُّوْمٌ لاَ انْقِطاَعَ لَهُ لَمْ يَزَلْ وَلاَ يَزاَلُ مَوْصُوْفاً بِنُعُوْتِ الْجَلاَلِ لاَ يُقْضَى عَلَيْهِ بِاْلاِنْقِضاَءِ وَاْلاِنْفِصاَلِ بِتَصَرُّمِ اْلآباَدِ وَانْقِراَضِ اْلآجاَلِ بَلْ "هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ".
Tulisan ini membahas mengenai keterangan aqidah Ahlus-Sunnah khususnya mengenai dua kalimat syahadat yang merupakan salah satu dari rukun Islam. Kami yang berkata dan semoga Allah memberi Taufiq 'segala puji bagi Allah yang memulai dan yang mengulang, yang selalu melakukan apa yang Dia kehendaki, Pemilk Arasy sangat agung dan pukulan yang sangat dahsyat, Pembimbing hamba-hamba pilihan ke arah yang tepat dan jalan yang benar, yang memberi nikmat mereka setelah mereka bersyahadat tauhid dengan menjaga kaidah-kaidah dari kegelapan-kegelapan yang meragukan dan membuat murtad, yang menggerakkan mereka agar mengikuti Rasul Al-Mushthafa (Pilihan) dan agar mengikuti langkah-langkah para sahabatnya yang lebih mulia yang dimuliakan dengan bukti mereka diperkuat dan diarahkan (oleh Allah) pada benar. Yang berusaha menampakkan diri pada mereka melalui Dzat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan cara memperindah sifat-sifat-Nya yang tak mungikin bisa ditangkap kecuali oleh orang yang أَلْقَى السَّمْعَ alqas-sam’a (istilah dalam Al-Qur’an Surat Qaf 37 yang arti lughat-nya meletakkan pendengaran, namun maksud-nya mempergunakan pendengarannya), namun ia bersaksi (bahwa Allah Esa). Yang mengenalkan pada mereka bahwa Dia Esa di dalam Dzat-Nya, tak memiliki sekutu. Tunggal, mutlak tak ada yang membandingi. Maha segala-gala-nya, tak ada yang menyamai-Nya. Sendirian, tak ada yang membandingi-Nya. Yang Esa lagi terdahulu, tidak ada yang mengawali-Nya. Yang Azali: telah dan akan selalu ada, selalu wujud takkan pernah berakhir, abadi yang tiada batas. Yang قَيُّوْمٌ Maha merumat yang tak putus, belum dan takkan berhenti dijelas-jelaskan bahwa sifat Dia Maha Agung. Dia takkan dihukumi atau dituntut oleh siapapun karena Dialah yang bisa memotong keabadian dan yang menghabisi ajal. Bahkan Dialah yang dalam Al-Qur’an ditulis “هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.” Yang artinya “Dialah yang Awal dan Akhir, dan Lahir, dan Bathin. Dan Dia Maha Tahu pada segala sesuatu’.”

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah Islam yang diamalkan oleh Rasulillah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabat dan umat Islam setelah mereka.
  • Ahlus-Sunnah artinya ahli menetapi sunnah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan sunnah para Khalifahnya yang rasyidiin. Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
    “أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    Aku wasiat pada kalian agar bertaqwa pada Allah, mendengar dan taat!. Meskipun pada hamba-sahaya dari Habasyi (yang menjadi pimpinan). Sungguh barang siapa dari kalian hidup setelahku, maka akan melihat per-selisihan yang banyak. Maka amalkanlah sunnahku dan sunnah para Khalifah Al-Mahdiyyiin (yang mendapat petunjuk dari Allah) Ar-Rasyidiin (yang benar). Pegang-teguh dan gigitlah dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah barunya perkara (tentang agama), sebab semua yang diperbaharui adalah bid’ah, dan semua bid’ah sesat.”
  • Wal-Jama’ah artinya dan juga ahli menetapi jamaah, sebagai mengamalkan perintah Allah:
    “وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ...
    Dan berpegang teguhlah pada tali Allah dengan berjama'ah, jangan berpecah belah...
    Al Quran surat Ali Imron 103
(1) Dia memiliki beberapa gelar:
  • Syaikh.
  • Imam.
  • Alim.
  • Allamah.
  • Chujjatul-Islam.
  • Yaitu orang yang menguasai kebanyakan sunnah atau Hadits, hanya sedikit yang tidak diketahui. Chafidl ialah orang yang menguasai 100. 000 Hadits. Sedangkan Chakim ialah orang yang menguasai 3.000 Hadits, ada yang menjelaskan Chakim ialah orang yang menguasai sunnah. Nama panjang beliau Zainuddin Abu Chamid Muhammad bin Muhammad. Beliau dilahirkan di daerah Thusi pada tahun 450 Hijriyyah, dan diwafatkan di sana pada hari Senin pagi tanggal 14 Jumadayil-Akhir tahun 505 Hijriyyah dalam umur 55 tahun. Pendahulu dia guru Imam Bukhari, Imam Nasa’i dan Imam Abu Dawud yang berasal dari kota tersebut مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِىُّ (Muhammad bin Manshur At-Thusi). Ada lagi guru besar pendahulu beliau yang bernama عَلِىُّ بْنُ مُسْلِمٍ الطُّوسِىُّ (Ali bin Muslim At-Thusi) yang dilahirkan pada tahun 160 Hijriyyah di kota yang sama yang juga guru Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i.
  • Barakatul-Anam. [Al-Bidayah wan-Nihayah juz 1 halaman 1].
(2) Berasal dari kata syarah yang artinya lebar atau lapang, namun maksudnya PEMBAHAS atau PENGULAS.
(3) Walau begitu Ibnu Hajar menganggap Kitab paling shahih setelah Al-Qur’an adalah Bukhari dan Muslim. Dia menulis:
أَوَّلُ مَنْ صَنَفَ فِي الصَّحِيْحِ الْبُخاَرِيُّ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْماَعِيْلَ وَتَلاَهُ أَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجاَّجِ الْقُشَيْرِيُّ وَمُسْلِمٌ مَعَ أَنَّهُ أَخَذَ عَنِ الْبُخاَرِيِّ وَاسْتَفاَدَ مِنْهُ فَإِنَّهُ يُشاَرِكُ الْبُخاَرِيَّ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ شُيُوْخِهِ وَكِتاَباَهُماَ أَصَحُّ الْكُتُبِ بَعْدَ كِتاَبِ اللهِ الْعَزِيْزِ وَأَماَّ ماَ رَوَيْناَهُ عَنِ الشاَّفِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قاَلَ مَا أَعْلَمُ فِي اْلأَرْضِ كِتاَباً فِي الْعِلْمِ أَكْثَرَ صَوَابًا مِنْ كِتَابِ ماَلِكٍ قاَلَ وَمِنْهُمْ مَنْ رَواَهُ بِغَيْرِ هَذاَ اللَّفْظِ يَعْنِيْ بِلَفْظِ أَصَحَّ مِنَ الْمُوَطَّأِ فَإِنَّماَ قاَلَ ذَلِكَ قَبْلَ وُجُوْدِ كِتاَبَيْ الْبُخاَرِيِّ وَمُسْلِمٍ ثُمَّ اِنَّ كِتاَبَ الْبُخاَرِيِّ أَصَحُّ الْكِتاَبَيْنِ صَحِيْحاً وَاَكْثَرُهُماَ فَواَئِدَ وَأَماَّ ماَ رَوَيْناَهُ عَنْ أَبِيْ عَلِى الْحاَفِظِ النَّيْساَبُوْرِيِّ أُسْتاَذِ اْلحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللهِ الْحاَفِظِ مِنْ أَنَّهُ قاَلَ ماَ تَحْتَ أَدِيْمِ الَّسمَاءِ كِتاَبٌ أَصَحُّ مِنْ كِتاَبِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجاَّجِ فَهَذاَ وَقَوْلُ مَنْ فَضَّلَ مِنْ شُيُوْخِ الْمَغْرِبِ كِتاَبَ مُسْلِمٍ عَلَى كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ إِنْ كَانَ اْلمُراَدُ بِهِ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ يَتَرَجَّحُ بِأَنَّهُ لَمْ يُماَزِجُهُ غَيْرُ الصَّحِيْحِفَإِنَّهُ لَيْسَ فِيْهِ بَعْدَ خُطْبَتِهِ اِلاَّ اْلحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ مَسْرُوْداً غَيْرَ مَمْزُوْجٍ بِمِثْلِ ماَ فِي كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ فِي تَرَاجِمِ أَبْواَبِهِ مِنَ اْلأَشْياَءِ الَّتِيْ لَمْ يُسْنِدْهاَ عَلَى الْوَصْفِ اْلمَشْرُوْطِ فِي الصَّحِيْحِ فَهَذاَ لاَ بَأْسَ بِهِ وَلَيْسَ يَلْزَمُ مِنْهُ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ أَرْجَحُ فِيْماَ يَرْجِعُ إِلَى نَفْسِ الصَّحِيْحِ عَلَى كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ وَإِنْ كاَنَ الْمُراَدُ بِهِ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ أَصَحُّ صَحِيْحاً فَهَذَا مَرْدُوْدٌ عَلَى مَنْ يَقُوْلُهُ وَاللهُ أَعْلَمُ
– Awalnya orang yang menyusun tentang Hadits shahih adalah Al-Bukhari yang nama panjangnya Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il. Abul-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi telah membaca kitab tersebut. Di-samping Muslim yang nama panjangnya Abul-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi tersebut telah berguru dan menerima faidah dari Bukhari, dia juga menyamai Bukhari di dalam memilih Syaikh-Syaiknya. Kitab mereka berdua adalah lebih shahihnya kitab setelah Kitab Allah yang mulia. Adapun yang kami riwayatkan dari Syafi’i رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ “Saya tidak mengetahui kitab di dalam bumi yang lebih banyak benarnya dari pada kitab Imam Maliki.” Sebagian ulama meriwayatkan dengan selain ini lafadl, yakni dengan lafadl “Saya (Syafi’i) tidak mengetahui kitab di dalam bumi yang lebih banyak benarnya dari pada kitab Al-Muwattha’.” Sungguh Imam Syafi’i mengatakan demikian itu karena belum ter-wujudnya dua kitab: Bukhari dan Muslim. Setelah itu kitab Bukhari-lah lebih shahihnya dan lebih banyaknya faidahnya dua kitab tersebut. Adapun yang kami riwayatkan dari Abi Ya’la Al-Hafidl An-Naisaburi, Ustadznya Al-Hakim yang panggilannya Abi Abdillah Al-Hafidl: “Di bawah langit tidak ada kitab yang lebih shahih dari pada kitabnya Muslim bin Hajjaj (kitab Muslim).” Perkataan ini dan perkataan para Syaikh dari Al-Maghribi yang menilai kitab Muslim lebih utama mengungguli kitab Bukhari, jika yang dimaksud:
“Kitab Muslim lebih berbobot karena tidak tercampur Hadits yang tidak shahih, setelah khuthbah muqaddimah Muslim tidak ada lagi Hadits kecuali shahih yang terus-menerus yang tidak keruh semisal yang di dalam Bukhari, di dalam menjelaskan bab-bab Bukhari terdapat riwayat-riwayat yang tidak diisnadkan dengan persyaratan shahih",
maka tidak apa-apa.
Namun dalam hal ini seharusnya dia tidak melazimkan bahwa kitab Muslim lebih ber-bobot mengungguli kitab Bukhari sepenuhnya. Kalau yang dimaksud “Kitab Muslim lebih shahih secara nyata,” jelas ditolak (kebenaran ucapan tersebut). Sementara Allah lebih tahu.
Kontributor: Al-Mukarrom Ustad KH. Shobirun Ahkam, pimpinan Pondok LDII Mulyo Abadi, Sleman, Yogyakarta.

Artikel Sejenis

  1. IMAM AL-GHAZALI, PENGIKUT AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH (BAGIAN 2)
  2. IMAM AL-GHAZALI, PENGIKUT AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH (bagian 3)
  3. Imam Al-Ghazali, Pengikut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (bagian 4)