وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

News

Kamis, 25 November 2010

Idul Kurban LDII PAC Desa Medaeng Kec.Waru Kab.Sidoarjo


Pembagian daging kurban kelompok pengajian LDII PAC Desa Medaeng Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo  kepada warga sekitar
Dalam konteks sejarah,dimana ummat Islam saat ini mnghadapi berbagi cobaan, seperti kemiskinan,bencana alam, makna pengorbanan dalam hari kurban amat luas dan mendalam.

Pengertian kurban bukan sekedar menyembelih binatang kurban dan dagingnya kemudian disodaqohkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis makna kurban meliputi aspek yang lebih luas. Dalam konteks keseharian kita,pengorbanan juga bisa dilihat dari pengorbanan seorang aghniya’(kaya) yang seyogyanya berusaha untuk mensejahterakan masyarakat lingkungannya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh LDII Kab.Sidoarjo yang terdiri dari 104 PAC (Tingkat desa). Salah satu PAC (pimpinan Anak Cabang) desa Medaeng,Kec. Waru, Kab.Sidoarjo telah memberikan sumbangsihnya kepada fakir miskin dan juga warga sekitar kelompok pengajian kurang lebih 1200 orang.

Adapun hewan kurban yang telah disembelih oleh PAC (Pimpinan Anak Cabang ) Desa Medaeng ,kec. Waru,Kab.Sidoarjo yang terdiri dari 3 kelompok pengajian sejumlah 21 ekor lembu dan 11 ekor kambing.

Hakekat idul kurban adalah menunjukkan kepada ummat manusia sampai seberapa mampu kesanggupan ummat manusia dalam menaati perintahnya Alloh SWT  termasuk sanggup untuk memberikan pengorbanan demi menegakkan perintah Alloh karena hidup adalah perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak akan ada pengorbanan tanpa kesusahan.

Justru kesediaan seseorang untuk melakukan pengorbanan termasuk uang satu rupiah,tenaga dan waktu, akan benar – benar menguji keimanan seseorang. Nah,Sudahkah kita menerapkan hakekat kurban tersebut dalam diri kita masing – masing?. Wallohu a’lam bisshawab.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Idul Kurban LDII PAC Desa Medaeng Kec.Waru Kab.Sidoarjo


Pembagian daging kurban kelompok pengajian LDII PAC Desa Medaeng Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo  kepada warga sekitar
Dalam konteks sejarah,dimana ummat Islam saat ini mnghadapi berbagi cobaan, seperti kemiskinan,bencana alam, makna pengorbanan dalam hari kurban amat luas dan mendalam.

Pengertian kurban bukan sekedar menyembelih binatang kurban dan dagingnya kemudian disodaqohkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis makna kurban meliputi aspek yang lebih luas. Dalam konteks keseharian kita,pengorbanan juga bisa dilihat dari pengorbanan seorang aghniya’(kaya) yang seyogyanya berusaha untuk mensejahterakan masyarakat lingkungannya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh LDII Kab.Sidoarjo yang terdiri dari 104 PAC (Tingkat desa). Salah satu PAC (pimpinan Anak Cabang) desa Medaeng,Kec. Waru, Kab.Sidoarjo telah memberikan sumbangsihnya kepada fakir miskin dan juga warga sekitar kelompok pengajian kurang lebih 1200 orang.

Adapun hewan kurban yang telah disembelih oleh PAC (Pimpinan Anak Cabang ) Desa Medaeng ,kec. Waru,Kab.Sidoarjo yang terdiri dari 3 kelompok pengajian sejumlah 21 ekor lembu dan 11 ekor kambing.

Hakekat idul kurban adalah menunjukkan kepada ummat manusia sampai seberapa mampu kesanggupan ummat manusia dalam menaati perintahnya Alloh SWT  termasuk sanggup untuk memberikan pengorbanan demi menegakkan perintah Alloh karena hidup adalah perjuangan dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak akan ada pengorbanan tanpa kesusahan.

Justru kesediaan seseorang untuk melakukan pengorbanan termasuk uang satu rupiah,tenaga dan waktu, akan benar – benar menguji keimanan seseorang. Nah,Sudahkah kita menerapkan hakekat kurban tersebut dalam diri kita masing – masing?. Wallohu a’lam bisshawab.