وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Senin, 16 Agustus 2010

Hukumnya Menjima’ Istri Saat Puasa Ramadhan

عَنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ أنَّ رَجُلًا وَقَعَ بِاِمْرَأَتِهِ فِيْ رَمَضَانَ فَسْتَفْتَى رَسُولُ اللهِ صلى اللهِ عليه وسلم فَقَالَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةُ قَالَ لَا قَالَ هَلْ تَسْتَطِيْعُ صِيَامَ شَهْرَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا* رواه البخارى في كتاب الحدود
Dari Abi Hurairah, sesungguhnya seorang laki-laki menjima' istrinya dalam puasa Ramadhan, maka minta pituah kepada Rasulullah SAW, maka Nabi bersabda,"Apakah engkau menjumpai seorang budak?, sang laki-laki menjawab,"Tidak". Nabi bersabda,"Apakah mampu engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?, sang laki-laki menjawab,"Tidak", Nabi bersabda,"Maka berilah makan enam puluh orang miskin".

Berdasarkan dalil tersebut para ulama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) berijtihad kepada para jamaah yang menjima' (berhubungan sex) suami istri saat berpuasa Ramadhan sebagai berikut;
  • Jamaah yang berhubungan sex suami istri saat puasa Ramadhan puasanya batal pada hari itu namun supaya tetap melanjutkan puasanya pada hari tersebut
  • Mereka dikenakan kafaroh berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau bila tidak mampu, memberi makan kepada 60 (enam puluh) orang fakir miskin
  • Mereka wajib mengganti / membayar puasanya di hari lain di luar Ramadhan

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Hukumnya Menjima’ Istri Saat Puasa Ramadhan

عَنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ أنَّ رَجُلًا وَقَعَ بِاِمْرَأَتِهِ فِيْ رَمَضَانَ فَسْتَفْتَى رَسُولُ اللهِ صلى اللهِ عليه وسلم فَقَالَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةُ قَالَ لَا قَالَ هَلْ تَسْتَطِيْعُ صِيَامَ شَهْرَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا* رواه البخارى في كتاب الحدود
Dari Abi Hurairah, sesungguhnya seorang laki-laki menjima' istrinya dalam puasa Ramadhan, maka minta pituah kepada Rasulullah SAW, maka Nabi bersabda,"Apakah engkau menjumpai seorang budak?, sang laki-laki menjawab,"Tidak". Nabi bersabda,"Apakah mampu engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?, sang laki-laki menjawab,"Tidak", Nabi bersabda,"Maka berilah makan enam puluh orang miskin".

Berdasarkan dalil tersebut para ulama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) berijtihad kepada para jamaah yang menjima' (berhubungan sex) suami istri saat berpuasa Ramadhan sebagai berikut;
  • Jamaah yang berhubungan sex suami istri saat puasa Ramadhan puasanya batal pada hari itu namun supaya tetap melanjutkan puasanya pada hari tersebut
  • Mereka dikenakan kafaroh berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau bila tidak mampu, memberi makan kepada 60 (enam puluh) orang fakir miskin
  • Mereka wajib mengganti / membayar puasanya di hari lain di luar Ramadhan