وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ* القران سورة آل عمران ١٠٤
“Dan jadilah kamu sekalian bagian dari umat yang menyerukan kebajikan dan mengajak yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung [Quran Surat Ali Imron, ayat 104]

Instagram

Rabu, 05 Mei 2010

Kisah Bilqis Ratu Sabak

LDII - Ada sebuah hikayat yang dituturkan oleh Ibnul-Atsir mengenai perceraian bapak dan ibu Bilqis Ratu Sabak sebagai contoh bahwa sebaiknya jangan su’udz-dzan :
قال كثير من الرواة: إنّ أمّها جنّيّة ابنة ملك الجنّ واسمها رواحة بنت السكر، وقيل: اسم أمّها يلقمة بنت عمرو بن عمير الجنّيّ، وإنّما نكح أبوها إلى الجنّ لأنّه قال: ليس في الإنس لي كفوة، فخطب إلى الجنّ فزوّجوه واختلفوا في سبب وصوله إلى الجنّ حتى خطب إليهم فقيل: إنّه كان لهجاً بالصيد، فربّما اصطاد الجنّ على صور الظباء فيخلّي عنهنّ، فظهر له ملك الجنّ وشكره
علي ذلك واتخذه صديقاً، فخطب ابنته فأنكحه على أن يعطيه ساحل البحر ما بين يبرين إلى عدن؛ وقيل: إنّ أباها خرج يوماً متصيّداً فرأي حديتين تقتتلان بيضاء وسوداء وقد ظهرت السوداء علي البيضاء فزمر بقتل السوداء وحمل البيضاء وصبّ عليها ماء، فأفاقت، فأطلقها وعاد إلى داره وجلس منفرداً، وإذا معه شابّ جميل، فذعر منه، فقال له: لا تخف أنا الحيّة التي أنجيتني، والأسود الذي قتلته غلامٌ لنا تمرّد علينا وقتل عدّة من أهل بيتي؛ وعرض عليه المال وعلم الطبّ، فقال: أمّا المال فلا حاجة لي به، وأمّا الطبّ فهو قبيح بالملك، ولكن إن كان لك بنت فزوّجنيها، فزوّجه على شرط أن لا يغيّر عليها شيئاً تعمله ومتى غيّر عليها فارقته، فأجابه إلى ذلك، فحملت منه فولدت له غلاماً فألقته في النّار، فجزع لذلك وسكت للشرط، ثمّ حملت منه فولدت جارية فألقتها إلى كلبة فأخذتها، فعظم ذلك عليه وصبر للشرط، ثمّ إنّه عصي عليه بعضُ أصحابه فجمع عسكره فسار إليه ليقاتله وهي معه، فانتهى إلي مفازة، فلمّا توسّطها رأى جميع ما معهم من الزاد يخلط بالتراب، وإذا الماء يُصبّ من القرب والمزاود، فأيقنوا بالهلاك وعلموا أنّه من فعال الجنّ عن أمر زوجته، فضاق ذرعاً عن حمل ذلك، فأتاها وجلس وأومأ إلى الأرض وقال: يا أرض صبرتُ لكِ على إحراق ابني وإطعام الكلبة إبنتي ثمّ أنتِ الآن قد فجعتنا بالزاد والماء وقد أشرفنا على الهلاك فقالت المرأة: لو صبرت لكان خيراً لك، وسأخبرك: إنّ عدوّك خدع وزيرك فجعل السمّ في الأزواد والمياه ليقتلك وأصحابك، فمر وزيرك ليشرب ما بقي من الماء ويأكل من الزاد، فأمره فامتنع، فقتله، ودلّتهم على الماء والميرة من قريب وقالت: أما ابنك فدفعته إلى حاضنة تربيّه وقد مات، وأمّا ابنتك فهي باقية، وإذا بجويرية قد خرجت من الأرض، وهي بلقيس، وفارقته امرأته وسار إلى عدوّ فظفر به
– Kebanyakan perowi menjelaskan, "Ibu Bilqis adalah wanita jin bernama Rawachach bintus-Sakar, putri raja jin."
"Nama ibu Bilqis Yalqamah bintu 'Amer bin 'Umair (jin)," kata perowi yang lain. Yang menyebabkan bapak Bilqis menikahi (ibu Bilqis) jin wanita, karena ia merasa sangat kuat. Ia pernah berkata, "Tidak ada manusia yang mampu mengimbangi kekuatanku." Dari itulah maka ia melamar wanita jin., dan keluarga jin wanita tersebut menerima lamarannya, hingga akhirnya mereka menerima lelaki tersebut sebagai menantu mereka. Para perowi berselisih pendapat mengenai penyebab dari bapak Bilqis bisa berkenalan dengan jin wanita, hingga akhirnya melamar dan menikahinya (akhirnya menjadi istrinya):
  1. Ada yang meriwayatkan, "Konon dia terkadang menggerak-gerakkan bibirnya pada binatang buruannya. Sering kali ia membebaskan buruannya berupa kijang-kijang yang sebetulnya adalah jin. Dari itulah seorang raja jin pernah muncul menemui dia untuk mengucapkan syukur (terima kasih), dan untuk mengangkat dia sebagai sahabat karib. Berawal dari situ akhirnya bapak Bilqis melamar anak perempuan raja jin tersebut. Raja jin menerima lamaran lelaki itu untuk dinikahkan dengan anak perempuannya dengan syarat; lelaki itu menyerahkan daerah pesisir, mulai dari Yabrin hingga 'Adan.
  2. Ada juga yang meriwayatkan, "Suatu hari bapak Bilqis keluar rumah untuk berburu. Tiba-tiba ia melihat dua ular; putih dan hitam, bertarung. Yang hitam hampir saja memenangkan pertarungan tersebut. Ia berjongkok untuk membunuh ular hitam. Selanjutnya ia membawa ular putih untuk diguyur air. Setelah ular putih sadar dari pingsan dan sembuh, dilepaskan. Selanjutnya ia pulang kerumahnya.

    Sang raja di istananya duduk sendirian ketika tiba-tiba ada seorang lelaki muda tampan muncul di sisinya. Keterkejutan dan ketakutannya hilang saat lelaki muda tampan itu berkata, "Jangan takut!. Sayalah ular putih yang telah kau selamatkan. Ular hitam yang telah kau bunuh itu adalah budakku yang jahat. Ia telah membunuh sejumlah keluargaku." Ular putih yang telah menjelma lelaki tampan menawarkan imbalan berupa harta kekayaan, dan akan mengajar cara mengobati penyakit. "Terus terang saya tidak membutuhkan harta kekayaan. Sementara ilmu obat-obatan tidak layak bagi raja sepertiku. Kalau engkau punya anak gadis, nikahkanlah ia denganku!," katanya. Lelaki tampan jelmaan ular menuruti permintaan raja, menikahkan dengan anak gadisnya, dengan syarat tidak boleh marah jika istrinya nanti melakukan apa saja. Jika sampai marah maka harus cerai. Raja yang suka memburu itu menyetujui persyaratan tersebut. Akhirnya ia benar-benar menikah dengan anak gadis ular tersebut.

    Raja terkejut oleh ulah istrinya: memasukkan anak laki-lakinya yang masih bayi di dalam api. Sebetulnya ia marah besar pada istrinya. Tetapi ia diam karena teringat syarat yang pernah ia janjikan. Hamil yang kedua melahirkan bayi perempuan. Raja terkejut lagi oleh ulah istrinya: memberikan bayi perempuan tersebut pada anjing. Bayi perempuan digigit dan dibawa pergi anjing. Tentu saja hal itu membuat raja bertambah marah pada istri. Tetapi ia menahan diri karena teringat persyaratan yang pernah ia ucapkan.

    Suatu hari seorang bawahan raja bersama sejumlah pasukan mengadakan perlawanan pada raja. Sehingga raja terpaksa harus mengumpulkan pasukan untuk memerangi dia. Saat itu raja didampingi istrinya. Saat raja telah sampai pada pertengahan tanah lapang yang luas; tiba-tiba ia melihat seluruh perbekalan pasukannya telah bercampur tanah. Dan seluruh persediaan air di dalam greba besar maupun kecil telah ditumpahkan hingga habis. Semua pasukan yakin bahwa mereka pasti akan segera kelaparan atau akan mati kelaparan. Mereka menyadari bahwa itu pasti ulah jin-jin atas perintah istri raja mereka. Raja semakin benci pada istrinya, namun tidak bisa berbuat banyak, karena ingat persyaratan yang pernah ia janjikan.

    Sejenak kemudian raja mendatangi istrinya, kemudian ia isarah pada bumi. Ia berkata, "Hai bumi (maksud sebetulnya 'hai istriku)'. Saya telah bersabar karena cinta kau; saat bayi laki-lakiku dibakar dan saat bayi perempuanku diberikan pada anjing. Namun kenapa tiba-tiba kau tega mengotori perbekalan pasukanku dengan debu dan air?. Padahal kami hampir saja mati kelaparan dan kehausan?." Istri berkata, "Kalau kau bersabar niscaya lebih baik untukmu dan untuk pasukanmu. Saya akan menjelaskan padamu agar tidak salah paham. Musuh yang kau perangi telah berhasil merayu wakilmu yang memberontakmu, hingga wakilmu meracuni seluruh makanan dan persediaan air minum, agar kau dan pasukanmu mati semuanya. Kalau kau tidak percaya, perintahlah wakilmu agar minum sisa air dan makanan yang ada!." Setelah raja perintah wakilnya agar minum sisa air dan sisa makanan yang ada; ternyata tidak mau. Raja pun membunuh wakilnya yang telah berkhianat. Wanita itu menunjukkan air dan tanah yang mengotori makanan pasukan yang telah diracuni dari dekat.

    "Sebetulnya bayi laki-lakimu dulu itu justru telah kuserahkan pada pengasuhnya (jin berbentuk api). Kini ia telah meninggal dunia. Sedangkan bayi perempuanmu yang kuberikan pada anjing pengasuhnya itu hingga kini masih hidup," kata istri raja. Tiba-tiba muncul wanita remaja dari dalam tanah. Dialah Bilqis yang di masa bayinya diasuh (jin berupa) anjing. Tak lama kemudian ibu Bilqis minta cerai dari raja karena telah dimarahi. Raja menyerang dan mengalahkan bawahannya yang telah membelot dan memberontak. [Al-Kamil fit-Tarikh 1/76].

    Ibnu Katsir menulis:
    "قلت: بل هو منكر غريب جدًا، ولعله من أوهام عطاء بن السائب على ابن عباس، والله أعلم والأقرب في مثل هذه السياقات أنها متلقاة عن أهل الكتاب، مما يوجد في صحفهم، كروايات كعب ووهب -سامحهما الله تعالى -فيما نقلاه إلى هذه الأمة من أخبار بني إسرائيل، من الأوابد والغرائب والعجائب، مما كان وما لم يكن، ومما حرف وبدل ونسخ. وقد أغنانا الله، سبحانه، عن ذلك بما هو أصح منه وأنفع وأوضح وأبلغ، ولله الحمد والمنة –
    Saya berkata, 'bahkan Hadits ini sangat mungkar sekali. Barangkali ini termasuk riwayat-riwayat 'Atho' yang wahmun (meragukan kebenarannya) dari Ibnu 'Abbas. Wallaahu a'lam. Yang mendekati benar dalam mengomentari ini bahwa riwayat semacam ini berasal dari Ahli Kitab, asalnya memang dari Kitab mereka. Ini mirip dengan riwayat-riwayat Ka'eb dan Waheb. Sayang sekali jika orang sehebat mereka berdua menyampaikan riwayat dari Bani Isra'il pada ini ummat. Riwayat-riwayat tersebut liar, asing dan aneh. Semoga Allah menghapus riwayat mereka berdua. Riwayat itu tentu telah dirubah diganti dan disalin. Sebetulnya Allah Subchanah telah memberi kita kisah yang lebih shahih lebih jelas dan lebih detail: yaitu Al-Qur'an. Dan segala puji dan anugrah hanyalah milik Allah." [Ibnu Katsir 6/197].

    Bisa jadi Ibnu Katsir mengkritik riwayat ini karena dia intelek. Apa mungkin seorang berhubungan badan dengan jin bisa menurunkan keturunan?, padahal alam dan kromosomnya berbeda. Di sini penulis hanya menjelaskan bahwa gara-gara bapak Bilqis su’udz-dzan pada ibunya maka berakibat perceraian. Dan hal demikian itu banyak terjadi di sekeliling kita. Yakni bahwa su’udz-dzan bisa merusak kebaikan yang seharusnya abadi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih anda sudi memberikan masukan. Kami berharap komentar anda relevan dengan topik artikel ini. Komentar anda akan muncul setelah proses moderasi. Alhamdulillah jazakumullohu khoiron.

Kisah Bilqis Ratu Sabak

LDII - Ada sebuah hikayat yang dituturkan oleh Ibnul-Atsir mengenai perceraian bapak dan ibu Bilqis Ratu Sabak sebagai contoh bahwa sebaiknya jangan su’udz-dzan :
قال كثير من الرواة: إنّ أمّها جنّيّة ابنة ملك الجنّ واسمها رواحة بنت السكر، وقيل: اسم أمّها يلقمة بنت عمرو بن عمير الجنّيّ، وإنّما نكح أبوها إلى الجنّ لأنّه قال: ليس في الإنس لي كفوة، فخطب إلى الجنّ فزوّجوه واختلفوا في سبب وصوله إلى الجنّ حتى خطب إليهم فقيل: إنّه كان لهجاً بالصيد، فربّما اصطاد الجنّ على صور الظباء فيخلّي عنهنّ، فظهر له ملك الجنّ وشكره
علي ذلك واتخذه صديقاً، فخطب ابنته فأنكحه على أن يعطيه ساحل البحر ما بين يبرين إلى عدن؛ وقيل: إنّ أباها خرج يوماً متصيّداً فرأي حديتين تقتتلان بيضاء وسوداء وقد ظهرت السوداء علي البيضاء فزمر بقتل السوداء وحمل البيضاء وصبّ عليها ماء، فأفاقت، فأطلقها وعاد إلى داره وجلس منفرداً، وإذا معه شابّ جميل، فذعر منه، فقال له: لا تخف أنا الحيّة التي أنجيتني، والأسود الذي قتلته غلامٌ لنا تمرّد علينا وقتل عدّة من أهل بيتي؛ وعرض عليه المال وعلم الطبّ، فقال: أمّا المال فلا حاجة لي به، وأمّا الطبّ فهو قبيح بالملك، ولكن إن كان لك بنت فزوّجنيها، فزوّجه على شرط أن لا يغيّر عليها شيئاً تعمله ومتى غيّر عليها فارقته، فأجابه إلى ذلك، فحملت منه فولدت له غلاماً فألقته في النّار، فجزع لذلك وسكت للشرط، ثمّ حملت منه فولدت جارية فألقتها إلى كلبة فأخذتها، فعظم ذلك عليه وصبر للشرط، ثمّ إنّه عصي عليه بعضُ أصحابه فجمع عسكره فسار إليه ليقاتله وهي معه، فانتهى إلي مفازة، فلمّا توسّطها رأى جميع ما معهم من الزاد يخلط بالتراب، وإذا الماء يُصبّ من القرب والمزاود، فأيقنوا بالهلاك وعلموا أنّه من فعال الجنّ عن أمر زوجته، فضاق ذرعاً عن حمل ذلك، فأتاها وجلس وأومأ إلى الأرض وقال: يا أرض صبرتُ لكِ على إحراق ابني وإطعام الكلبة إبنتي ثمّ أنتِ الآن قد فجعتنا بالزاد والماء وقد أشرفنا على الهلاك فقالت المرأة: لو صبرت لكان خيراً لك، وسأخبرك: إنّ عدوّك خدع وزيرك فجعل السمّ في الأزواد والمياه ليقتلك وأصحابك، فمر وزيرك ليشرب ما بقي من الماء ويأكل من الزاد، فأمره فامتنع، فقتله، ودلّتهم على الماء والميرة من قريب وقالت: أما ابنك فدفعته إلى حاضنة تربيّه وقد مات، وأمّا ابنتك فهي باقية، وإذا بجويرية قد خرجت من الأرض، وهي بلقيس، وفارقته امرأته وسار إلى عدوّ فظفر به
– Kebanyakan perowi menjelaskan, "Ibu Bilqis adalah wanita jin bernama Rawachach bintus-Sakar, putri raja jin."
"Nama ibu Bilqis Yalqamah bintu 'Amer bin 'Umair (jin)," kata perowi yang lain. Yang menyebabkan bapak Bilqis menikahi (ibu Bilqis) jin wanita, karena ia merasa sangat kuat. Ia pernah berkata, "Tidak ada manusia yang mampu mengimbangi kekuatanku." Dari itulah maka ia melamar wanita jin., dan keluarga jin wanita tersebut menerima lamarannya, hingga akhirnya mereka menerima lelaki tersebut sebagai menantu mereka. Para perowi berselisih pendapat mengenai penyebab dari bapak Bilqis bisa berkenalan dengan jin wanita, hingga akhirnya melamar dan menikahinya (akhirnya menjadi istrinya):
  1. Ada yang meriwayatkan, "Konon dia terkadang menggerak-gerakkan bibirnya pada binatang buruannya. Sering kali ia membebaskan buruannya berupa kijang-kijang yang sebetulnya adalah jin. Dari itulah seorang raja jin pernah muncul menemui dia untuk mengucapkan syukur (terima kasih), dan untuk mengangkat dia sebagai sahabat karib. Berawal dari situ akhirnya bapak Bilqis melamar anak perempuan raja jin tersebut. Raja jin menerima lamaran lelaki itu untuk dinikahkan dengan anak perempuannya dengan syarat; lelaki itu menyerahkan daerah pesisir, mulai dari Yabrin hingga 'Adan.
  2. Ada juga yang meriwayatkan, "Suatu hari bapak Bilqis keluar rumah untuk berburu. Tiba-tiba ia melihat dua ular; putih dan hitam, bertarung. Yang hitam hampir saja memenangkan pertarungan tersebut. Ia berjongkok untuk membunuh ular hitam. Selanjutnya ia membawa ular putih untuk diguyur air. Setelah ular putih sadar dari pingsan dan sembuh, dilepaskan. Selanjutnya ia pulang kerumahnya.

    Sang raja di istananya duduk sendirian ketika tiba-tiba ada seorang lelaki muda tampan muncul di sisinya. Keterkejutan dan ketakutannya hilang saat lelaki muda tampan itu berkata, "Jangan takut!. Sayalah ular putih yang telah kau selamatkan. Ular hitam yang telah kau bunuh itu adalah budakku yang jahat. Ia telah membunuh sejumlah keluargaku." Ular putih yang telah menjelma lelaki tampan menawarkan imbalan berupa harta kekayaan, dan akan mengajar cara mengobati penyakit. "Terus terang saya tidak membutuhkan harta kekayaan. Sementara ilmu obat-obatan tidak layak bagi raja sepertiku. Kalau engkau punya anak gadis, nikahkanlah ia denganku!," katanya. Lelaki tampan jelmaan ular menuruti permintaan raja, menikahkan dengan anak gadisnya, dengan syarat tidak boleh marah jika istrinya nanti melakukan apa saja. Jika sampai marah maka harus cerai. Raja yang suka memburu itu menyetujui persyaratan tersebut. Akhirnya ia benar-benar menikah dengan anak gadis ular tersebut.

    Raja terkejut oleh ulah istrinya: memasukkan anak laki-lakinya yang masih bayi di dalam api. Sebetulnya ia marah besar pada istrinya. Tetapi ia diam karena teringat syarat yang pernah ia janjikan. Hamil yang kedua melahirkan bayi perempuan. Raja terkejut lagi oleh ulah istrinya: memberikan bayi perempuan tersebut pada anjing. Bayi perempuan digigit dan dibawa pergi anjing. Tentu saja hal itu membuat raja bertambah marah pada istri. Tetapi ia menahan diri karena teringat persyaratan yang pernah ia ucapkan.

    Suatu hari seorang bawahan raja bersama sejumlah pasukan mengadakan perlawanan pada raja. Sehingga raja terpaksa harus mengumpulkan pasukan untuk memerangi dia. Saat itu raja didampingi istrinya. Saat raja telah sampai pada pertengahan tanah lapang yang luas; tiba-tiba ia melihat seluruh perbekalan pasukannya telah bercampur tanah. Dan seluruh persediaan air di dalam greba besar maupun kecil telah ditumpahkan hingga habis. Semua pasukan yakin bahwa mereka pasti akan segera kelaparan atau akan mati kelaparan. Mereka menyadari bahwa itu pasti ulah jin-jin atas perintah istri raja mereka. Raja semakin benci pada istrinya, namun tidak bisa berbuat banyak, karena ingat persyaratan yang pernah ia janjikan.

    Sejenak kemudian raja mendatangi istrinya, kemudian ia isarah pada bumi. Ia berkata, "Hai bumi (maksud sebetulnya 'hai istriku)'. Saya telah bersabar karena cinta kau; saat bayi laki-lakiku dibakar dan saat bayi perempuanku diberikan pada anjing. Namun kenapa tiba-tiba kau tega mengotori perbekalan pasukanku dengan debu dan air?. Padahal kami hampir saja mati kelaparan dan kehausan?." Istri berkata, "Kalau kau bersabar niscaya lebih baik untukmu dan untuk pasukanmu. Saya akan menjelaskan padamu agar tidak salah paham. Musuh yang kau perangi telah berhasil merayu wakilmu yang memberontakmu, hingga wakilmu meracuni seluruh makanan dan persediaan air minum, agar kau dan pasukanmu mati semuanya. Kalau kau tidak percaya, perintahlah wakilmu agar minum sisa air dan makanan yang ada!." Setelah raja perintah wakilnya agar minum sisa air dan sisa makanan yang ada; ternyata tidak mau. Raja pun membunuh wakilnya yang telah berkhianat. Wanita itu menunjukkan air dan tanah yang mengotori makanan pasukan yang telah diracuni dari dekat.

    "Sebetulnya bayi laki-lakimu dulu itu justru telah kuserahkan pada pengasuhnya (jin berbentuk api). Kini ia telah meninggal dunia. Sedangkan bayi perempuanmu yang kuberikan pada anjing pengasuhnya itu hingga kini masih hidup," kata istri raja. Tiba-tiba muncul wanita remaja dari dalam tanah. Dialah Bilqis yang di masa bayinya diasuh (jin berupa) anjing. Tak lama kemudian ibu Bilqis minta cerai dari raja karena telah dimarahi. Raja menyerang dan mengalahkan bawahannya yang telah membelot dan memberontak. [Al-Kamil fit-Tarikh 1/76].

    Ibnu Katsir menulis:
    "قلت: بل هو منكر غريب جدًا، ولعله من أوهام عطاء بن السائب على ابن عباس، والله أعلم والأقرب في مثل هذه السياقات أنها متلقاة عن أهل الكتاب، مما يوجد في صحفهم، كروايات كعب ووهب -سامحهما الله تعالى -فيما نقلاه إلى هذه الأمة من أخبار بني إسرائيل، من الأوابد والغرائب والعجائب، مما كان وما لم يكن، ومما حرف وبدل ونسخ. وقد أغنانا الله، سبحانه، عن ذلك بما هو أصح منه وأنفع وأوضح وأبلغ، ولله الحمد والمنة –
    Saya berkata, 'bahkan Hadits ini sangat mungkar sekali. Barangkali ini termasuk riwayat-riwayat 'Atho' yang wahmun (meragukan kebenarannya) dari Ibnu 'Abbas. Wallaahu a'lam. Yang mendekati benar dalam mengomentari ini bahwa riwayat semacam ini berasal dari Ahli Kitab, asalnya memang dari Kitab mereka. Ini mirip dengan riwayat-riwayat Ka'eb dan Waheb. Sayang sekali jika orang sehebat mereka berdua menyampaikan riwayat dari Bani Isra'il pada ini ummat. Riwayat-riwayat tersebut liar, asing dan aneh. Semoga Allah menghapus riwayat mereka berdua. Riwayat itu tentu telah dirubah diganti dan disalin. Sebetulnya Allah Subchanah telah memberi kita kisah yang lebih shahih lebih jelas dan lebih detail: yaitu Al-Qur'an. Dan segala puji dan anugrah hanyalah milik Allah." [Ibnu Katsir 6/197].

    Bisa jadi Ibnu Katsir mengkritik riwayat ini karena dia intelek. Apa mungkin seorang berhubungan badan dengan jin bisa menurunkan keturunan?, padahal alam dan kromosomnya berbeda. Di sini penulis hanya menjelaskan bahwa gara-gara bapak Bilqis su’udz-dzan pada ibunya maka berakibat perceraian. Dan hal demikian itu banyak terjadi di sekeliling kita. Yakni bahwa su’udz-dzan bisa merusak kebaikan yang seharusnya abadi.